image

MAKAM KALORAN: Salah seorang warga, melakukan ritual nyekar Ruwahan ke kubur leluhuran di Makam Kaloran, Kalurahan Giritirto, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. (Foto suaramerdeka.com/Bambang Purnomo)

21 Mei 2017 | 14:13 WIB | Kejawen

Ruwah, Bulan untuk ‘Meruhi’ Para Roh Arwah

BAGI wong Jawa, Ruwah sering diterjemahkan sebagai ‘Meruhi Arwah,’ atau memaknai keberadaan para roh arwah. Karena itu, setiap datang Bulan Ruwah (Sya’ban), banyak orang Jawa yang melakukan ritual nyekar atau nyadran ke makam para leluruhnya.

Dalam Buku ‘Bauwarna Adat Tata Cara Jawa’ karya Drs R Harmanto Bratasiswara, terbitan Yayasan Surya Sumirat Jakarta-2000, disebutkan tradisi Ruwahan di Bulan Sya’ban, merupakan upacara penghormatan kepada para arwah leluhur atau keluarga yang sudah berpulang.

Budayawan Jawa penerima Anugerah Bintang Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Pranoto Adiningrat, menyatakan, berdasarkan kepercayaan Kejawen, puncak ritual Ruwahan lazim dilakukan sejak tanggal 15 sampai dengan akhir Bulan Ruwah. Selama rentang waktu tersebut, dinilai sebagai tempo yang tepat untuk menjalin hubungan spiritual mengadakan Pamulen (penghormatan) Ruwahan.

KRA Pranoto Adiningrat yang juga Abdi Dalem Keraton Surakarta ini, menyatakan, untuk melakukan Pamulen, biasa ditandai dengan melakukan ritual Nyekar. Yakni menaburkan bunga ke pusara makam para leluhur, atau ke nisan kubur keluarga yang sudah berpulang. ”Sekaligus disertai pemanjatan doa, untuk memintakan ampunan segala dosa dan kesalahan arwah para leluhur,” tegasnya.

Harapannya, setelah para roh arwah leluhur diampuni dosa dan kesalahannya, diberikan anugerah dapat diterima kembali ke Alam Gusti Murbeng Dumadi, atau masuk dalam Kaswargan Jati. Ini sinergi dengan pemahaman ‘Mulih marang mulanira’ atau ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (Kita ini milik Allah, dan kepada-Nya kita kembali).

Transfer Uang

Pada setiap mengadakan ritual Ruwahan, ada yang diikuti dengan menggelar kenduri selamatan sebagai bentuk sedekah pada masyarakat di lingkungannya. Ada juga yang dalam kenduri selamatan, tempatnya digelar di Balai Pemakaman, yang kemudian lazim disebut Nyadran. Dalam kenduri selamatan tersebut, disertakan makanan Kolak, Apem dan Ketan, sebagai kelengkapan untuk memanjatkan doa permohonan.

Di beberapa desa di Kabupaten Wonogiri, ritual Nyekar selalu diawali kerja bakti bersih makam. ”Dilakukan secara guyub dalam kerja bakti gotong royong warga masyarakat,” ujar Satimin, salah seorang warga di Desa Pokohkidul, Kecamatan Wonogiri Kota. Tapi bagi makam yang telah memiliki juru kunci, kewajiban membersihkan kuburan telah dilakukan oleh sang juru makam dibantu keluarganya.

Sebagaimana dilakukan oleh Slamet yang menjadi juru kunci Makam Kaloran, Kalurahan Giritirto, atau Bani yang menjadi juru kunci Makam Lomanis di Kalurahan Giripurwo, semuanya dalam wilayah Kecamatan Wonogiri Kota. ”Sebagian ahli waris yang tidak dapat datang secara langsung untuk nyekar, biasa menelpon saya untuk diminta mewakili nyekar ke kubur leluhurnya,” ujar Bani.

Sebagai konsekuensinya, Bani ditransfer uang pembelian bunga untuk nyekar. Mereka itu, ada yang transfer dari Jakarta, Bandung, Surabaya atau dari kota-kota besar di luar Jawa. ”Hanya saja, harga bunga setiap datang Bulan Ruwah, selalu melonjak,” ujar Bani.

Pada minggu pertama Bulan Ruwah, harga bunga mawar yang biasa hanya Rp 50 ribu melonjak menjadi Rp 120 ribu per Kilogram (Kg). Bahkan di sisa pekan terakhir Bulan Ruwah, harga bunga berlipat menjadi Rp 300 ribu/Kg.

(Bambang Purnomo /SMNetwork /CN41 )