image

SURVIVAL: Para taruna AAU berlatih survival di air dalam latihan sea and jungle survival serta Survival, Evasion, Resistance and Escape (SERE) di Waduk Sermo di Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kulonprogo, Rabu (13/9). (suaramerdeka.com/Panuju Triangga)

13 September 2017 | 23:42 WIB | Suara Kedu

104 Taruna AAU Berlatih Survival di Waduk Sermo

KULONPROGO, suaramerdeka.com – Sebanyak 104 taruna Akademi Angkatan Udara (AAU) mengikuti latihan bertahan hidup di air dan di hutan atau sea and jungle survival serta Survival, Evasion, Resistance and Escape (SERE) di kawasan Waduk Sermo di Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kulonprogo, Rabu (13/9).

Pengasuh Taruna Tingkat III AAU, Letnan Kolonel Penerbang Yudha Irawan mengatakan, latihan yang diikuti taruna tingkat III tersebut berlangsung selama tiga hari hingga Jumat (15/9). Dalam latihan itu diskenariokan para taruna bertahan di air dari serangan udara mau pun serangan darat. Selain itu juga melaksanakan penghindaran dari musuh, kompas malam. Serta kegiatan survival bertahan hidup di hutan termasuk mencari makanan dengan memanfaatkan yang ada di sekitarnya baik hewan, tumbuhan, mau pun air.

“Dengan latihan ini diharapkan para taruna memiliki kemampuan untuk melakukan survival sesuai dengan kegiatan SERE, kegiatan-kegiatan penghindaran dari musuh.  Serta bertahan baik di air mau pun di hutan,” kata Yudha.

Latihan survival, lanjutnya, dilaksanakan berjenjang. Untuk saat ini merupakan basic survival, kemudian saat sudah melaksanakan penugasan di satuan operasional akan dilaksanakan kembali pelatihan survival, sehingga berkesinambungan.

“Kegiatan ini sudah termasuk dalam kegiatan kalender pendidikan akademi angkatan udara, dilaksanakan setiap tahun oleh taruna tingkat tiga,” jelasnya.

Yudha menambahkan, latihan tersebut sangat penting dilaksanakan untuk membekali kemampuan para taruna saat nantinya melaksanakan tugas operasi yang sesungguhnya di satuan operasional. Kemampuan survival akan bermanfaat. Tidak hanya saat berada di wilayah konflik atau wilayah musuh, tetapi juga saat damai. Seperti bila terjadi kecelakaan pesawat.

“Seperti saat kecelakaan pesawat, harapannya saat mereka masih selamat bisa bertahan hidup sambil menunggu pertolongan dari Basarnas dan lainnya,”
imbuhnya.

Salah satu peserta, Serma Maulidia mengatakan, pelatihan tersebut sangat bermanfaat. Sehingga ke depan sebagai penerbang bila terjadi sesuatu sudah mengetahui bagaimana harus bertahan hidup di air mau pun di hutan. Dia mengaku baru sekali mengikuti latihan survival tersebut.

“Tadi diskenariokan ada penyerangan melalui pesawat Cessna yang akan turun di daratan 20 meter dari perahu kami dan menembakkan tembakan juga TNT. Kami bertahan dengan cara membalikkan perahu. Perlu tenaga yang banyak untuk membalikkan perahu,” kata taruna asal Pontianak tersebut.

(Panuju Triangga /SMNetwork /CN40 )