| Selasa, 05 Februari 2008 | NASIONAL |
Pernak-pernik Imlek 2559 (2)Kwee Lak Kwa, Inilah Dewa dari Pantura
UMUMNYA, dewa-dewi (sin bing) yang dipuja di kelenteng-kelenteng di Nusantara, berasal dari daratan China. Namun ada dua sin bing yang pada masa lalu diyakini pernah hidup dan singgah di Tanah Jawa. Mereka adalah Sam Poo Tay Djien dan Kwee Lak Kwa. Kisah mengenai Sam Poo Tay Djien, barangkali sudah banyak dipaparkan orang. Dia yang diyakini sebagai Laksamana Cheng Ho (1371-1434), pernah tujuh kali memimpin muhibah Dinasti Ming ke Nusantara. Sam Poo Kong di kawasan Gedungbatu, Semarang, adalah salah satu kelenteng yang memuliakannya. Namun, Kwee Lak Kwa? Tak banyak orang yang mengenalnya. Sebagai dewa, Kwee Lak Kwa dimuliakan oleh keturunan marga Kwee di sejumlah kelenteng di kawasan pantai utara (Pantura) Jawa. Dia menjadi dewa utama di Kelenteng Tek Hay Bio (Sinar Samudera) Semarang, Tek Hay Kiong Tegal, dan Kelenteng An Chen Bio Indramayu. Selain itu kimsin (patung) Kwee Lak Kwa juga terdapat di Kelenteng Jin De Yuan (Kim Tek Ie) Jakarta, Kelenteng Po An Tian Pekalongan, Kelenteng Tiauw Kak Sie Cirebon, Kelenteng Hok Tek Bio Brebes, serta Kelenteng Hok Ie Kiong Slawi. Di kelenteng-kelenteng itu, ia lebih dikenal sebagai Tek Hay Cin Jien (Hokkian) atau Ze Hai Zhen Ren (Mandarin) yang artinya malaikat penolong di lautan. Konon, itu adalah gelar yang diberikan oleh Kaisar Kian Liong dari Dinasti Chin atas jasa-jasa yang telah ia perbuat. Kenapa Kwee Lak Kwa hanya dimuliakan di kawasan Pantura? Jawaban dari pertanyaan itu dapat ditemukan dari kisah-kisah di seputar dirinya. Namun karena data-data historis mengenai Kwee Lak Kwa amat terbatas, kisah-kisah itu lebih banyak dibumbui oleh mitos. Pemimpin Pemberontakan R Soenarto, pemerhati budaya Tionghoa di Semarang, menuturkan Kwee Lak Kwa yang lahir pada 1695 merupakan utusan Kaisar Kian Liong untuk menjalin hubungan dagang dengan Jawa. Kwee kali pertama mendarat di Kota Tegal pada 1737. Dalam menjalankan tugas, Kwee kerap melakukan perjalanan ke kota-kota di pesisir utara Jawa, disertai dua orang abdinya, masing-masing seorang pribumi dan seorang Gurkha. Dia disegani oleh masyarakat setempat, sebab selain berniaga, dia menularkan ilmu menangkap ikan dan bercocok tanam. Tak hanya itu, Kwee juga disebut-sebut sebagai salah seorang pemimpin dalam pemberontakan orang-orang Tionghoa terhadap VOC pada 1741-1742, bersama Kwee An Say, Oey Eng Kiat, Tan (Souw) Pan Jiang, Tan Kwie Jan, dan lain-lain. Perlu diketahui, pemberontakan itu dipicu oleh peristiwa pembantaian orang Tionghoa oleh VOC di Batavia pada 1740. Sekitar 10.000 orang Tionghoa tewas dibantai. Orang-orang Tionghoa dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mengetahui peristiwa biadab itu segera melakukan perlawanan. Namun dalam perkembangannya, perlawanan mereka meluas karena mendapat dukungan dari pangeran-pangeran di Mataram. ''Dari Batavia, Kwee Lak Kwa beserta orang-orang Tionghoa lainnya terdesak. Dia mundur ke Cirebon, Tegal, hingga Semarang. Tahun 1742, Kwee An Say tertangkap, sedangkan Oey Eng Kiat dan Tan (Souw) Pan Jiang gugur dalam sebuah pertempuran di daerah Welahan, Jepara. Dan Kwee Lak Kwa menghilang di daerah Tegal,'' kata Soenarto. Arsip Kongkoan Sementara, arsip dalam Kongkoan (Majelis China) Semarang, seperti dikutip Liem Thian Joe, juga memuat kisah tentang Kwee Lak Kwa. Di sana Kwe disebut sebagai saudagar yang pernah tinggal di Semarang. Dalam aktivitasnya, dia kerap menggunakan perahu untuk mengangkut barang dagangan ke kota-kota pantai yang lain. Sekali berlayar, terkadang sampai berminggu-minggu. Suatu ketika, Kwee singgah di Tegal. Saat sampai di muara, perahunya diadang oleh sekelompok bajak laut. ''Kwee Lak Kwa tatkala liat ini glagat, dengan paras sebagaimana biasa laloe bilang pada itoe kawanan badjak: Kaoe orang inginken akoe poenya barang-barang? Boleh, kaoe tiada perloe toeroen tangan. Kaoe boleh ambil sa'anteronya, tapi toenggoe sampe akoe abis mandi dan toekar pakean.'' Seusai mandi dan berganti pakaian, Kwee Lak Kwa beserta pembantunya meninggalkan perahu dan pergi ke daratan. Para bajak laut yang sudah tidak sabar, segera menyerbu perahu bermuatan rupa-rupa barang itu. Namun, tak disangka-sangka, bertiup angin kencang disertai gelombang pasang, menenggelamkan perahu dan para bajak laut yang tengah menjarah. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu segera beranggapan bahwa Kwee Lak Kwa bukan orang sembarangan. Mengutip cerita tutur, Liem Thian Joe memaparkan kelanjutan kisah Kwee Lak Kwa. Seusai mandi dan berganti pakaian, dia menggelar tikar di permukaan laut. Bersama sang abdi setia, Kwee lantas menaikinya. Tak seberapa lama, angin wangi berkesiur, dan kedua orang itu pun lenyap dari pandangan. Namun, lanjut Liem Thian Joe, sejak peristiwa itu, Kwee Lak Kwa kerap dijumpai orang bersama abdinya di berbagai tempat dalam waktu bersamaan. Misalnya, ketika dia terlihat di Demak, ada orang lain yang melihat Kwee di Ungaran, Salatiga, Kendal, Buyaran, dan Jepara. Maka, orang-orang menganggap Kwee Lak Kwa telah menjadi dewa. Mereka kemudian membuat kimsin dan membangun tempat pemujaan untuknya. Sebagian nelayan di Pantura, utamanya di Tegal, menganggap Kwee sebagai dewa pelindung mereka di tengah samudera. Kendati demikian, sejauh ini belum ada sejarawan yang membuktikan historisitas Kwee Lak Kwa. Alhasil, sosoknya masih berada di wilayah abu-abu, antara mitos dan realita. Andai sosok Kwee Lak Kwa benar-benar ada, bisa dikatakan bahwa dia adalah dewa Tionghoa yang termuda. Sementara itu, she jit atau perayaan ulang tahun Kongco Tek Hay Cin Jien, diselenggarakan dalam waktu yang berbeda. Kelenteng Tek Hay Bio Semarang, misalnya, merayakannya pada tanggal 21 bulan pertama Imlek (Cia Gwee Jie It). Sedangkan di Kelenteng Tek Hay Kiong Tegal, pada tanggal 2 bulan kedua Imlek (Jie Gwee Ce Jie). Namun, meski usianya lebih muda, Kelenteng Tek Hay Kiong justru menjadi pusat perayaan she jit Tek Hay Cin Jien. Kimsin dari kelenteng-kelenteng lain, termasuk Tek Hay Bio, dikirim ke Tegal untuk mengikuti perayaan itu.(Rukardi-60) | ||||