| Jumat, 08 Februari 2008 | NASIONAL |
LDNU Desak Ali Mufiz MajuJAKARTA- Pengurus Besar Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PB LDNU) mendesak H Ali Mufiz segera menyatakan sikap maju sebagai calon Gubernur Jawa Tengah. Satu-satunya partai politik yang masih membuka peluang untuk maju adalah PDI-P. ''Warga Nahdlatul Ulama di bawah sudah menunggu-nunggu ketegasan sikap Pak Ali. Menunggu apa lagi?,'' tegas Ketua LDNU Khoirul Huda kepada wartawan di Jakarta, Kamis (7/2). Khoirul bisa memahami sikap Ali Mufiz yang rikuh-pekewuh dengan Ketua PWNU Jateng H Muhammad Adnan yang maju sebagai calon wagub berpasangan dengan Bambang Sadono melalui Partai Golkar. ''Dalam persoalan pilgub di NU ada dua opsi. Pertama NU hanya mengajukan satu-satunya calon atau opsi kedua menyebar di semua calon harus ada kader NU-nya. Baik sebagai orang pertama atau orang kedua,'' tegasnya. Menurutnya, pada awalnya kiai-kiai NU sepakat opsi pertama semua mendukung NU hanya satu calon yaitu Muhammad Adnan, namun ternyata belum pasti PKB memunculkan kader NU juga sebagai cawagub yaitu Choliq Arif MSi berpasangan dengan Agus Soeyitno. Demikian pula Demokrat-PKS memunculkan kader nahdliyin sebagai cawagub yaitu H Sudharto MA berpasangan dengan Sukawi Sutarip SH. ''Sudharto menurut informasi yang kami terima pernah jadi pengurus Lembaga Pendidikan Maarif Jateng,'' tandasnya. Karena itu supaya seimbang, tidak ada pilihan lain kecuali mendorong Ali Mufiz sebagai calon gubernur Jateng melalui PDI-P. ''Kepada warga NU tinggal menyampaikan secara gamblang dan jelas, kalau warga nahdliyin ingin punya gubernur silakan pilih Ali Mufiz. Kalau ingin punya wakil gubernur silakan pilih Muhammad Adnan, Choliq Arif atau Sudharto. Namanya adil kan?,'' katanya sambil tertawa. Menurut dia dengan komposisi seperti itu mereka tinggal memilih dengan nyaman dan aman, tidak perlu gontok-gontokan apalagi harus berpecah-belah. Nonaktif Sementara itu di Jakarta Ketua Komisi Politik PBNU H Ahmad Bagdja mengatakan Ali Mufiz, Muhammad Adnan dan Sudharto merupakan kader NU terbaik. ''Mereka layak untuk memimpin Jawa Tengah dan pantas untuk jadi. Siapa pun yang maju kami berharap Nahdlatul Ulama yang menang di Jateng,'' tegasnya. Dia menyarankan agar Ali Mufiz segera bicara kepada publik dan tidak terlalu lama diam. Setiap kader NU sebagai pengurus atau bukan mempunyai hak untuk mencalonkan baik sebagai bupati/wakil bupati,wali kota/wakil wali kota, gubernur/wakil gubernur bahkan presiden. ''Harus disadari mereka yang akan maju mempertimbangkan kepentingan NU ke depan, kemaslahatan umat serta aspirasi masyarakat Jateng. Kami tetap berpegang teguh kepada khittah 1926 yaitu membebaskan warganya untuk mencari dukungan dari parpol jika mau tampil sebagai calon pemimpin sebagai kendaraan,'' paparnya. Namun Bagdja mengingatkan agar tidak menggunakan NU sebagai alat atau kendaraan politik sebab organisasi ini bukan partai politik. Menurut AD/ART, pengurus yang terlibat dalam proses pencalonan harus nonaktif, sehingga tidak menyalahgunakan atau menyelewengkan organisasi untuk kepentingan dukung-mendukung. ''Aturan mainnya sudah jelas, siapa pun yang maju ya harus nonaktif. Ini berlaku secara umum,'' tegasnya. Terpisah, Pengurus Besar Lembaga Ekonomi Nahdlatul Ulama Sunardji menyatakan dukungan kepada Ali Mufiz untuk maju sebagai calon gubernur periode lima tahun mendatang. ''Para pengusaha dan praktisi ekonomi di Jakarta sudah melihat keberhasilan Ali Mufiz memimpin Jateng. NU sekarang sudah punya gubernur, kok mau nyalon wakil gubernur lagi kan namanya mundur ke belakang tidak naik kelas,'' tuturnya.(wa-77) |