| Selasa, 05 Februari 2008 | NASIONAL |
Mursito BM:Pak Harto Meredam Oposan dengan Politik PanganAlmarhum HM Soeharto tetap ramai menjadi bahan perbincangan. Mantan penguasa Orde Baru itu pun bagai berada dalam dua sisi: dipuja sekaligus ditentang. Ada yang menganggap berjasa, namun ada pula yang menganggap bersalah. Lantas mengapa itu bisa terjadi? Berikut petikan wawancara dengan Mursito BM, pengamat budaya dan politik dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bagaimana Anda memandang seorang HM Soeharto? Kalau itu dikaitkan dengan kekuasaannya di masa lampau, bisa dimulai dari bagaimana konsep kekuasaan menurut Jawa. Menurut Benedict Anderson, kekuasaan Jawa itu riil. Berbeda dengan kekuasaan dalam konsepsi barat. Di sana kekuasaan itu abstrak. Itu hanya merupakan wujud dari interaksi sosial, dari pola-pola hubungan antarmanusia. Pemilik kekuasaan, dalam arti hubungan sosial itu, seseorang yang bisa memerintah orang lain. Tapi kalau dalam konsepsi Jawa riil, kekuasaan bisa diwujudkan dalam bentuk-bentuk simbol. Berarti benar bahwa Pak Harto memang lekat dengan budaya Jawa? Ketika menjadi presiden, Soeharto memang cenderung menggunakan konsepsi kekuasaan yang seperti itu. Itu yang saya tangkap selama ini. Apa yang menarik dari konsepsi kekuasaan Jawa? Tentang legitimasi kekuasaan tentu saja. Kalau dunia modern, (kekuasaan) diperoleh melalui pemilu atau dipilih orang banyak. Tapi Jawa tidak cukup hanya itu. Tapi juga dikaitkan dengan wahyu, pulung. Bagi orang Jawa, wahyu bisa diupayakan melalui cara mengurangi diri, tirakat, puasa. Prinsipnya dengan mengurangi diri akan menambah kekuatan. Namun akibat dari kekuatan yang lebih itu, dalam konsepsi Jawa kekuasaan juga akan menjadi tunggal. Artinya bila seseorang memiliki kekuasaan, maka orang lain tidak boleh memiliki. Dengan semakin besarnya kekuasaan seseorang, maka akan mengurangi kekuasaan oleh penguasa lain. Jadi tidak akan ada kesejajaran kekuasaan. Adakah itu juga dilakukan Pak Harto Iya, tapi tentu tidak seperti yang dilakukan raja. Kalau zaman kerajaan, hegemoni atau dominasi kekuasaan itu memang tampak demikian wantah. Maka raja Jawa dulu dalam mengungkap kekuasaan dilakukan dengan menaklukkan wilayah tertentu. Pak Harto tidak seperti itu, karena memang lebih manusiawi. Dia hanya berusaha bagaimana sesegera mungkin mengatasi munculnya oposan. Inilah yang menjawab pertanyaan kenapa di zaman Pak Harto kondisi dianggap lebih aman. Di antaranya memang seperti itu. Berarti Pak Harto memang tidak bisa dipisahkan dengan budaya Jawa? Anggapannya memang seperti itu. Dan saya pikir kok Pak Harto sukses juga karena Jawa. Pengendalian diri yang luar biasa. Sabar dan kukuh dalam pendirian. Dia mendapat apa pun, termasuk kritik, sikapnya sulit ditebak. Karena dia tidak reaktif. Orang Jawa itu kalau marah tidak boleh ditunjukkan, kalau marah tidak boleh terbahak-bahak. Jadi kekuasaan itu juga dia peroleh karena kemampuan mengendalikan diri. Lalu kesabaran dan konsisten ketika mempertahankan program. Misalnya swasembada pangan, itu dicapai melalui tiga pelita. Pada pelita keempat baru tercapai. Ini tentu butuh kesabaran. Soal piandel (pegangan untuk kesaktian)? Saya tidak tahu persis, tapi saya kira sebagai manusia Jawa dia memiliki. Ada analisa, bahwa piandel Jawa itu tidak hanya berbentuk pusaka. Tapi ada piandel dalam dirinya. Yang saya katakan tadi lewat pengurangan diri. Dan yang berada di dalam itu kemudian dihubungkan dengan kewibawaan. Dalam kehidupan bangsa yang masyarakatnya masih banyak yang berpola pikir tradisional, paling tidak menghargai, kewibawaan pemimpin itu penting. Lihat saja ketika Pak Harto memiliki itu, tentu peraturan juga cenderung dipatuhi. Sistem juga berjalan dengan baik. Indonesia memiliki banyak suku. Tapi dengan pendekatan Jawa, Soeharto dulu bisa diterima di mana pun. Kenapa? Jawa itu sangat readaptis. Mampu memberikan tepa slira kepada lain suku, bahkan membuka pintu pihak luar untuk menjadi Jawa. Dalam konteks modern ini memang menjadi empati, mengerti dengan orang lain. Tapi Pak Harto juga cerdas dalam pemikiran modern. Benarkah? Tentang konsepsi kekuasaan modern, sepertinya Pak Harto melakukan cara berusaha mengerti apa yang dibutuhkan oleh rakyat. Itu dilakukan misalnya dengan politik pangan, lewat swasembada beras tahun 1980-an. Keberhasilan dia itu selain untuk rakyat, juga ada motifasi atau dorongan politik untuk semakin menguatkan kekuasaan (legitimasi). Faktanya memang demikian, dan itu masih diingat oleh masyarakat hingga sekarang. Ya kita lihat saja sekarang, ketika masyarakat cenderung kekurangan pangan, dalam arti kebutuhan panen kita tidak mencukupi untuk rakyat Indonesia, kemudian mengimpor, mahal. Maka mereka cenderung membandingkan dengan masa yang lalu. Di sinilah kemudian Soeharto semakin tampak ketokohannya. Bahwa ternyata rakyat masih mencintai dia, dan itu terjadi karena kebutuhan memang dicukupi. Apakah saat segala kebutuhan tercukupi masyarakat cenderung diam? Sepertinya memang demikian. Dengan politik pangan, beras diproduksi sebanyak-banyaknya lalu dijual dengan harga yang semurah-murahnya. Ini pada kepentingan yang lain ternyata cukup efektif untuk meredam oposan-oposan yang mungkin muncul. Dengan cara itukah Soeharto bertahan hingga 32 tahun lamanya? Benar, tapi tentu ini bukan satu-satunya alasan. Saya mengatakan, politik pangan itu memang cukup efektif untuk meredam gejolak yang mungkin terjadi. Masyarakat sekarang menganggap dulu lebih enak dan aman. Tapi faktanya Pak Harto tetap lengser. Apa yang terjadi sebenarnya? Perlu diingat pula, ketika kebutuhan tercukupi pendidikan juga akan semakin diperhatikan. Pada masanya, jelas itu memberikan pengaruh terhadap kekuasaan Pak Harto. Namun ketika semakin banyak orang yang terdidik, semakin banyak orang yang tahu kehidupan bernegara, maka konsep-konsep semacam itu tentu juga tidak akan disetujui. Tidak hanya ingin mung waton wareg. Lalu muncullah gerakan-gerakan yang prodemokrasi. Hidup tidak cukup hanya dengan makan roti katanya. Tapi juga butuh mengekspresikan kebebasan. Itu yang kemudian memaksa Soeharto harus lengser. Apakah hanya itu faktornya? Tentu saja tidak. Seperti yang saya katakan itu di antaranya. Faktor lain barangkali karena dia juga tidak mendapatkan informasi yang akurat. Ini sebenarnya juga akibat dari kekuasaan yang berlebihan. Karena takut, maka bawahannya sering menggunakan cara ABS (Asal Bapak Senang). Dengan cara seperti itu, tentu informasinya ya hanya yang menyenangkan saja. Sehingga, Pak Harto bisa saja mengambil keputusan yang mungkin salah. Atau mungkin juga memang ada kesalahan persepsi dari penggunaan konsep Jawa itu.(Wisnu Kisawa-60) |