logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 05 Februari 2008 NASIONAL
Line

Serba-serbi Kuliah di Singapura (2-Habis)

Giat Studi, Susah Mendapatkan Pacar

LANTARAN posisi geografisnya yang strategis, Singapura menjadi tempat pertemuan kultur barat dan timur. Kekhasan posisi geografis itu membuat orang bisa belajar banyak mengenai keragaman sosial budaya.

''Dari segi asal-usul kewarganegaraan, orang-orang yang kuliah, bekerja, atau tinggal di sini berasal dari 120 negara. Mahasiswa dari luar negeri yang belajar di sini berjumlah sekitar 80.000 orang,'' kata Sherina Chan.

Di tengah keragaman sosial budaya seperti itu, mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang kuliah di Singapura justru merasa tertantang untuk menunjukkan prestasi mereka. ''Anak-anak Indonesia justru lebih giat belajar di sini. Mungkin karena kami jauh dari orang tua sehingga lebih mandiri,'' kata Ruth Amerina Marbun (20), yang kuliah Desain di Raffles Design Institute. Ruth meraih Best Collection Award tahun lalu.

Veronika (19) juga berpendapat senada dengan Ruth. Gadis asal Batam itu telah setahun kuliah di jurusan Hospitality, Tourism Academy@Sentosa. ''Kalau nggak rajin, kami rugi. Karena kalau rajin dan mendapat nilai bagus, kami dipromosikan untuk ikut kerja magang di lingkungan industri pariwasata di sini,'' ujarnya.

Akademi pariwisata itu bekerja sama dengan puluhan tempat wisata, termasuk hotel dan restoran di Singapura. Di kampus LaSalle, mahasiswa asal Jakarta Andrean Prenata mengukir prestasi di bidang desain grafis. LaSalle yang berlokasi di kawasan McNally Street merupakan salah satu kampus modern di Singapura. Fakultas yang memiliki prestasi menonjol di Lasalle adalah Fakultas Desain dan Seni Pertunjukan. Jurusan Desain Grafis juga termasuk unggulan.

Singaporean English

Wilayah yang menjadi tempat pertemuan multikultur seperti Singapura tentu juga menciptakan tantangan kesenjangan sosial budaya. Mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang kuliah di sana juga merasakan hal itu, terutama pada masa-masa awal kuliah di sana.

''Iya sih, pada awalnya saya merasa asing. Mungkin karena waktu itu saya belum terlalu menguasai bahasa mereka. Logat bahasa Inggris saya juga mungkin berbeda. Namun lama-lama saya bisa juga menyesuaikan diri,'' ujar Marcella (20), gadis asal Bandung yang kuliah semester ketiga di jurusan Furniture Design, Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA).

Orang Singapura memang memiliki corak bahasa Inggris yang unik, yang biasa disebut ''Singaporean English''. Bila berbincang-bincang dengan orang Singapura keturunan Tionghoa, Anda akan mendengar bahasa Inggris yang bercampur dengan dialek hoakian (China perantauan).

Di ujung kalimat, mereka sering menambahkan akhiran ''a'' dengan logat dan intonasi khas hoakian. Belum lagi ada lafal kata yang terdengar berbeda dari yang kita pelajari di Indonesia. Misalnya, ''water'' jadi terdengar seperti ''wote-a''. ''Do you bring water?'' terlafal mirip ''Du-u bing wote-a''.

Dalam hal keyakinan religius, Alyza (20) mengatakan teman-teman kuliah dan dosennya menghormati perbedaan agama di antara mereka. ''Saya tidak pernah kesulitan untuk menjalankan shalat lima waktu. Namun untuk shalat, saya mencari masjid terdekat dari kampus LaSalle ini,'' ujar gadis asal Jakarta yang telah setahun kuliah di sana.

Keterkejutan budaya juga dialami Cheryl (24) dan Natalia (19), yang satu kampus dengan Marcella. Kedua gadis itu semula merasa kikuk dalam pergaulan di lingkungan kampus NAFA yang berlokasi di kawasan Bencoolen Street itu. Saat ditanya apakah perbedaan bahasa dan budaya itu menyebabkan mereka susah mendapat pacar?

''Ah, tidak juga. Saya merasa tidak ada yang cocok saja. Selain itu, di lingkungan kampus ini lebih banyak cewek daripada cowok. Kebanyakan cowoknya juga bersifat kecewek-cewekan,'' kata Natalia, mahasiswi asal Surabaya yang kuliah di jurusan Fashion Merchandise and Marketing.

Menurut penjelasan Asisten Manajer Publikasi NAFA Linda Geng Yan, NAFA merupakan salah satu kampus favorit bagi orang Indonesia.

''Di kampus ini, jumlah mahasiswa Indonesia menempati urutan kedua setelah China. Mahasiswa asal China berjumlah 310 orang, dari Indonesia ada 171, sementara yang asal Malaysia 62 orang,'' tuturnya. ''Sebagian besar mahasiswa Indonesia kuliah di jurusan Art Teaching dan Music.''

Kendati menjadi pendatang di Singapura, Cheryl menyatakan tidak ada perlakuan diskriminatif dari mahasiswa lain atau dosen. ''Dosen-dosen di sini banyak membantu kami sehingga kami mudah menyesuaikan diri,'' ujar Cheryl yang juga berasal dari Bandung.(Benu Hidayat)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA