11 September 2017 | Edukasia

Upaya Memadukan Tradisi dan Nilai Akademi

  • Karnaval Sarung di Unwahas

SEMARANG- Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) menyelenggarakan kegiatan karnaval kain sarung berkenaan dengan penutupan rangkaian kegiatan KKN 2017,di Kampus Menoreh, kemarin. Menurut Rektor Unwahas Prof Dr Mahmutarom, acara ini bagian dari usaha memadukan napas akademik dan nilai-nilai tradisi. ‘’Memakai kaum sarung adalah tradisi masyarakat Indonesia.

Utamanya juga kebiasaan masyarakat Islam ketika akan beribadah. Nuansa ini ketika digabungkan dengan napas akademik menjadi tanda kampus ini tidak ingin sekadar mencetak ilmuan, namun juga sarjana yang memiliki akhlak terpuji,’’ tuturnya di sela-sela melepas peserta karnaval kampus.

Kalangan NU Acara itu juga mengundang Ketua Yayasan Wahid Hasyim Suwanto yang berkesempatan mengibarkan bendera start. Lebih dari itu 1.500 orang dosen, mahasiswa, dan karyawan ikut berpartisipasi memeriahkan forum ini. Mereka secara mandiri membawa kain sarung dari rumah untuk kemudian dipakai melengkapi busana kasual seperti celana jin dan kaus seragam dari universitas.

Mahmutarom menambahkan tradisi memakai sarung juga dikenal luas di kalangan Nahdatul Ulama (NU). Momentum ini seperti menegaskan kaum NU tidak semata lekat dengan tradisi memakai sarung.

Namun mereka juga hidup dalam dunia modern dengan melaksanakan riset dan penyebarluasan ilmu pengetahuan. ‘’Sebagaimana diketahui banyak sekali cendekiawan NU yang juga bisa meraih gelar doktor bahkan profesor. Akan tetapi tradisi tetap dijunjung tinggi, sedangkan memperdalam ilmu pengetahuan tak boleh dikesampingkan,’’ tutur guru besar ilmu hukum pidana ini.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unwahas Ifada RS menambahkan, selain karnaval, forum ini sarat aktivitas akademik. Sebab, di dalamnya menyajikan banyak hasil aktivitas pengabdian masyarakat selama berada di lokasi KKN.

‘’Kami sekaligus menggelar pameran untuk banyak kegiatan yang dihasilkan Tim KKN. Terdapat hasil olahan bahan pangan, kreasi barang, dan masih banyak produk lainnya wujud pelaksanaan sebulan mengadakan kegiatan bakti masyarakat,’’ jelasnya.(H41-42)