logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 05 Februari 2008 NASIONAL
Line

''Kampanye'' di Harlah NU di Luar Pakem Acara

SEMARANG - Buntut adanya ''kampanye'' di peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-82 NU di Masjid Agung Jawa Tengah, membuat kalangan Syuriah PWNU Jateng tercengang. Pasalnya dalam acara itu terselip agar warga NU memenangkan pasangan calon gubernur Bambang Sadono-M Adnan, serta halaman masjid dibanjiri mobil pendukung pasangan itu. Katib Syuriah PWNU KH Ubaidullah Shodaqoh angkat bicara mengenai insiden tersebut. Menurut dia, acara harlah telah tersusun rapi, tanpa menyinggung unsur kampanye.

''Itu ('kampanye'-Red) berjalan begitu saja, keluar dari pakem yang direncanakan. Saya mengira Mbah Dim (KH Dimyati Rois-Red) akan memberikan sambutan datar-datar saja soal NU. Tapi, tiba-tiba terjadi seperti itu,'' katanya menyayangkan masalah itu.

Seperti diberitakan (SM, 4/2), saat memberikan mauidzah hasanah, Mbah Dim meminta untuk mengingat nama Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng M Adnan sampai 22 Juni nanti. Adnan telah dilamar Cagub Bambang Sadono sebagai calon wakil gubernur dari Partai Golkar. ''Mengetahui dan menghafal itu tidak perlu dijadikan wirid. Misalnya, membaca Masruri, Masruri, Masruri terus-menerus. Itu tidak perlu. Yang terpenting, untuk mengingat nama Doktorandus Mohammad Adnan, setidaknya sampai 22 Juni,'' kata Pengasuh Ponpes Al Fadlu Wal Fadhilah, Kaliwungu, Kendal tersebut.

Wakil Bendahara PWNU Jateng, Abdillah Arwani menyatakan, dilihat dari materi acara yang disusun oleh Najahan Musyafak dan Abu Hafsin (dari PWNU), tidak ada pencantuman penyebutan calon gubernur. ''Mungkin saja Mbah Dim dititipi, suruh menyebutkan nama pasangan itu ke warga NU,'' kata dia.

Dia mengatakan, sebenarnya puncak harlah di MAJT adalah mendengarkan tausiyah Rois Aam PBNU KHMA Sahal Mahfudh secara langsung dari Jakarta. Namun, berhubung peranti teleconference rusak, maka tausiyah tidak bisa diperdengarkan. Sebagai gantinya panitia meminta KH Dimyati Rois menyampaikan mauidzah hasanah.

Klarifikasi

Pihak Syuriah segera melakukan tabayyun atau klarifikasi kepada Adnan serta panitia Harlah. Diakui Abdillah Arwani, pihaknya merasa malu dengan Al Hidmah dengan insiden tersebut. Sebab dalam peringatan harlah NU, melibatkan jamaah pengajian Al Hidmah.

Ketua PWNU Jateng M Adnan tidak bersedia memberikan banyak komentar. ''Anda tanya saja ke Kiai Dim. Perlu Anda ketahui, perlu dibedakan antara jamaah dengan jam'iyyah NU. Jamaah NU punya hak politik, kalau jam'iyyah-nya tidak. Itu saja,'' tandasnya. (H37,H7-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA