• KANAL BERITA

Pengabdian Tanpa Batas di Tapal Batas

Suraidah pendiri Madrasah Ibtidaiyah (setingkat Sekolah Dasar) Darul Furqon (Foto suaramerdeka.com/Mahendra Bungalan)
Suraidah pendiri Madrasah Ibtidaiyah (setingkat Sekolah Dasar) Darul Furqon (Foto suaramerdeka.com/Mahendra Bungalan)

SURAIDAH (65) awalnya berprofesi sebagai Dosen Keperawatan di Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan. Namun melalui perenungan panjang, usai menunaikan ibadah Haji, Suraidah memilih 'hijrah'.

Menurutnya, Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wassalam pun pernah hijrah. Karenanya dia memilih untuk 'hijrah' dari kota Makassar ke kota lain dan meninggalkan statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil pada 2004 silam. Kota yang dipilih adalah Nunukan. Dengan dukungan keluarga, Suraidah yang memiliki latar belakang master kesehatan dari lembaga pendidikan di Thailand membuka praktik kebidanan.

(Foto suaramerdeka.com/Mahendra Bungalan)

Prihatin dengan banyak anak yang harus ditinggal orang tua bekerja, Suraidah membuka tempat penitipan anak. Dengan pengalamannya sebagai dosen, beranjak waktu tempat tersebut menjadi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Semua gratis. Suraidah hanya berpikir bagaimana bisa membantu sesama. Akhirnya pada tahun 2009, dia bersama keluarga akhirnya mendirikan Yayasan Al Rasyid.

Namun, dia merasa pengabdiannya belum cukup. Saat reuni alumni Universitas Hasanuddin, dia menyampaikan jika ada yang mau meminjamkan tempat di Pulau Sebatik, Suraidah ingin membuka sekolah. 

Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, merupakan wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Pulau Sebatik bagian utara merupakan wilayah Malaysia, sedangkan sebelah selatan merupakan bagian Republik Indonesia.

Gayung bersambut, tidak berapa lama ada yang menghubunginya, kalau ada yang mau meminjamkan tempat. Suraidah pun langsung menyanggupi. Dia langsung menuju Pulau Sebatik dan membuka sekolah. 

"Orang menyebutnya Sekolah kolong, karena belajar dilakukan di kolong bangunan rumah," kata Ummi, sapaan Suraidah saat dikunjungi beberapa waktu lalu.

Kemudian pada tahun 2014, secara resmi Ummi mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (setingkat Sekolah Dasar) Darul Furqon. Siswanya kebanyakan berasal dari anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di perkebunan Malaysia. Sebagian siswanya harus bolak-balik melintasi perbatasan Malaysia-Indonesia untuk menuju sekolah dan tempat tinggalnya. 

Madrasah Darul Furqon terus berkembang, sekitar tahun 2017 Sekolah Tapal Batas menempati lokasi yang baru, tidak lagi menggunakan kolong rumah warga sebagai ruang kelas. Di lokasi baru awalnya hanya ada tiga ruang kelas berbentuk rumah panggung dari kayu.

Ruang belajar pun bertambah sejak bantuan, di antaranya dari Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field (Tarakan Field) dan BNI. Ruang kelas V dan VI sudah berupa bangunan permanen dan berlantaikan keramik. Ada juga ruang perpustakaan untuk menumbuhkan minat dan semangat baca para siswa. Sekolah pun memiliki kawasan pertanian terpadu sarana belajar mengajar kurikulum berbasis lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan sayur-mayur peserta didik. 

Saat ini ada lebih 40 siswa yang menempuh pendidikan di sana. Beruntung saat ini ada dua asrama yang bisa menjadi tempat tinggal para siswa dan pengajar. Menurut Ummi, selain dirinya, ada lima orang pengajar yang mengabdi di sekolah tersebut. Satu orang berasal dari warga lokal, dua orang relawan Dompet Dhuafa, dan dua lainnya merupakan aparat TNI. 

Ummi berharap, apa yang dilakukannya dapat bermanfaat bagi masyarakat. Dan anak-anak di perbatasan pun mendapatkan hak pendidikan seperti anak Indonesia di wilayah lain. Tidak hanya itu, Ummi juga ingin memberi bekal pengetahuan agama dan akhlak yang baik bagi siswa Madrasah Darul Furqon. Siswa dibiasakan melaksanakan sholat lima waktu, sholat sunah, dan hafalan Al Qur'an. "Kami menargetkan anak yang lulus Ibtidaiyah minimal sudah hafal Juz Amma atau Juz 30," kata Ummi.
 


(Mahendra Bungalan/CN19/SM Network)