• KANAL BERITA

Memaknai Kembali Rasa Syukur pada Tuhan pada Malam Anggara Kasih

MENGARAK SESAJI: Masyarakat adat dan anggota MLKI mengarak sesaji menuju Bale Malang pada pembuka ajang Malam Anggara Kasih, di Grumbul Kalitanjung, Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Banyumas. (suaramerdeka.com / Nugroho Pandu Sukmono)
MENGARAK SESAJI: Masyarakat adat dan anggota MLKI mengarak sesaji menuju Bale Malang pada pembuka ajang Malam Anggara Kasih, di Grumbul Kalitanjung, Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Banyumas. (suaramerdeka.com / Nugroho Pandu Sukmono)

ROMBONGAN  lelaki berbaju hitam dan berikat kepala serta perempuan berkebaya berjalan di jalur setapak. Mereka berdoa bersama di Bale Malang untuk membuka acara. Setelahnya, para penghayat kepercayaan itu berjalan menuju Panembahan Mbah Agung Wetan yang disakralkan oleh masyarakat adat Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas.

Pemandangan itu terlihat kala 200-an penghayat bagian dari masyarakat Kasepuhan Adat Kalitanjung dan Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) pada gelaran tradisi Anggara Kasih, Senin (26/11).  Ketua Kasepuhan Adat Kalitanjung, Muharto (75) yang memimpin ritual, duduk bersila di depan makam. Muharto merapalkan doa dalam bahasa Jawa.

Ia menuturkan, bagi orang Jawa, hari Anggara Kasih atau Selasa Kliwon merupakan waktu yang sakral. Menurut perhitungan penanggalan jawa Alif Rebo Wage (Aboge), hari ini memiliki neptu atau nilai sebelas yang terdiri dari dua angka satu.

Nilai itu kata Muharto merujuk pada kekuasaan Tuhan yang satu dan tak tertandingi. Alam semesta dan segala makhluk tercipta, hidup dan mati atas kuasa Tuhan. "Sangat sakral. Karena angka satu itu mengingatkan dan mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. Biasanya puasa," kata Muharto.

Setiap hari ini pula, masyarakat adat Kalitanjung melakukan ritual caos sesaji di rumah adat yang disebut Bale Malang. Sesaji terdiri dari hasil perkebunan, pertanian atau ternak warga dan nasi tumpeng. Filosofi sesaji sebagai rasa syukur atas segala kemurahan Tuhan.

Tak seperti biasanya, malam Anggara Kasih kali ini digelar dengan meriah. Kemeriahan malam Anggara Kasih membuat suasana di grumbul Kalitanjung mirip pasar tumpah. Para pedagang memadati jalan sejak sore. "Sekarang ini pertama kalinya Anggara Kasih dirayakan besar-besaran. Ada pentas gondolio dan wayang juga," kata Muharto.

Ruang pada Penghayat

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko menjelaskan kemeriahan perayaan Anggara Kasih di Kalitanjung diinisiasi oleh MLKI Banyumas dan didukung Kementerian Kebudayaan Direktorat Kepercayaan Tuhan YME. Tradisi kali ini memberikan ruang pada para penghayat untuk berbagi informasi tentang nilai-nilai kebudayaan Jawa pada warga Banyumas.

"Laku hidup masyarakat adat ini memang sangat penting untuk diketahui publik, agar tak ada kesalahan persepsi. Sebab laku hidup orang Jawa ini ada filosofi yang diajarkan turun temurun," kata Jatmiko.

Ketua Presidium MLKI Kabupaten Banyumas, Supriono menambahkan, tradisi ini sengaja digelar di Kalitanjung yang memiliki karakteristik masyarakat adat yang unik. Salah satu contohnya yaitu adanya kesenian gondolio. "Kesenian ini sudah jarang diketahui masyarakat Banyumas. Selain itu di Kalitanjung ini juga banyak petilasan yang merupakan bagian sejarah tatanan lama kebudayaan, sosial, religi di Banyumas," kata Supriono.

Sementara itu, Direktur Direktorat Kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Cristiati Ariani mengatakan, malam Anggara Kasih biasanya digelar secara rutin di Sasana Adirasa Kompleks Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Namun, tahun 2019, pihaknya memilih melaksanakan tradisi ini di tempat masyarakat pendukungnya.

"Kami kembalikan ke masyarakat pendukung tradisi ini agar bisa secara langsung melibatkan penghayat di daerah. Tujuan kami, agar kami bisa mendengar langsung dan berkomunikasi dengan penghayat untuk menentukan kebijakan. Ternyata perayaan di masyarakat malah benar-benar lebih ramai dan meriah. Mereka antusias untuk mengikuti acara," kata Cristiati.

Dia mengatakan, berdasarkan data Kemendikbud, saat ini di wilayah Banyumas terdapat 14 komunitas masyarakat penghayat tersebar di Banyumas.


(Nugroho Pandhu Sukmono/CN26/SM Network)