image

(Foto suaramerdeka.com/dok)

14 September 2017 | 12:30 WIB | Ekonomi dan Bisnis

Distributor Aqua Berhak Degradasi Outlet Tak Capai Target Penjualan

  • - Sidang Pesaingan Aqua Vs Le Minerale

JAKARTA, suaramerdeka.com- Sidang mengenai dugaan persaingan tidak sehat antara Aqua vs Le Minerale di Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terus berlanjut. Kali ini sidang menghadirkan dua saksi dari distributor Aqua, masing-masing Sandra Yuliana (Direktur PT Varia Inti Pratama) dan Alex Martinus Suwarrow (Direktur PT Tirta Utama Abadi).

Kedua saksi menuturkan, pihaknya menerapkan degradasi atau penurunan status kepada outlet dalam menjalankan bisnis. Dengan adanya degradasi, setidaknya akan memacu outlet untuk membuat terobosan dalam upaya pemperbaiki diri. Mereka juga sepakat, untuk menurunkan status outlet tidak perlu meminta pesetujuan PT Tirta Investama (TIV), selaku produsen Aqua.

Dalam kesaksiannya, Sandra Yuliana mengemukakan, perusahaannya akan melakukan degradasi jika Star Outlet (SO) tidak mencapai penjualan yang sebelumnya telah disepakati oleh kedua belah pihak. Perusahaan yang dipimpinnya akan memberikan peringatan. 

"Kami lakukan evaluasi terhadap SO dalam waktu tiga bulan. Jika dalam tiga bulan tidak mencapai target penjualan, maka akan didegradasi. Degradasi atau promosi adalah atas dasar volume pengambilan per bulan dan dalam memberikan degradasi. Kami tidak perlu minta persetujuan TIV," ujar Sandra saat menjadi saksi di KPPU Jakarta. 

Alex Martinus Suwarrow juga menyatakan hal senada. Menurut dia, kesepakatan target dalam melakukan penjualan kepada toko-toko yang berstatus Star Outlet (SO) dibuat oleh perusahaannya selaku pihak distributor. Alex kembali menguatkan pernyataan Sandra jika degradasi merupakan hal yang biasa terjadi dan umumnya penurunan status itu karena masalah volume penjualan outlet. 

"Pada tahun 2016 ada sekitar 10 SO yang kami degradasi. Ya itu tadi karena volume (penjualan yang ditargetkan) tidak tercapai," terangnya.

Kuasa hukum PT Tirta Investama (Aqua), Rikrik Rizkiyana mengatakan, kliennya tidak memiliki saham atau bentuk afiliasi lainnya terhadap distributor. Sistem jual beli antara TIV dan distributor adalah jual-putus. "Jadi segala bentuk kebijakan penjualan produk TIV oleh distributor adalah kewenangan sepenuhnya dari distributor. Klien kami tidak dapat ikut campur," katanya.

Menurut Rikrik, keterangan yang telah disampaikan Sandra Yuliana dan Alex Martinus Suwarrow, menyatakan bahwa mereka menerapkan kebijakan masing-masing secara mandiri. 

"Jadi sudah terang benderang dan jelas sejelas-jelasnya. Pada persidangan, keduanya menyatakan bahwa segala kesepakatan dan kebijakan dilakukan antara distributor dan Star Outlet, tidak pernah ada arahan apapun dari klien kami," ujarnya.

(Arif M Iqbal /SMNetwork /CN19 )