image

Foto: istimewa

02 Juli 2014 | 13:28 WIB | Ibu dan Anak

Pola Asuh Orang Tua Tentukan Karakter Anak

ANAK merupakan cermin orang tuanya. Karena orang tua memiliki peran yang besar membentuk karakter anak.

"Jika kita memberikan dasar yang kuat, maka anak akan tumbuh dengan karakter yang kuat," ujar Psikolog Anak Vera Itabiliana saat menjadi pembicara pada kegiatan media briefing beretajuk "Misi Pahlawan Cilik Pepsodent" di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta.

Pada acara itu hadir pula antara lain pendiri Indonesia Heritage Foundation (Yayasan Warisan Luhur Indonesia) dan Pelopor Pendidikan Holistik Berbasis Karakter Ratna Megawangi, Professional Relationship Manager Oral Care PT Unilever Indonesia Ratu Mirah Afifah, dan moderator Shahnaz Haque.

Menurut Vera, keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi tumbuh kembang anak. Dia menambahkan, berbagai nilai dan norma perilaku positif dapat ditanamkan orang tua melalui pola asuh yang tepat, terutama menjadi teladan bagi anak.

Pola asuh yang tepat bisa membantu orangtua dalam menerapkan nilai-nilai positif kepada anak. Terdapat tiga macam pola asuh yang sering diterapkan orangtua kepada anak, yaitu pola asuh otoriter, permisif, dan demokratis.

Pada pola asuh otoriter, orangtua biasanya sering memaksakan kehendak kepada anak. Hal ini bisa membuat anak depresi dan melakukan pemberontakan di luar rumah. Contohnya dengan mem-bully teman.

Sebaliknya dari pola otoriter adalah pola permisif. Pola asuh ini, orangtua memiliki kebiasaan untuk menuruti keinginan anak, serta cenderung membiarkan jika anak melakukan kesalahan. Dampaknya, anak tidak akan pernah mau belajar dari kesalahan.

Yang ketiga adalah pola asuh demokratis. Pola ini merupakan yang paling ideal diterapkan kepada anak. Dalam pola asuh ini, tetap ada batasan-batasan jelas yang diterapkan kepada anak. Akan tetapi, anak juga diberikan keleluasaan untuk memilih apa yang ingin dilakukan, sehingga mereka bisa belajar arti sebuah konsekuensi.

"Efek positif dari tipe demokratis, anak akan memiliki pribadi bertanggung jawab, percaya diri, dan berani mengambil keputusan sekaligus menanggung konsekuensi," kata Vera.

Sementara Ratna Megawangi menambahkan, kecerdasan bukan sekadar kemampuan akademis.

Dijelaskan dia, kecerdasan dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu kecerdasan akademis (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Untuk membentuk generasi bangsa yang cerdas dan berkarakter, tentu diperlukan keseimbangan di antara ketiganya.

"Oleh karena itu, selain memperhatikan kecerdasan akademis, orang tua perlu memperhatikan pembentukan karakter anak," ujarnya.

(Mahendra Bungalan /SMNetwork /CN33 )