• KANAL BERITA

Ajak Warga Cari Peluang Inovasi Baru

Lurah Rowosari

Lurah Rowosari, Surata. (suaramerdeka.com / Eko Edi Nuryanto)
Lurah Rowosari, Surata. (suaramerdeka.com / Eko Edi Nuryanto)

KELURAHAN Rowosari, Kecamatan Tembalang, berada di pinggiran Kota Semarang. Di bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Semarang, di bagian timur Kabupaten Demak. Seorang staf kelurahan bahkan berseloroh, ”Sudah pinggiran, gak enak lagi.”

Lima sampai enam tahun lalu, bisa dikatakan kawasan ini hampir tak tersentuh. Kalau hujan, sarana jalan, seperti kubangan lumpur. Tetapi lihatlah. Kalau sekarang berkunjung ke kelurahan dengan luas wilayah 719 hektare, gambaran terbelakang itu tak lagi berbekas. Penduduknya yang berjumlah 11.835 orang, dan tinggal di sembilan RW dan 48 RT, beranjak sejahtera.

Kawasan perumahan-perumahan baru bertumbuhan. Hampir semua jalan, sudah diperkeras beton. Ekonomi warganya menggeliat dengan tumbuhnya sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Pohon-pohon pisang banyak ditanam di kebun warga. Dari ujung jalan masuk, hingga kantor kelurahan, kiri- kanannya terhampar kebun pohon pisang.

Bisa dikatakan, hampir tak ada sejengkal pun tanah tanpa pohon pisang. Produk olahan pisang Rowosari, dengan merek Rowosari Banana (Rebana) bahkan sudah diekspor hingga Uzbekistan. ”Saya datang ke sini untuk mempertahankan yang sudah bagus ini, dan mengajak warga saya untuk mencari peluang inovasi baru,” ujar Surata, yang baru tiga bulan bertugas sebagai Lurah Rowosari.

Mantan pegawai Dinas Pendidikan Kota Semarang itu menyadari bahwa dirinya belum bisa berbuat banyak. ”Tapi saya coba jalankan pesan Pak Camat, 30 persen kerja di kantor, dan 70 persennya di lapangan,” kata pria yang menjabat lurah sejak 3 September 2019 itu.

Lelaki kelahiran Gunungkidul, 30 Oktober 1963 ini, menuturkan bahwa pisang menjadi andalan Rowosari. Tanaman itu dipilih karena tak tergantung musim, sedangkan persawahan di wilayahnya sebagian besar sawah tadah hujan. ”Tanaman pisang tak kenal musim, jadi bisa panen sepanjang musim,” ucap suami Sudarti itu.

Perpustakaan Digital Ayah tiga putra, Suhendri Eko Yulianto, Dwi Kurnia Rahmat, dan Satria Aditya Nugraha ini, pun menyandarkan penghasilannya dari tanaman pisang ini. Petani beralih ke pisang, apalagi kalau pas kemarau seperti ini. ”Dulu petani panen pisang jual pisang. Sekarang diolah dulu, baru dijual. Kami juga dapat bantuan alat-alat dan bimbingan dari Undip,” imbuh Surata.

Kampung Pisang

Warga juga sudah menginisiasi dengan mendirikan kampung tematis,”Kampung Pisang” di RWVIII. Warga memproduksi segala macam olahan dari pisang seperti sale, dan ceriping. ”Pemasarannya juga sudah lewat online. Di sisi lain, pelatihan- pelatihan seperti inovasi produk dan pengepakan juga kami selenggarakan. Kemasannya produknya sudah bagus lo,” ujar lelaki yang mengawali karier sebagai pegawai golongan I.

Di luar sektor UMKM, Rowosari juga berkembang. Infrastruktur jauh lebih bagus dengan jalan-jalan dari beton. Di sisi lain, sumber daya manusia juga disentuh dengan pendirian ”Kampung KB” .

Rowosari juga memiliki Perpustakaan Digital, yang merupakan bantuan dari sebuah perusahaan elektronik. ”Ada 18 unit komputer untuk mendukung perpustakaan digital. Di sana juga ada akses wifi yang bisa dimanfaatkan warga,” ungkap dia sambil menambahkan wisata ”Brown Canyon” Rowosari juga sudah sangat terkenal.

Surata menambahkan, wilayah yang semula terpinggirkan ini, mulai menggeliat. ”Apalagi nanti kalau Unissula, jadi mendirikan kampus di sini, tentu akan lebih maju lagi,” tandas Surata.


(Eko Edi Nuryanto/CN26/SM Network)

Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar