• KANAL BERITA

Bersama Tim Berjuang Melawan Demam Berdarah Dengue

Penerima Habibie Award Prof Adi Utarini

Penerima Habibie Award Prof Adi Utarini. (suaramerdeka.com / Agung PW)
Penerima Habibie Award Prof Adi Utarini. (suaramerdeka.com / Agung PW)

KASUS  demam berdarah (DB) masih menjadi ancaman di negara-negara tropis termasuk Indonesia. Ribuan kasus terjadi setiap tahun dengan ancaman kematian. Memang, dalam beberapa wakjtu terakhir kasus kematian tak lagi seperti dulu karena makin meningkatnya kesadaran masyarakat tentang bahaya penyakit tersebut.

Kendati demikian, upaya pencegahan harus terus dilakukan karena faktor risiko juga tetap besar. Dosen dan peneliti UGM, Prof dr Adi Utarini MSc MPH PhD bersama tim beberapa tahun terakhir ini berjuang melakukan penelitian untuk menekan kasus DB melalui penyebaran nyamuk yang mengandung bakteri Wolbachia.

"Kami masih menunggu hasil akhir penelitian tahun depan. Sekarang belum bisa disimpulkan tetapi kami optimistis nyamuk berwolbachia ini mampu menekan kasus DB seperti yang sudah terjadi di Australia bagian utara dan Brasil,'' tutur Prof Uut, panggilan akrabnya.

Penelitiannya bersama tim yang mendapat dukungan dari Yayasan Tahija berlangsung sejak tahun 2013 lalu. Ia dan teman-temannya yang tergabung dalam World Mosquito Program Yogyakarta (WMP Yogya) yang sebelumnya bernama Eliminate Dengue Project-Yogyakarta, tak mengenal lelah. Mereka meneliti nyamuk, meneliti bakteri Wolbachia, menyebar nyamuk berwolbachia ke sejumlah lokasi, melakukan sosialisasi ke masyarakat.

Penelitian tersebut membuat Uut dan tim menyadari perlunya kerja sama multi disiplin dalam pekerjaan besar yang dicita-citakannya bakal mampu mengurangi kasus DBD yang selama ini menjadi momok. Mereka belajar banyak hal, tidak hanya teknis penelitian, tetapi juga melibatkan masyarakat dan pemegang kebijakan yakni pemerintah.

Terobosan Baru

Perempuan kelahiran Yogyakarta, 4 Juni 1965 ini mengungkapkan penelitian multidisipliner yang dilakukannya bersama tim merupakan terobosan baru untuk menurunkan kejadian DB di masyarakat. Caranya, menggunakan pengendalian biologis inovatif yaitu dengan intervensi nyamuk Aedes aegypti berwolbachia.

Penelitian bekerja sama dengan Monash University, Melbourne dan efektivitas intervensi sedang dibuktikan dalam kegiatan penelitian di Yogyakarta, yang sepenuhnya didanai Yayasan Tahija, Indonesia. Kegiatannya di penelitian menghasilkan karya bersama yang dipublikasikan di berbagai jurnal internasional, buku berjudul ''Besanan Nyamuk'' yang menceritakan proses bekerja bersama masyarakat dan pemangku kepentingan (Januari 2019), serta puncaknya, pengakuan berupa Habibie Award 2019.

Ia tidak menyangka bakal menjadi penerima Habibie Award 2019. Awalnya, kampus mengajukan tiga nama, termasuk dirinya. Dalam proses, ternyata ia menjadi penerima penghargaan bidang ilmu kedokteran.

Pada pidato saat menerima penghargaan, ia menyebut penanganan DB masih mengalami tantangan. Pasalnya, Badan Kesehatan Sedunia mengelompokkan dengue ke dalam penyakit yang (masih) terabaikan. Padahal Indonesia menempati posisi kedua dengan jumlah kasus terbanyak di dunia setelah Brazil (WHO, 2012).

"Sekalipun tingkat kematian akibat penyakit ini telah semakin menurun di Indonesia, namun pengendalian penyakit dengue masih menjadi tantangan besar. Di awal tahun 2019, berita mengenai DB merebak di berbagai surat kabar nasional dan daerah dengan peningkatan kasus yang terjadi hampir di seluruh kabupaten di
Indonesia," papar Uut yang juga piawai bermain piano dan beberapa kali menggelar konser kemanusiaan.

Ia berharap penelitian DB dan juga penelitian lain makin masif serta melibatkan banyak pihak atau multisipliner. Menurutnya ini menjadi kunci menangani penyakit di masyarakat termasuk DB. Selain itu, ia ingin penelitiannya bisa dilakukan di daerah-daerah yang tingkat kasusnya tinggi di Indonesia.


(Agung Priyo Wicaksono/CN26/SM Network)