image

Foto: istimewa

30 Juni 2014 | 13:05 WIB | Tips

Kemoterapi, Benarkah Merugikan?

KEMOTERAPI menjadi hal yang paling ditakuti pasien. "Kebanyakan dari mereka yang mendapati kanker dalam tubuhnya akan memilih dibedah daripada dikemoterapi," ungkap DR.Dr. Yan Wisnu Prajoko, M.Kes, SpB, SpB(k)Onk spesialis bedah tumor RS Telogorejo Semarang, beberapa waktu lalu.

Kanker merupakan pertumbuhan sel yang tidak normal, di luar kondisi tubuh kita, "membelah secara berlebihan, di mana tersusun sel yang tidak rapi. Dan sel memiliki sifat tidak mudah lepas dan menyebar," jelasnya.

Tujuan kemoterapi sendiri, dijelaskan Yan bersifat kuratif atau menyembuhkan. Di mana bisa diterapkan pada pasien dengan kondisi kanker masih berada di stadium awal dengan tipe kanker yang jinak. Selain itu kemoterapi juga bertujuan memperpanjang usia hidup dan mengurangi rasa nyeri.

"Meskipun, pembuktian ada atau tidaknya sel kanker agak sulit dilakukan sehingga pasien seringkali tidak yakin dengan pengobatan kemoterapi yang dijalaninya," ungkapnya dalam seminar "Kemoterapi, Penanganan Kanker Menguntungkan atau Merugikan" di RS Telogorejo.

Pengobatan dengan kemoterapi bukan tanpa efek samping, karena sel-sel di dalam tubuh tumbuh dengan sangat cepat. "Dampaknya rambut mudah sekali rontok, selain itu perubahan kondisi pada saluran makan hingga anus rentan menyebabkan sariawan, mual dan muntah," imbuh Yan.

Diakuinya ada kerugian dalam kemoterapi, namun keunggulan dari kemoterapi harus lebih besar. "Kembali pada kondisi masing-masing pasien, dengan efek samping yang berbeda-beda".

Seperti dijelaskan Yan, kemoterapi memberi efek toksin pada tubuh. Untuk itu, sebelum dilakukan kemo, dokter harus melihat pada kondisi pasien, dalam hal ini jenis kelamin dan metabolisme tubuh. "Selain itu juga perlu dilihat performa tumbuhnya sel darah merah, fungsi ginjal liver dan jantung," jelas Yan.

Namun, yang perlu diwaspadai, pada beberapa pasien diketahui juga berinteraksi dengan obat di luar obat kemoterapi yang diberikan oleh dokter. Hal inilah yang lalu menyebabkan kemoterapi tidak bisa dijalankan secara efektif.

Yan menegaskan kemoterapi hingga saat ini masih merupakan terapi yang aman, dan upaya maksimal yang bisa ditempuh untuk mengobati kanker. "Asal dilakukan dengan tepat dan ada semangat juga keinginan dari pasien untuk sembuh," tegasnya.

(ER Maya /CN19 )