image

UPACARA NYADRAN: Dua ekor kambing dan dua gunungan palawija dibawa para bergodo yang ikut dalam upacara Nyadran/Merti Desa Kelurahan Cacaban, Kota Magelang sebelum dikirab menuju makam Kyai Tuk Songo. (suaramerdeka.com/Asef Amani)

14 September 2017 | 23:00 WIB | Suara Kedu

Tingkatkan Guyub Masyarakat Melalui Grebeg Besar

MAGELANG, suaramerdeka.com– Warga Kelurahan Cacaban, Kota Magelang beramai-ramai merayakan Nyadran/Merti Desa di bulan besar pada penanggalan Jawa atau Dzulhijjah pada kalender hijriyah, Kamis (14/9). Mengulang kesuksesan tahun lalu, kali ini dipentaskan kembali Sendratari Babad Merti Kademangan Cacaban.

Bertempat di Lapangan Kwarasan, puluhan penari kompak membawa drama tari yang menceritakan awal mula digelarnya nyadran Kelurahan
Cacaban itu. Mereka merupakan anak-anak SMP, SMA, dan anggota sanggar seni yang berlatih keras untuk kesuksesan penampilannya tahun ini.

Lurah Cacaban, Adhika KS mengatakan, awal mulanya wilayah Cacaban merupakan daerah yang subur makmur loh jinawi. Tapi, kemudian
terjadi pagebluk yang mengakibatkan kesengsaraan dari tanah tidak subur, ternak pada mati, hingga banyak terjadi penyakit.

“Kemudian, Ki Demang Cacaban saat itu mengajak warga masyarakat untuk berdoa pada Allah SWT agar pagebluk berakhir. Dalam sendratari, perwujudan pagebluk ditandai dengan gambaran iblis (sukerto), sedangkan penyelamat adalah satria,” ujarnya di sela acara.

Dalam Sendratari, satria dan sukerto kemudian berkelahi yang dimenangkan oleh satria. Sebagai ungkap syukur, Ki Demang Cacaban kemudian mengeluarkan dua buah gunungan (jalustri) dan dua ekor kambing hewan kurban.

“Gunungan dan kambing ini dikirab dan disemayamkan di makam Kyai Tuk Songo, pendiri Cacaban. Besok gunungan digrebeg dan kambing dipotong untuk dibuat gule. Semua ini terangkum dalam Grebeg Besar Cacaban yang kami adakan setiap tahun,” jelasnya.

Di samping Sendratari, katanya, ditampilkan pula para bergodo yang berasal dari perwakilan 12 RW. Mereka berdandan aneka warna dari berpakaian ala tokoh wayang, prajurit, hingga pakaian adat Jawa. Mereka antusias mengikuti kirab yang dihadiri Kepala Disporapar Kota Magelang, Djarwadi.

“Terpenting dari Grebeg Besar ini sebenarnya adalah kami ingin lebih meningkatkan lagi guyub masyarakat, sekaligus nguri-nguri kebudayaan. Kita ciptakan kondisi aman dan nyaman di lingkungan Cacaban dengan keterlibatan semua warga,” paparnya.

Senada diungkapkan Camat Magelang Selatan, Tugono bahwa, adanya Grebeg Besar Cacaban menandakan masyarakat guyub dan rukun. Pihaknya sangat mendukung pagelaran seperti ini dan diharap konsisten diadakan setiap tahun.

“Kita punya ikon Grebeg Gethuk setiap HUT Kota Magelang. Sekarang, kita punya ikon baru, yakni Grebeg Besar Cacaban. Saya harap masyarakat makin rukun dan ke depan acara seperti ini didukung pula warga kelurahan lain,” ungkapnya.

(Asef Amani /SMNetwork /CN40 )