• KANAL BERITA

Terharu Tingkat Dewa Pasca Perda Difable Disahkan

Foto: suaramerdeka.com/Dok
Foto: suaramerdeka.com/Dok

RANPERDA Difable telah disahkan oleh DPRD Blora, dan tinggal menunggu satu tapak lagi Perda tersebut akan ditetapkan, menunggu hasil evaluasi dari Gubernur Jawa Tengah.

Bagi sebagian besar orang awam, maaf mungkin tidak ikut merasakan dampak langsung dari disahkankan Ranperda Difable tersebut, namun tidak demikian halnya bagi  pejuang aktivis yang tegabung di DBM ( Difable Blora Mustika ), sebuah organisasi yang anggotanya para penyandang disabilitas di Kabupaten Blora.

Bagi Sekretaris Komisi D DPRD Blora, Santoso Budi Susetyo, SSos, dengan telah disahkannnya Perda Difable tersebut, dirinya menyatakan ikut merasakan senang, bangga campur terharu tingkat dewa (perasaan terharu sangat -Red).

''Jumat (28/11) malam, saat saya membaca pesan whatsapp dari mereka, rasanya ingin tumpah air mata ini. Terharu dan sangat bahagia, banyak dari aktivis DBM mengucapkan terimakasih atas disahkan perda ini dan mereka mendoakan kebaikan bagi saya. Saya membayangkan suka cita dan bahagia mereka, perjuangan selama ini terbayar sudah, tentu disertai harapan adanya payung hukum ini pemerintah lebih maksimal memperhatikan dan mengakomodir kebutuhan dan kepentingan mereka. Semoga para pejuang DBM selalu diberikan kesehatan,  kekuatan untuk terus berkarya,'' ungkap Budi panggilan akrab Santoso Budi Susetyo, anggota dewan yang dari PKS itu.

Menurutnya, hanya perkataan luar biasa yang pas untuk menggambarkan semangat, kegigihan dan perjuangan aktivis yang tegabung di DBM ( Difable Blora Mustika ), organisasi yang anggotanya para penyandang disabilitas di kabupaten Blora dengan segudang aktivitasnya.

Dimana, dengan keterbatasannya mereka melakukan hal-hal yang tidak biasa, bahkan bisa jadi orang yang tidak dalam kategori sebagai penyandang disabilitas belum tentu bisa melakukan seperti aktivis di DBM.

Laki-laki berkaca mata minus itu, mengaku, awal dirinya mengenal mereka adalah saat mereka beraudiensi dengan komisi D DPRD Blora, dimana kebetulan dirinya adalah sekretaris komisi tersebut.

Hal pertama yang membuat terkesan adalah kemampuan mereka dalam menyampaikan aspirasi, ketrampilan berbicara dan kekompakan mereka menunjukkan mereka sudah terbiasa dalam berorganisasi.

Mereka membawa aspirasi untuk mendapatkan perlindungan dan perhatian dari pemerintah, mereka mengusulkan agar DPRD membentuk perturan daerah ( perda ) bagi penyandang disabilitas di kota Mustika.

''Saya mungkin orang yang paling antusias menyambut dan menerima mereka, karena istri saya adalah seorang pendidik pada sekolah luar biasa jadi sudah cukup familiar dan sensitif terhadap kondisi mereka, dalam berbagai kesempatan saya ke sekolah istri saya dan biasa berinteraksi dengan penyandang disabilitas. Singkat cerita kami menyanggupi untuk memperjuangkan aspirasi mereka untuk membentuk perda tersebut.''

Proses demi proses dikawalnya, sadar ini bahwa bagi anggota dewan, adalah sebuah lembaga politik, banyak konsideran dan alasan dalam aktivitasnya. Belum juga ada regulasi yang harus ditaati pada setiap tahapannya, ditambah lagi agenda lain yang menjadi tugas kami membuat proses ranperda ini tidak secepat seperti yang saya janjikan kepada teman teman DBM.

Berbagai Aktifitas

Budi Susetyo menyatakan, selama Perda berproses itulah dirinya lebih mengenal mereka, para penyandang disabilitas di Kabupaten Blora. Bahkan semangat dan kegigihannya membuat dirinya merasa " kewalahan" sendiri.

Mereka mengawal perda ini dengan mengadakan berbagai aktivitas yang tentu butuh energi yang tidak sedikit, pertemuan formal dan informal sering mereka adakan.

Banyak Organisasi Perangkat Daerah sering mereka undang untuk menyatukan visi dan dukungan terhadap perda ini karena memang ini adalah perda yang dalam pelaksanaan melibatkan hampir semua OPD.

Berbagai ormas juga sering mereka undang dalam rangka mendapatkan dukungan untuk segera disahkan ranperda menjadi perda. Alhamdulillah hampir di semua pertemuan tersebut saya bisa menghadirinya. Pertemuan  informal juga sering dilakukan, ''waktu itu mereka minta ketemu saya secara khusus, saya ajak bertemu di sekretariat DPD PKS Blora, ngopi sambil berdiskusi serta mencermati pasal demi pasal dari ranperda tersebut. Saya merasakan selama menjalankan tugas sebagai anggota DPRD, perda ini paling dinamis prosesnya,'' beber Budi.

Perjuangan mereka bagi penyandang disabilitas di kota sate itu memang patut di apresiasi. Melalui DBM inilah mereka berkarya dan menunjukkan eksistensinya. Perjuangan untuk mendapatkan jaminan kesehatan dan pembuatan sim D bagi difable juga  produksi batik yang merupakan unggulan mereka laku di pasaran bahkan banyak orang terkenal, tokoh, pejabat, bupati  bahkan presiden Jokowi berkenan mengenakan batik Blora karya mereka.

Beberapa kali mereka  audiensi di DPRD mengawal proses ranperda ini bahkan mereka pernah mengancam jika proses berlarut larut tidak jelas mereka akan buat tenda dan nginep di gedung DPRD, ini mungkin ungkapan semangat dalam memperjuangkan agar pemerintah memperhatikan secara setara dan proposional keberadaan penyandang disbilitas.


(Urip Daryanto/CN39/SM Network)