image

BAKAL CALEG PEREMPUAN: Gubernur Ganjar Pranowo memberikan motivasi dan strategi pada acara pelatihan peningkatan kapasitas politik bagi perempuan bakal calon legislatif Pileg 2019 di The Royal Surakarta Heritage, Rabu (13/9). (suaramerdeka.com/Hanung Soekendro)

14 September 2017 | 02:31 WIB | Solo Metro

Jumlah Legislator Perempuan Rendah, Gubernur Dorong Pakai Sistem Tertutup

SOLO, suaramerdeka.com - Tingkat partisipasi perempuan yang duduk di kursi legislatif di 35 DPRD kabupaten/kota dan DPRD Jateng masih di bawah 30%. Persentase keterwakilanya pun masih jauh dibanding dengan target minimal yang telah ditetapkan dalam undang-undang.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Jateng, Sri Kusuma Astuti mengatakan, tingkat partisipasi perempuan di DPRD Jateng hasil pemilihan legislatif (Pileg) 2014 baru mencapai 24?ri jumlah 100 kursi. Sementara di 35 kabupaten/kota di Jateng, jika di rata-rata baru mencapai 17,4%. Rendahnya keterwakilan perempuan di parlemen berdampak pada rendahnya aspirasi yang tersampaikan.

"Keterwakilan harus bisa ditingkatkan. Keberadaan perempuan di parlemen dapat meningkatkan kesejahteraan perempuan. Mereka yang duduk di legislatif bisa mengawal aspirasi dan memperjuangkanya,'' kata Kusuma pada acara pelatihan peningkatan kapasitas politik bagi perempuan bakal calon legislatif Pileg 2019 di The Royal Surakarta Heritage, Rabu (13/9).

Pada acara yang diikuti 50-an bakal Caleg perempuan dari berbagai parpol itu turut dihadiri Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Politik Hukum dan Pertahanan Keamanan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Darsono, dan Gubernur Ganjar Pranowo.

Kusuma menambahkan perempuan dituntut tak hanya cakap mengurus rumah tangga namun harus melek politik. Alasanya, jumlah penduduk Indonesia sebagian besar perempuan dan mereka memiliki aspirasi tersendiri. Baik persoalan kesejahteraan dan layanan. Aspirasi itu akan lebih terkawal jika jumlah legislator perempuan semakin banyak.

Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan, butuh dukungan pimpinan parpol untuk memenuhi keterwakilan perempuan di angka 30%. Menurutnya, akan lebih jika Pileg dengan sistem tertutup sesuai nomor urut. Dari tiga nomor di atas, ada satu perempuan yan ditempatkan di nomor kedua. Maka target tersebut dengan sendirinya terpenuhi. Kenyataanya, saat ini persaingan caleg terbuka dan disesuaikan jumlah suara yang diperoleh.

Meski demikian, Ganjar meminta perempuan jangan minder untuk bersaing dengan laki-laki untuk duduk di legislatif. Ia mencontohkan, saat ini ada sembilan menteri perempuan dari 34 menteri di kabinet Presiden Joko Widodo. Jika minder soal pendidikan, Ganjar mencontohkan Menteri Susi Pudjiastuti yang hanya lulusan SMP. Ia pun memberikan sejumlah langkah untuk mendulang suara saat Pileg.

"Buat agenda setting yang jelas dan harus sesuai dengan wilayah yang di sasar. Misalnya di Brebes, bisa mengenai penurunan AKI-AKB (Angka Kematian Ibu dan Bayi). Gunakan sentuhan emosional agar jauh lebih mengena,'' kata mantan anggota Komisi II DPR RI ini.

Sementara Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Politik Hukum dan Pertahanan Keamanan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Darsono mengatakan Jateng menjadi satu dari 14 provinsi yang disasar untuk pelatihan bakal Caleg perempuan. Hal itu disebabkan tingkat partisipasi perempuan cukup rendah.

Pelatihan diselenggarakan tiga tahap. Sebelum Pileg 2019, saat caleg sudah mendaftar di KPU, dan setelah terpilih menjadi anggota legislatif. Salah satunya pelatihan membaca anggaran. ''Jangan sampai ada anggota legislatif perempuan yang DLLD. Datang Lholak Lholok Duit,'' kata Darsono.

(Hanung Soekendro /SMNetwork /CN39 )