Doa Petani di Hutan Muria

Kembangkan Agrowisata Kebun Kopi

SM/Prayitno : DOA SYUKUR: Beberapa petani kopi di lereng Gunung Muria memanjatkan doa syukur di kawasan hutan yang berdampingan dengan areal perkebunan kopi rakyat.(24)
SM/Prayitno : DOA SYUKUR: Beberapa petani kopi di lereng Gunung Muria memanjatkan doa syukur di kawasan hutan yang berdampingan dengan areal perkebunan kopi rakyat.(24)

Peluang pengembangan agrowisata kebun kopi rakyat di lereng Gunung Muria, Kabupaten Kudus yang semakin besar, membuat petani di Desa Colo dan Japan, Kecamatan Dawe bersuka cita. Mereka pun menggelar doa syukur bersama di areal perkebunan.

SATU ingkung ayam serta jadah (jajan) pasar diusung dari perkampungan Colo ke dataran tinggi. Sajian untuk doa syukur itu dibawa melewati jalan yang hanya bisa dilalui dengan kendaraan roda dua atau berjalan. Tidak ketinggalan, kopi panas disediakan oleh para petani. Setidaknya, para petani yang telah mengolah kopinya pemerintah mengonsumsi kopi dari Gunung Muria. Instruksi itu ditindaklanjuti dengan surat edaran dari Pemkab tentang promosi kopi dari Gunung Muria ke semua organisasi pemerintah di lingkungan Setda Kudus serta instansi vertikal. Petani langsung menyambut respons tersebut dengan menawarkan produknya ke kantor-kantor pemerintah serta koperasi. Dari Colo dan Japan, kini sudah ada 18 jenis kopi kemasan. Belum dari Desa Ternadi (Dawe) serta Menawan dan Rahtawu, Kecamatan Gebog.

Belum lama ini, mereka mengolah kopi hingga siap saji. Tentu ini perkembangan positif. Sebab sebelumnya, mereka hanya menjual hasil kebunnya dalam bentuk biji kopi mentah. Bahkan, tak jarang menjualnya secara ijon. Tak mudah mengusung peralatan dan bahan makanan ke

wilayah di ketinggian 900 meter dpl di utara kompleks Makam Sunan Muria Raden Umar Said. Pujiharto, salah satu penyelenggara, sengaja memasak ikan gurame berkuah di hutan. Bulan lalu, Pujiharto telah melakukan hal yang tak jauh berbeda. Bersama sejumlah orang yang tergabung dalam komunitas chef Kudus, dia juga memasak di areal hutan tersebut. Sementara, tim dari Java Legend Laboratorium & Education Coffee yang memberikan pelatihan gratis bagi petani kopi di Colo dan Japan, mendemonstrasikan cara menyeduh kopi.

Atraksi Wisata

”Untuk paket wisata di kebun kopi, kami siap menampilkan atraksi memasak di kebun dengan bumbu pelengkap cabai serta tomat yang juga ditanam di sela-sela tanaman kopi,” tutur Pujiharto, yang telah membuka kedai kopi di Terminal Wisata Colo. Setelah doa bersama yang dipandu dua petani, yakni Zainuri dan Widiyanto, mereka pun makan bersama. Kompak dengan suasana alam, karena nasinya dibungkus dengan daun nyangkong (sejenis palem) yang tumbuh liar di kawasan hutan.

Makan bersama itu dihadiri Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelola Objek Wisata Disbudpar Kudus Mutrikah. Mutrikah berharap, petani kopi menjaga kekompokan dalam mengelola kebun, mengolah, serta dalam memasarkan produknya. ”Hendaknya peluang yang bagus ini jangan disia-siakan. Jangan lupa terus belajar untuk mengolah kopi menjadi lebih baik lagi,” tuturnya. Dengan mengelola kebun serta mengolah kopi pascapanen secara baik dan benar, tentu daya tarik agrowisata di lereng Gunung Muria menjadi semakin kuat. ”Agrowisata kebun kopi tak bisa berdiri sendiri di luar wisata religi. Bisa dibuat menjadi satu paket wisata dengan wisata ziarah makam Sunan Muria serta makam Syech Sadzjali di Rejenu, Japan,” ujarnya. (Prayitno-41)


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar