image

foto ilustrasi - istimewa

14 September 2017 | 23:15 WIB | Suara Kedu

Siswi SMP yang Meninggal Bukan Karena Imunisasi MR

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com- Kematian siswi Nana Puspita (14), pelajar SMP Negeri 3 Kasihan, Kabupaten Bantul, bukan karena imunisasi Measles Rubella (MR). Tetapi kemungkinan karena kanker darah atau Leukimia akut.

"Jadi bukan karena vaksin yang diberikan," kata Ketua Komda KIPI, Mei Neni Sitaresmi, di Fakultas Kedokteran UGM, Kamis (14/9). 

Penjelasan tersebut didasari dari pemeriksaan dan pengumpulan data lengkap secara menyeluruh dari semua pihak yang menanggani proses imuniasi di tingkat bawah sampai pihak rumah sakit oleh Komda KIPI DIY.

Menurut Neni, dari pemeriksaan dokter Sri Mulatsih, selaku dokter penyakit darah dan kanker anak di RS Bethesda, bahwa penyakit siswi tersebut mengarah kepada penyakit leukimia akut atau timbul mendadak.

"Jadi bukan karena vaksin campak dan rubella yang diberikan," jelas Mei Neni Sitaresmi. 

Seperti dikabarkan Nana Puspita (14) siswi SMPN 3 Kasihan, Bantul, meninggal dunia pada Jumat (8/9) usai sakit selama seminggu lebih sejak menerima vaksin MR yang diberikan pada Selasa (29/8) di sekolah.

Neni menjelaskan, setiap pemberian vaksin di sekolah tim Pukesmas harus melaksanakan standar operasional prosedur (SOP). Di mana dilakukan pemeriksaan secara acak terhadap siswa yang sakit. Imunisasi diberikan kepada siswa dalam kondisi sehat.

Saat pemberian imunisasi MR di SMPN 3 Kasihan, Pukesmas setempat menerjunkan delapan petugas dan satu dokter untuk 390 siswa. Menurutnya, tercatat ada tiga siswa mengaku sakit.

"Dan sampai sekarang kami belum menerima laporan adanya kasus lanjutan setelah imunisasi dari siswa lainnya," jelasnya.

Sementara, dokter Mulat menyatakan, saat dirujuk, kondisi Nana pucat karena rendahnya kandungan sel darah merah dan trombosit. Semula tim dokter berkeinginan melakukan tindakan lanjutan dengan memeriksa sel sumsum tulang belakang pasien untuk memastikan benar tidaknya yang bersangkutan leukimia. 

Namun pihak keluarga membawanya pulang dengan alasan yang bersangkutan stress. Itulah kasus yang sebenarnya, jadi kematian siswi tersebut bukan karena vaksin. Kasus kematian siswi ini menarik perhatian masyarakat Yogyakarta, karena muncul isu bahwa imunisasi campak memberikan dampak cukup buruk bagi anak-anak.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, Pembajun Setyaningastuti menyatakan, dari target waktu yang ditentukan, akhir Agustus 2017 terdapat 15.521 siswa belum terimunisasi Measles Rubella (MR). Ditargetkan sampai akhir September ini bisa tecapai 95 persen dari 778.118 sasaran akan tercapai.

Menurutnya, sampai Rabu (13/9) jumlah siswa dari TK, SD, dan SMP yang sudah mendapatkan imunisasi sebanyak 569.219 atau 97,34 persen dari total sasaran 584.740 yang tersebar di 4.812 sekolah. Pembajun menyatakan, alasan belum semua siswa di Yogyakarta mendapatkan imunisasi MR, karena ketidakhadiran mereka saat pelaksanaan imunisasi yang dijadwalkan.

Sebagai solusinya, Dinkes DIY melalui Puskesmas akan melakukan pemanggilan secara berkelompok kepada siswa-siswa yang belum mendapatkan imunisasi untuk datang didampingi pihak sekolah.

"Kami saat ini sedang menyusun jadwal. Karena saat ini semua petugas berkonsentrasi penuh pada pemberian imunisasi MR pada balita di 5.572 Posyandu," katanya.

(Sugiarto /SMNetwork /CN40 )