image

Foto: suaramerdeka.com/Arie Widiarto

11 Juli 2017 | 14:40 WIB | Liputan Khusus

Hella Ayu Setyanida, Berdayakan Nelayan dengan Produksi Kerupuk Rajungan

SELAMA ini para nelayan di daerah Mangkang Wetan, Semarang yang bekerja keras melaut dari malam hingga pagi mendapat hasil yang tak tentu. Bahkan, seringkali tak membawa hasil sama sekali.

Padahal, sebenarnya banyak potensi dari hasil tangkapan nelayan yang selama ini dipandang sebelah mata yakni Rajungan. Setiap harinya, tak sedikit Rajungan ini dibuang karena nilai jualnya tidak menarik. Rajungan sendiri merupakan salah satu spesies dari kepiting dan hanya hidup di laut.

Berawal atas keprihatinan akibat kurang optimalnya pemanfaatan rajungan inilah yang membuat Hella Ayu Setyanida (24), alumnus Jurusan Bahasa Inggris, Universitas PGRI Semarang membuat terobosan untuk membuat diversifikasi produk berbahan dasar rajungan. “Kalau udang bisa dibuat kerupuk, kenapa rajungan tidak bisa. Padahal daging dan cangkangnya memiliki kandungan protein yang tinggi,” tutur dia Hella ditemui usai melakukan audiensi dengan Rektor UPGRIS Dr Muhdi SH Mhum di kampus Jl Sidodadi, Semarang, baru-baru ini.

Hella kemudian memiliki ide untuk membuat kerupuk dari cangkang rajungan sekitar lima tahun lalu. Dari ide mengolah cangkang rajungan yang selama ini banyak terbuang sia-sia menjadi camilan ternyata hasilnya sangat luar biasa.

Selain dapat membantu nelayan di wilayah tersebut, dari hasil mengolah rajungan ini ia memperoleh omzet hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya.
Kerupuk yang diproduksi Hella yang diberi label “Kerupuk Rajungan Crabby” ini kini banyak digemari masyarakat di tanah air. Pemasarannya tak hanya di Jawa, tetapi sudah merambah ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.

Menariknya produk kerupuk rajungan tidak digoreng dengan minyak tetap menggunakan pasir. Dengan begitu, camilan ini tidak banyak mengandung kolesterol. “Justru banyak protein yang dihasilan dari cangkang rajungan ini. Hal ini juga didasarkan pada riset dan penelitian yang sudah banyak dipublikasikan,” jelas Hella.

Namun, diakuinya, untuk membangun usaha rajungan ini tidak mudah. Jatuh bangun sudah biasa dialami oleh wanita yang tak memiliki cita-cita menjadi pegawai ini. “Awal untuk memperkenalkan kerupuk rajungan juga tidak mudah, demikian pula dengan permodalan juga masih terbatas,” jelasnya.

Oleh karena itulah, pada awal-awal membangun usaha ini, ia banyak mengikuti pelatihan keterampilan berwirausaha. Berbaga kompetisi wirausaha juga diikuti untuk mendapat pengalaman bagaimana mengelola sebuah usaha secara profesional.

Hella pernah memenangi beberapa lomba wirausaha muda, antara lain juara 1 Wirausaha Muda Pemula tingkat Jawa Tengah pada tahun 2015 dan lolos seleksi nasional Wirausaha Muda Mandiri Wilayah Kanwil VII Semarang tahun 2016. “Sejak saat itu saya memantapkan diri untuk menjadi pengusaha meski ketika itu masih kuliah di UPGRIS,” jelasnya.

Saat ini Hella mempekerjakan sekitar 20 karyawan untuk menjalankan bisnis tersebut. Selain itu ada puluhan karyawan lepas bagian produksi yang terdiri dari warga sekitar Mangkang Wetan. Ia juga memiliki tim promosi khusus untuk pemasaran online. Saat ini kerupuk rajungan produknya dipasarkan dengan harga  mulai dari Rp 20 ribu setiap 250 gram atau seperempat kilo.

“Kami juga sedang menjajagi pasar ekspor ke sejumlah negara seperti Amerika dan Eropa dengan menggandeng sejumlah pembeli asing yang siap ikut memasarkan ke negara masing-masing,” paparnya.

Mengenai omzet, Hella menyatakan mencapai ratusan kilo setiap bulannya. Karena permintaan setiap bulan selalu meningkat, dalam waktu dekat pihaknya akan membeli mesin baru pengolah rajungan yang baru untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Rektor UPGRIS Dr Muhdi SH Mhum mengungkapkan, usaha yang digeluti Hella yang lulus UPGRIS pada 2016 tersebut berhasil mendapatkan hibah program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi di Perguruan Tinggi (PPBT-PT) dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti). Ia berharap penerima dapat memanfaatkan dan dapat berguna bagi masyarakat luas. Terlebih program pendanaan ini untuk menumbuhkan tenant wirausaha pemula berbasis teknologi dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa.

“Apa yang dilakukan Hella ini hendaknya bisa dicontoh mahasiswa lain sehingga tidak hanya berorientasi menjadi pegawai,” jelasnya.

(Arie Widiarto /SMNetwork /CN38 )