image

Foto: imbalo.wordpress.com

01 Juni 2017 | 20:18 WIB | Pringgitan

Orang-orang Islam Awal di Jawa

MASUKNYA agama Islam ke Jawa, pada mulanya, dibawa oleh hubungan dagang. Bukan langsung dari Mekkah, melainkan dari Bagdad (Irak) dan Gujarat (sisi barat India).

Ketika khalifah Abbasiyah yang kelima, yang bergelar Harun Al-Rasyid berkuasa, kota Bagdad menjadi sangat terkenal dan menjadi pusat perdagangan antara masyrik dan magrib (dunia timur dan barat). Pada waktu itu sudah ada kapal dagang Indonesia dari Jawa Timur dan Jawa Tengah yang berlayar hingga ke Teluk Persia.

Pada tahun 1528 M, kota Bagdad hancur digempur pasukan Tartar, Mongol. Jalan lintas perdagangan antara dunia timur dan barat beralih melalui Gujarat, langsung ke barat melalui selat Bab al Mandub (Teluk Aden) ke utara melalui Laut Merah. Kapal dagang dari Nusantara pun berramai-ramai berlabuh ke Gujarat.

Karena kedatangan agama Islam ke Jawa melalui hubungan dagang, maka yang terlebih dahulu memeluk Islam adalah rakyat jelata, seperti para anak kapal (juragan dan kelasinya). Pemusatannya di daerah pelabuhan seperti Tuban, Jepara, serta Gresik.

Bukti-bukti artefak seperti makam wanita muslimat Fatimah binti Maimun, nisan yang berangka tahun 475 Hijriyyah (1082 M), serta makam ulama Persia Malik Ibrahim, nisan yang berangka tahun 882 Hijriyyah (1419 M), menjadi tanda bahwa pada waktu itu rakyat jelata Gresik telah banyak yang menganut Islam.

Selain rakyat jelata, beberapa keluarga bangsawan dan punggawa Majapahit juga diketahui telah ada yang memeluk Islam. Sebut saja istri Kertawijaya, puteri Campa yang bernama Ratu Darawati, beragama Islam. Bahkan anggota keluarga Darawati, Raden Rahmat, turut mendirikan perguruan Islam (pesantren) di desa Ampel, sehingga kemudian populer dengan nama Sunan Ampel.

Demikianlah. Di kalangan negara Majapahit, Islam menjadi agama yang progresif. Islam tidak mengakui adanya tatanan kasta. Bagi rakyat jelata dan kaum petani yang menurut tatanan kasta hanya dikelompokkan pada golongan bawah, masuk agama Islam memiliki manfaat besar. Alasannya, dapat mengangkat derajat serta dapat dijadikan pegangan untuk melepaskan semua beban yang berhubungan dengan adat dalam tatanan kasta.

*Disarikan dari Babad Demak dalam Tafsir Sosial Politik, R. Atmodarminto

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )