image

TENGAH TRANSAKSI : Anggota tengah dilayani petugas saat transaksi di KSP Sapta Usaha Mulya di Jalan Mayor Achmadi Nomor 122, Desa Cangkol, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. (Foto suaramerdeka.com/Asep Abdullah)

14 Juli 2017 | 12:39 WIB | Liputan Khusus

Dari Satu, Tumbuh Menjadi Seribu

TIDAK terasa, 13 tahun sudah Sabariyono mengabdikan diri pada sebuah lembaga bernama koperasi. Bapak 74 tahun yang menjadi perajin etanol untuk industri farmasi itu, beberapa kali tersenyum lepas.

Meskipun raganya tidak lagi muda, suara suami dari Kustinah (72) itu, terdengar menggebu-gebu saat membicarakan koperasi yang dirintisnya. Ya, yang didinamakan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Sapta Usaha Mulya. Sembari membolak-balikkan tumpukan buku di hadapannya yang seirama dengan hempasan udara dari air conditioner (AC) di sebuah ruang tunggu pelayanan anggota, Pak Sabar sapaan akrabnya itu, membuka ceritanya. “Dari satu orang, sekarang ada seribu anggota,” celetuknya.

Badannya yang kurus, lantas dia sandarkan di kursi yang terbuat dari kayu jati. Berkali-kali, bapak tiga anak menghela nafas panjang sembari mengucapkan puji syukur kepada Tuhan, sang pemberi jalan. Bagaimana tidak, sejak merintis koperasi, Sabar bersama sejumlah anak muda 2004 silam, terpaksa menumpang di ruangan 7×10 meter di Jalan Gajah Mada, Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. “Hanya numpang. Tetapi saat itu kami yakin bisa mandiri dan besar,” tutur dia.

Dengan kemampuannya yang pernah mempelajari ilmu hukum dan managemen di sebuah universitas itu, dia bersama pengurus bekerja siang dan malam. Benar saja, saat ini KSP memiliki kantor sendiri dan bertingkat senilai Rp 2 miliar dengan luas 20×25 meter di Jalan Mayor Achmadi Nomor 122, Desa Cangkol, Kecamatan Mojolaban. “Kami meyakinkan masyarakat yang beanekaragam usahanya dan juga pemerintah. Tercatat saat ini ada 900 hingga seribu anggota, mayoritas pelaku usaha,” aku dia.

Sembari melanjutkan ceritanya, dia beberapa kali mondar-mandir mengawasi pelayanan anggota atau nasabahnya. Bagi dia, koperasi yang dibangun bersama beberapa orang menjadi ladang amal. Karena sebelumnya, dia menjadi perajin etanol rumahan yang memiliki sejumlah pekerja. Namun disela-sela produksi, dia merintis lembaga yang disebut sebagai soko guru perekonomian nasional itu. “Kami bidik berbagai usaha mikro atau UKM agar berkembang dengan mendapat tambahan modal,” terangnya.

Salurkan Pinjaman Negara

Benar saja, berkat keuletan tim, pada 2004/2005, koperasinya dipercaya mendapatkan pinjaman dari Kementerian Koperasi dan UKM Rp 1 miliar. Uang sebesar itu kemudian disalurkan kepada anggotanya yang memiliki usaha agribisnis, peternakan, perdagangan hingga perajin berbagai jenis barang. “Kami diberi waktu mengembalikan pada negera paling lambat 10 tahun. Pada 2014 lalu, lunas. Banyak yang memanfaatkan dengan bunga sangat rendah, karena sesuai prinsip kekeluargaan koperasi,” kata dia.

Karena anggotanya meroket, pada 2007 timnya lantas mencari pinjaman dari Oiko Kredit Belanda yang berkantor pusat di Tokyo dengan perwakilan di Jakarta. Adapun persetujuan pinjaman Rp 500 juta, disalurkan pada pelaku usaha. Pada tahun yang sama, juga dipercaya menyalurkan pinjaman Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) dari Kementerian Perumahan Rakyat dan Kementerian Koperasi dan UKM senilai Rp 630 juta. “Diantaranya untuk anggota yang rumahnya tidak layak huni,” ungkap dia.

Rentetan kepercayaan dari berbagai pemilik modal untuk disalurkan, terus mengalir. Bahkan hingga saat ini, KSP mendapatkan pinjaman dari kementerian yang sama senilai Rp 2,5 miliar untuk kemudian disalurkan. Koperasinya yang memiliki prinsip usaha yang sejahtera itu, memang menargetkan para pelaku usaha mikro bisa terdongkrak melalui pinjaman modal. “Yang penting jujur, transparan dan konsisten. Semuanya, baik pengurus maupun anggota,” jelas dia yang didaulat menjadi Ketua KSP itu.

Hal itu pun diamini oleh seorang anggota yang sejak 2001 ikut dalam Koperasi Unit Desa (KUD) di Desa Bekonang, Tukimin (63). Suami dari Maryani (53) yang sempat menjadi perajin genteng itu, tertarik masuk ke KSP Satpta Usaha Mulya sejak 2010, karena melihat rekan-rekannya yang mendapatkan pinjaman modal dengan bunga rendah. “Saya mulai pinjam untuk pengembangan usaha Rp 5 juta hingga Rp 50 juta. Ada manfaatnya di situ. Dan yang terpenting ada pembinaan anggota,” papar dia.

Warga Dukuh Mojosari RT 4 RW 1 yang banting stir menjadi pengusaha gas elpiji resmi itu, berharap koperasi terus bergeliat di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan. Apalagi simpanan pokok anggota saat itu koperasi hanya Rp 1.000. Tapi saat ini menjadi Rp 100 ribu. Bahkan per empat bulan mendapatkan sosialisasi kegiatan, serta pengembangan dan pembinaan usaha. “Ada kekeluargaan di situ, karena ada rapat anggota. Sementara sisa hasil usaha (SHU) sesuai dengan simpanan,” lanjut dia.

Koperasi Masih Relevan

Terpisah, Pengamat Ekonomi dari Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS), Dr Mulyanto ME, menjelaskan, desawa ini koperasi masih relevan. Karena koperasi menjadi lembaga dengan target merekatkan sistem ekonomi kekeluargaan. Namun agar koperasi yang berumur 70 tahun itu lestari di tengah-tengah masyarakat, harus ada upaya menggali potensi dan peluang pengembangan ekonomi yang berbasis wilayah lokal. “Tingkatkan sinergi dengan badan usaha milik desa (BUMDes),” jelasnya.

Pria yang juga sebagai Kepala Pusat Informasi dan Pembangunan Wilayah (PIPW) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNS menilai, koperasi bisa semakin kuat jika interaksi antara penyedia barang (prodesen) dan distribusi barang (konsumen) berasal dari dan oleh serta untuk masyarakat setempat di singkronisasi. “Banyak yang bisa digarap. Dengan itu, daerah kuat. Karena kesejahteraan dicapai berbasis lokal bukan ketergantungan pada asing,” aku dia.

(Asep Abdullah /SMNetwork /CN19 )