image

PRODUKSI BERSAMA: Para pandai besi di Pedukuhan Klopo X, Desa Bendungan, Kecamatan Wates, Kulonprogo melakukan proses produksi bersama. (Foto suaramerdeka.com/Panuju Triangga)

13 Juli 2017 | 01:43 WIB | Liputan Khusus

Kampung Pandai Besi Klopo X

  • Hasilkan Alat Pertanian Hingga Aneka Pedang

SUARA penempaan logam akan terdengar bersahut-sahutan ketika memasuki sentra panadai besi di RT 20 RW 9 Pedukuhan Klopo X, Desa Bendungan, Kecamatan Wates, Kulonprogo. Setiap hari Jumat, para pandai besi di pedukuhan ini bekerja bersama di rumah produksi untuk menghasilkan beragam peralatan pertanian hingga benda seni seperti aneka pisau dan pedang.

Di pedukuhan ini profesi sebagai pandai besi masih banyak ditekuni oleh warganya. Bahkan tidak sedikit generasi muda yang juga tertarik turut menekuni profesi ini sehingga terjadi regenerasi. Pengembangan produk-produk kreatif yang mengandung nilai seni seperti katana, samurai, sangkur, pisau bayonet, golok, dan berbagai bentuk pedang membuat generasi muda di pedukuhan ini tertarik.

Para pandai besi ini tergabung dalam kelompok Bina Karya, beranggotakan sekitar 76 orang. Mayoritas dari anggota sudah berkeluarga, sehingga anggota keluarga yang masih berusia muda juga ikut berkecimpung dalam produksi benda-benda tajam dari logam ini.

“Produk yang kami buat semua alat-alat pertanian, juga produk seni seperti samurai, pedang, dan bayonet,” ungkap Ketua Kelompok Bina Karya, Sukisman, baru-baru ini.

Masing-masing anggota kelompok memiliki home industri sendiri dan tersebar menempati pasar-pasar tradisional yang ada di Kulonprogo. Bahkan sebagian pandai besi dari Pedukuhan Klopo X ini juga berekspansi menempati sebagian pasar-pasar tradisional di luar Kulonprogo, seperti di Bantul, Sleman, dan Purworejo.

“Setiap anggota rata-rata memiliki pasar, 90 persen pasar tradisional di Kulonprogo pandai besinya berasal dari sini. Di situ bisa menawarkan jasa service, menerima pemesanan, juga menjual produk,” tuturnya.

Para pandai besi dari Klopo X ini sangat menjaga kualitas produk. Mereka memilih bahan baku besi yang benar-benar berkualitas baik dan bukan besi lunak yang akan cepat tumpul. Dengan bahan baku besi yang benar-benar keras, produk yang dihasilkan pun akan lebih awet dan benar-benar tajam.

“Kami sangat menjamin kualitas produk, satu tahun siap garansi. Misal ada kekeliruan bahan, kalau bahannya besi lunak, tidak tajam, ngluntung, kami siap menukar. Kalau kesalahan menggarap (proses pembuatan) garansi service,” jelas Kisman, sapaan akrab Sukisman.

Untuk menjaga kualitas, setiap bulan juga diadakan pertemuan anggota. Dalam pertemuan itu sekaligus juga menyatukan harga agar tidak terjadi persaingan harga tidak sehat dan membicarakan pemasaran secara bersama.

Setiap hari Jumat, kelompok melakukan produksi secara bersama-sama. Rata-rata bisa dihasilkan 75 pieces alat pertanian dalam produksi bersama tersebut. Produk yang dihasilkan kemudian dilelang secara internal.

“Sore dijajar, anggota yang mau beli malam habis Isya datang ke sini ikut lelang. Mereka juga memproduksi sendiri, tapi kalau kekurangan produk ikut lelang,” katanya.

Pemasaran produk selain di pasar-pasar tradisional juga berhasil merambah luar Jawa melalui internet. Salah satu anggota kelompok, Agung Wahono (25), berhasil memasarkan produk hingga ke Jakarta, Batam, Sumatera, dan Kalimantan Timur.

Produk-produk yang berhasil merambah luar Jawa tersebut terutama untuk produk-produk seni, seperti pisau-pisau seni model katana, sangkur, bayonet, dan lainnya. “Bisa juga model custom (sesuai pemesanan). Pemasaran memang bisa lebih luas melalui internet, seperti lewat Facebook,” imbuh Agung.

(Panuju Triangga /SMNetwork /CN19 )