image

Foto: istimewa

05 Juni 2014 | 14:33 WIB | Tips

Pengobatan Baru untuk Glaukoma Ditemukan

ILMUWAN Singapura berhasil menemukan cara pengobatan baru untuk penderita glaukoma. Pasien diklaim tidak lagi perlu menggunakan tetes mata khusus setiap hari.

Seperti dilansir Channelnewsasia, Selasa (3/6), peneliti dari Nanyang Technological University (NTU) dan Singapore Eye Research Institute, memperkenalkan pengobatan nano bagi pasien glaukoma.

Dalam metode pengobatan terkini, pasien akan mendapatkan suntikan obat berisi jutaan kapsul berukuran nano - ribuan kali lebih kecil dari setitik debu, pada bagian depan mata.

Cairan yang disuntikkan akan melepaskan obat anti - glaukoma yang perlahan-lahan dalam jangka enam bulan membantu penyembuhan.

Terapi ini, diklaim berhasil terhadap enam pasien studi. Para peneliti mengatakan pilot study itu telah membuahkan hasil luar biasa, selain aman dan efektif dalam pengobatan glaukoma.

Pengobatan berteknologi nano ini juga diharapkan dapat bermanfaat bagi pasien berusia lanjut, yang sering lupa untuk menggunakan tetes mata setiap hari, menyebabkan kondisi mereka memburuk.

Para peneliti memperkirakan bahwa setidaknya 10 persen dari kebutaan glaukoma secara langsung disebabkan oleh pasien yang tidak mengikuti dengan benar obat yang diresepkan.

Glaukoma adalah suatu kondisi yang menyebabkan kerusakan saraf optik mata dan bisa menyebabkan kebutaan.

Hal ini disebabkan karena saluran cairan yang keluar dari bola mata terhambat sehingga bola mata akan membesar dan menekan saraf mata di belakang bola mata. Saraf mata yang tidak mendapatkan aliran darah akhirnya akan mati.

Glaukoma bisa menyerang siapa saja. Mereka yang memiliki risiko terkena yakni seseorang dengan riwayat glaukoma di dalam keluarga.

Selain itu penderita Miopia (rabun jauh) dengan tekanan bola mata tinggi, Diabetes (kencing manis) dengan gula darah tinggi yang lama, Hipertensi (tekanan darah tinggi) dan Migrain (penyempitan pembuluh darah otak).

Lalu pasien dengan riwayat kecelakaan/operasi pada mata sebelumnya, pengguna steroid (cortisone) dalam jangka waktu lama, dan pria/wanita berusia di atas 45 tahun.

(Linda Putri /CN33 )