logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 09 Februari 2008 NASIONAL
Line

Jejak "Terlupakan" Pers di Jateng

  • Peluncuran Buku PWI

PELUNCURAN BUKU: Ketua PWI Jateng Sasongko Tedjo menyerahkan buku Melacak Pers Jawa Tengah kepada Pemimpin Umum Suara Merdeka Ir Budi Santoso di Hotel Patra Semarang, Jumat (8/2). Acara peluncuran buku juga dihadiri di antaranya, Gubernur Jateng Ali Mufiz, Ketua PWI Pusat Tarman Azzam dan tokoh pers nasional Rosihan Anwar. (57)

TIDAK banyak orang tahu, Provinsi Jateng menjadi salah satu saksi bisu berkembangnya surat kabar di Tanah Air. Di provinsi inilah berbagai surat kabar telah berdiri. Namun, literatur yang mengurai panjang lebar surat kabar di Jateng sangat minim.

Berangkat dari dasar itu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng mencoba mengurai satu persatu "rahasia" panjang sejarah pers. Akhirnya, setelah melalui sebuah penelitian panjang, terbuatlan buku "Mencari Jejak Pers Jateng".

PWI Jateng menerjunkan tim yang diketuai oleh Dewi Yuliati dari Universitas Diponegoro (Undip), beranggotakan Triyanto Triwikroo, Endang Susilowati, Ngesti Lestari, Sutrisna, Soetjipto, Eko H Mujiharto, Sosiawan, Widyartono R dan Samsul Huda.

Buku setebal 282 halaman itu terbagi lima bab. Dimulai bab pertama dengan awal pertumbuhan pers di Jawa yang mengurai pers Eropa, Tionghoa, berbahasa melayu, pers bumiputera, masa penjajahan jepang, revolusi, Orde Lama, Orde Baru sampai reformasi. Bab dua, lebih menjelaskan pada organisasi kewartawanan dan pers. Bab selanjutnya pada profil jurnalis di Jateng dari Semaoen sampai H Hetami. Pada bab IV soal fungsi dan peran pers.

Peluncuran sekaligus bedah buku digelar di Poncowati Room Hotel Patra Semarang, Jumat (8/2), dibuka oleh Gubernur Ali Mufiz. Dalam membedah buku, turut menjadi pembahas yakni penulis serta ketua tim penyunting buku Dewi Yuliati, Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) M Nuh, mantan ketua PWI Jateng Bambang Sadono dan dimoderatori oleh Prie GS. Ketua PWI Pusat Tarman Azzam mengakui, tak mudah untuk menerbitkan buku Melacak Jejak Pers Jawa Tengah yang dinilainya sangat penting bagi insan pers Indonesia.

Disebutnya, hanya jurnalis pilihan yang dinilai punya peranan penting dalam khazanah pers dan perjalanan sejarah Indonesia. Itu dijadikan acuan untuk mengungkap sejarah pers di Jawa Tengah. "Menulis buku sejarah itu tidak mudah. Karena untuk memilah tokoh dalam buku ini begitu sulit," ujarnya.

Gubernur Jateng Ali Mufiz mengatakan, peluncuran buku tersebut adalah bukti peran pers dalam sejarah perkembangan Indonesia. Peran pers dianggap sangat membantu dalam menciptakan pemerintahan yang bersih. "Ada hal-hal yang secara kontekstual dan pragmatis tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Untuk itu butuh bantuan pers," tuturnya.

Managing Director Suara Merdeka Grup Kukrit SW mengaku bangga atas peluncuran buku tersebut. Pasalnya pers daerah mampu menyumbangkan buah pemikiran untuk tingkat nasional. Dengan mengedepankan kearifan lokal, pers mampu bertahan di tengah gempuran era globalisasi. (Fani Ayudea, Dicky Priyanto-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA