| Minggu, 03 Februari 2008 | NASIONAL |
Elite Politik agar DewasaJAKARTA- Saling sindir tari poco-poco dan tari undur-undur antara Megawati dan ''anak buah'' SBY dinilai sebagai sikap kekanak-kanakan dalam berpolitik. Ketua FKB DPR Effendi Choirie meminta elite politik lebih dewasa dan tidak menerapkan politik saling ejek. "Kalau saling mengejek kayak anak kecil. Maka hentikanlah yang seperti itu, nanti diketawain rakyat kalau diterus-teruskan," kata pria yang biasa dipanggil Gus Choi itu, Sabtu (2/2) Anggota Komisi I DPR itu meminta SBY tetap konsentrasi menjalankan program-programnya. Kritik dan masukan harus dimaknai sebagai cambuk agar program peningkatan kesejahteraan rakyat dapat dipenuhi. "Pak SBY sebaiknya memang tenang saja kalau dikritik. Semakin tinggi pohon semakin kencang anginnya. Jadi biarin aja, yang penting terus kerja. Rakyat yang akan menilai nanti siapa yang kerja untuk rakyat dan tidak," kata Gus Choi. Politisi asal Gresik itu berharap, elite politik lebih santun dalam bermanuver. Saling ejek antarelite semakin membuat muak dan antipati pada parpol dan elite politik. "Jangan sampai rakyat marah melihat kelakuan elitenya yang hanya bisa bertengkar sendiri. Nanti demokrasi akan terancam kalau rakyat sudah antipati pada elite politik dan parpol," kata Gus Choi. Tidak Tajam Meski membuat ''telinga'' panas, namun bagi Megawati Soekarnoputri, kritikannya terhadap pemerintahan SBY-JK tidaklah tajam. "Ada yang bilang, Ibu Mega ini bicara terlalu tajam. Padahal bicara saya tidak tajam. Mungkin telinganya saja," kata Ketua Umum PDI-P ini saat berdialog dengan 300-an warga Kotabumi di halaman rumah makan Taruko Jaya, Kotabumi, Lampung Utara, Lampung, Sabtu (2/2). Menurut Mega, kritikannya terhadap pemerintah merupakan kenyataan sebenarnya dalam masyakat. Substansi kritikan itu diperolehnya saat berdialog dengan masyarakat ketika bersafari politik. "Jadi bukan saya yang bilang, tapi saudara-saudara semua. Saya hanya membawa dan menyampaikan aspirasinya ke Jakarta," ujar dia. Putri Proklamator Bung Karno ini juga membantah melakukan kampanye terselubung melalui safari politik, meski masa Pemilu 2009 tinggal sekitar lebih dari setahun lagi. "Saya tidak kampanye terselubung, terbuka saja. Saya ketua umum partai dan mantan presiden. Saya punya konstituen yang memilih saya. Jadi saya tidak bisa membiarkan begitu saja," ucapnya. (dtc-46) |