image

Foto: Kemenag

07 Juni 2017 | 15:54 WIB | Pringgitan

Saka Tatal, Cerminan Bhinneka Tunggal Ika

DALAM kitab Tembang Babad Demak, dikisahkan bahwa saka guru yang ditambahkan Sunan Kalijaga pada sisi timur laut Masjid Demak, dibuat dari tatal (potongan kayu kecil-kecil). Pembuatannya dengan memanfaatkan potongan-potongan dan sisa-sisa tepi kayu yang agak besar kemudian digabungkan menjadi satu kesatuan secara selaras, direkatkan dengan jabung, menyan, blendok atau dammar, dipasak, dan diikat hingga kokoh.

Kira-kira setelah dua tahun barulah ikatannya dilepas dan dihaluskan menjadi saka guru. Namun jika ditilik dari kitab Tembang Babad Demak, disebutkan jika saka guru dibuat sekaligus jadi hanya dalam semalam.

Saka guru tatal buatan Sunan Kalijaga memiliki filosofi sebagai lambang kekuatan persatuan rakyat nusantara yang terdiri atas berragam suku bangsa, dengan tradisi dan kepercayaan yang berbeda-beda. Aneka suku bangsa tersebut dapat bersatu disebabkan kekuatan raksasa yang dapat membuat negara nasional nusantara.

Saka tatal juga menjadi perwujudan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang pada masa lampau juga dipergunakan sebagai lambang kemakmuran kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Hayamwuruk.

*Disarikan dari Babad Demak dalam Tafsir Sosial Politik, R. Atmodarminto

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )