| Selasa, 05 Februari 2008 | NASIONAL |
Alat Tempur Usang Di-grounded
JAKARTA- Karamnya panser amfibi jenis BTR-50P dalam latihan Armada Jaya XXVII yang menewaskan enam orang di Pantai Banongan, Situbondo menjadi pelajaran berharga. Pemerintah memutuskan, peralatan tempur yang sudah usang harus di-grounded. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) usai Rapat Terbatas (Ratas) Kabinet Indonesia Bersatu di Departemen Pertahanan, kemarin menegaskan, ''Alutsista (alat utama sistem persejantaan) yang sudah tua di-grounded, base out. Karena ini berkaitan dengan nyawa prajurit. Prinsipnya peralatan tempur harus safety.'' Presiden menegaskan hal itu menanggapi gugurnya enam prajurit marinir dalam musibah panser amfibi di Situbondo, Minggu (3/2). Panser amfibi itu buatan Rusia tahun 1962. Menurut SBY, grounded atau base out juga harus dilakukan untuk peralatan AU seperti pesawat angkut Hercules tahun 60-an dan berbagai peralatan tempur AD. Namun untuk penggantian alat baru serta peremajaan itu semua masih harus dihitung lagi untuk ditetapkan mana yang menjadi prioritas. ''Oleh karenanya, saya memberikan arahan untuk mendayagunakan industri dalam negeri. Jadi kredit ekspor digeser ke rupiah murni,'' katanya. Dalam Ratas tersebut, menurut Presiden, juga dilakukan presentasi oleh Dirut PT Pindad, Dirut PT PAL dan PT Dirgantara Indonesia (DI). Presiden berharap agar industri dalam negeri yang bergerak di bidang produksi peralatan tempur tersebut dapat bersinergi dalam memenuhi penyediaan alutsista. Dalam Ratas tersebut juga dibahas masalah penting masalah penting seperti pemutakhiran kebijakan pertahanan negara yang terus dilakukan Dephan, kebijakan pembangunan dan pemutakhiran kekuatan serta sistem persenjataan. Dikatakan, menteri pertahanan juga telah melaporkan kebijakan, rencana, dan program pengadaan alutsista. Dengan berbagai keterbatasan anggaran Dephan sudah merancang konsep Minimum Essential Force, yaitu kekuatan minimal yang bisa mengemban tugas-tugas menjaga wilayah NKRI, kerja nyata di masa damai terutama pertolongan terhadap korban bencana alam dan dapat siap tempur mempertahankan NKRI. Keluarga Korban Sementara itu, Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjoguritno (Mbah Tardjo) meminta pemerintah memperhatikan kesejahteraan dan pendidikan keluarga marinir korban tenggelamnya Panser Amfibi di Situbondo. ''Pemerintah harus memperhatikan keluarga dan anak-anak korban terutama dalam hal kesejahteraan dan pendidikan,'' katanya di Gedung DPR, Jakarta. Mbah Tardjo juga meminta pemerintah membuat perencanaan pembaruan alutsista TNI. Langkah cepat diperlukan untuk menghindari jatuhnya korban dalam latihan akibat alutsista yang sudah usang. ''Dalam hal ini Dephan harus cerdas. Harus ada perencanaan matang untuk memperbarui alutsista tua itu, agar prajurit tidak meninggal sia-sia,'' tandasnya. Ketua Fraksi PDI-P Tjahjo Kumolo menilai, insiden tenggelamnya panser amfibi dapat dihindari jika TNI lebih sigap mengevaluasi alutsista. Selain itu, pemerintah dan DPR juga harus mengoptimalkan anggaran pertahanan untuk peremajaan alutsista. ''Lebih baik dibentuk tim khusus untuk memeriksa kelayakan alutsista. Jika alutsista tua tetap dipakai, itu sama dengan mengorbankan prajurit dengan sia-sia,'' tegasnya. Pengamat militer dari Malang Muhadjir Effendy menyatakan, sangat ironis prajurit Indonesia banyak yang menjadi korban bukan karena perang, tapi karena alutsista yang sudah kadaluarsa. Dia menyatakan, adanya embargo oleh blok timur selepas putusnya hubungan Indonesia dengan Rusia sekitar 1965 cukup berpengaruh pada perawatan alutsista Indonesia. Waktu itu, kapal selam dan pesawat antara lain Mig 21 buatan Rusia. Kasus panser amfibi BTR 50P, menurutnya, memang tidak terawat dan tidak di upgrade sesuai dengan standar alutsista karena memang tidak ada suku cadangnya. "Apalagi Indonesia selain tidak masuk blok timur ataupun barat karena menganut politik bebas aktif, juga tidak pernah ikut dalam joint production. Hanya sebagai pengguna terbesar dari alutsista blok timur," katanya. Muhadjir yang meraih doktor di Unair Surabaya dengan disertasi "Profesionalisme Militer: Profesionalisasi TNI" itu menyarankan sistem kanibal untuk beberapa BTR. Lewat model kanibal, onderdil akan lebih terjamin karena masih orisinil atau standar daripada harus di-upgrade atau menggunakan peralatan yang tidak standar. (F4,J22,jo-60,49) | ||||