image

DIALOG: Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Noor Achmad berdialog dengan Suchrodi dan Imam Saifudin, pengusaha pariwisata di Dieng, di kartornya, Gedung Nusantara I, Kompleks DPR RI Senayan, Jakarta, kemarin. (suaramerdeka.com/Ali Arifin)

13 Juli 2017 | 21:36 WIB | Suara Banyumas

Akses ke Dieng Akan Diprioritaskan

JAKARTA, suaramerdeka.com – Akses menuju kawasan destinasi wisata Dieng akan diprioritaskan. Sebab, sebagai destinasi nasional bahkan internasional, akses menuju Dieng dari Banjarnegara dan Wonosobo sudah kurang memadai. Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Noor Achmad, usai menerima kunjungan Suchrodi dan Imam Saifudin, pengusaha pariwisata di kawasan Dieng, di kantornya Gedung Nusantara I, Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (13/5).

“Dieng itu bukan hanya destinasi wisata tingkat nasional namun sudah internasional. Sebab, banyak wisatawan asing yang tertarik dan datang untuk menikmati pesona alam Dieng,” jelasnya.

Namun sayangnya, lanjut Ketua Dewan Harian Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) itu, akses menuju Dieng kurang memadai. Kemacetan arus lalu lintas dari dan menuju Dieng sudah semakin sering terjadi. Terlebih lagi saat ada momentum libur panjang, seperti long week end, libur lebaran, dan libur akhir tahun.

“Saya mendapat laporan saat ajang Dieng Culture Festival, arus lalu lintas dari dan menuju ke kawasan wisata itu sungguh padat, bahkan macet di sejumlah titik,” katanya.

Untuk itu pemerintah harus memprioritaskan jalur menuju Dieng. Apakah itu dengan cara pelebaran jalan dari Banjarnegara mau pun Wonosobo, mau pun jalur alternatif dari wilayah Kabupaten Batang. Yakni melalui Kecamatan Bawang-Kecamatan Batur via Dukuh Sigemplong, Desa Pranten (Bawang, Batang) dan Desa Bitingan (Batur, Banjarnegara).

“Semakin banyak akses dari dan ke Dieng, semakin baik. Sebab, akses itu bisa bermanfaat banyak. Selain sebagai jalur wisata, evakuasi saat bencana, dan arus lalu lintas manusia dan barang,” ujarnya.

Mantan rektor Unwahas yang kini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Pusat, itu menegaskan, untuk membangun Dieng sebagai destinasi wisata berkelas internasional, dengan akses jalan yang layak dari tiga wilayah kabupaten. Yakni Wonosobo, Banjarnegara, dan Batang, maka pemerintah pusat dan daerah harus duduk satu meja, menyamakan persepsi, dan menggandeng beberapa kementerian serta pihak-pihak terkait.

“Seperti kementerian pariwisata untuk pembenahan kawasan sehingga menjadi semakin cantik, kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat untuk pembangunan infrastruktur, para pelaku dunia usaha di bidang pariwisata, transportasi, dan lain-lain. Intinya saling menunjang dan melengkapi sehingga hasilnya bisa maksimal,” tambahnya.

Hambat Pertumbuhan

Menurut Suchrodi dan Imam Saifudin, akses menuju Dieng yang kurang memadai baik dari Wonosobo dan Banjarnegara bisa menghambat laju pertumbuhan industri pariwisata di Dieng.

“Masyarakat kawasan pantura, dari pantura timur seperti Rembang, Pati, Kudus, Jepara, Demak, Semarang, Kendal, Batang hingga pantura barat, dari Brebes, Pemalang, Kabupaten dan Kota Pekalongan sebenarnya bisa ke Dieng dengan melalui Kecamatan Bawang. Dari Kecamatan Bawang bisa langsung ke Dieng, Banjarnegara, melalui Sigemplong dan Bitingan. Namun jalur itu baru akan mulai digarap Pemrov Jateng tahun ini,” jelas Suchrodi.

Pihaknya juga mendengar informasi bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sudah menganggarkan Rp 9,5 miliar untuk proyek pengerasan atau pengecoran di ruas jalur alternatif ke Dieng melalui Kabupaten Batang.

“Jika jalur alternatif Bawang-Dieng itu mendapat kucuran dana dari Pemerintah Pusat, tentu akan lebih mempercepat pembangunan industri pariwisata di kawasan Dieng yang meliputi tiga kabupaten yakni, Banjarnegara, Wonosobo, dan Batang,” tandasnya.

(Ali Arifin /SMNetwork /CN40 )