| Jumat, 08 Februari 2008 | NASIONAL |
Waspadai Longsor SusulanSeluruh Korban Tewas Ditemukan
BUMIAYU- Seluruh korban tewas akibat longsor tebing bukit di Dukuh Marenggeng, Desa Sindangwangi, Brebes berhasil dievakuasi oleh Tim SAR. Korban terakhir yang ditemukan, Kamis(7/2) pukul 14.45 adalah Herdi (34). Sementara enam korban lainnya masing masing Ruwab (32), Didi (4), Saeroh (30), Tarsumi (57), Kurni (6), Taryamah (50) ditemukan sehari sebelumnya dan langsung dimakamkan di pemakaman umum setempat. Evakuasi korban dilakukan oleh Tim SAR sejak Rabu (6/2) pagi. Proses evakuasi berjalan lama mengingat peralatannya sederhana dengan cangkul dan sekop. Padahal material longsoran bukan hanya tanah, melainkan pepohonan dan batu-batu besar. Alat berat baru bisa menjangkau lokasi, Kamis (7/2) sekitar pukul 11.00. Seperti diberitakan (SM, 6/2) hujan deras yang mengguyur Kecamatan Bantarkawung mengakibatkan bukit setinggi 100 meter di atas permukiman warga Dukuh Marenggeng, Desa Sindangwangi, Kecamatan Bantarkawung, Brebes, longsor menimbun tiga rumah warga dan menewaskan 7 penghuninya. Kades Sindangwangi Irawati Fatmah mengatakan, bencana itu berlangsung cepat. Diawali hujan lebat sejak pukul 15.00. Sekitar pukul 18.00 terdengar suara gemuruh dari bukit. Longsoran langsung turun ke aliran sungai kecil dan menghantam rumah penduduk. Santunan Korban Bupati Brebes H Indra Kusuma dan Wakilnya H Agung Widiyantoro SH MSi ikut menyaksikan evakuasi itu. Sementara Asisten I Setda Brebes Supriyono mengatakan selain menimbun tiga rumah, longsor merusak tujuh rumah dan tiga jembatan. Namun, Kantor Kesbanglinmas beserta Dinas PU Kabupaten masih menginventarisasi data kerusakan. "Belum bisa dipastikan berapa jumlah kerugiannya. Saat ini kita masih mendata kerusakan yang ada," kata Supriyono. Bupati Indra Kusuma langsung memberikan santunan kepada korban meninggal masing-masing senilai Rp 5 juta, korban luka Rp 2,5 juta dan bantuan operasional sebesar Rp 12,5 juta. Pemkab juga mendirikan posko dan dapur umum di lokasi kejadian. Sejumlah bantuan meliputi makanan siap saji seperti nasi dan mi instan, obat-obatan, dan tenaga medis. Sementara itu saat meninjau lokasi Gubernur Jateng Ali Mufiz, Rabu (6/2), meminta seluruh sarana infrastruktur jalan yang rusak akibat bencana alam segera dipulihkan. "Dalam waktu dekat kerusakan itu harus segera dipulihkan supaya masyarakat tidak terisolasi," katanya. Gubernur bersama rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 13.00 setelah menempuh perjalanan dengan ojek dari posko sekitar satu kilometer dari lokasi bencana. Gubernur meminta kepada pemerintah kabupaten setempat untuk melaksanakan penanganan bencana dengan cepat dan tepat. Pemprov menyediakan dana sebesar Rp 100 juta. "Dana itu adalah untuk operasional penanggulangan bencana di kabupaten Brebes," ujarnya. Longsor Susulan Longsor susulan di wilayah Brebes selatan diperkirakan masih akan terjadi. Dari hasil pengecekan petugas Perhutani KPH Pekalongan Barat ditemukan delapan daerah rawan longsor yang tersebar di wilayah hutan kawasan Kecamatan Bantarkawung dan Salem. Menurut ADM Perhutani KPH Pekalongan Barat, Zacky Supriyanto, daerah itu dinilai rawan karena kondisi perbukitannya mirip di Dukuh Marenggeng, Desa Sindangjaya, Kecamatan Bantarkawung, yang longsor Selasa (5/2) lalu. Apabila hujan deras turun, sewaktu-waktu bisa menyebabkan longsor dan sangat berbahaya. "Dari delapan daerah rawan itu, ada empat lokasi yang di bawahnya permukiman penduduk. Yakni, di Winduasri, Gununglarang, Indrajaya dan Marenggeng. Kami minta warga lebih waspada karena hujan deras masih terjadi," ujarnya, di sela-sela meninjau lokasi. Untuk mengatisipasilongsor di daerah tersebut, kata dia, pihaknya akan meningkatkan kerapatan tegakan. Terutama, diprioritaskan pada tebing-tebing yang curam. Selain itu, dipilih juga jenis tanaman yang mampu memperkuat kondisi tanah, seperti bambu dan sengon buto. "Kondisi hutan di kawasan Bantarkawung dan Salem relatif baik. Namun, kerapatan tegakan perlu kami lakukan di beberapa daerah yang curam, sehingga longsor seperti di Marenggeng bisa diantisipasi," paparnya. Bencana di Meranggeng terjadi berawal dari satu titik longsoran kecil di tebing sungai yang membelah perbukitan. Akibat hujan deras, longsoran semakin besar dan membendung aliran air. Karena tidak kuat, kemudian longsor menuju pemukiman penduduk. Direktur Utama Perhutani DR Ir Upik Rosalina Wasrin DEA menegaskan, bencana itu murni karena alam. Kondisi hutan pinus beserta tegakan di atas permukiman warga dalam kondisi baik dan aliran sungai jernih. "Hal ini menunjukkan tidak ada kerusakan hutan. Jika terjadi kerusakan maka air yang mengalir berwarna keruh," terangnya.(H51, H38,H7,H37-77) | ||||