| Minggu, 03 Februari 2008 | NASIONAL |
Polisi-TNI Bentrok di Maluku Tengah
MASOHI-Dua anggota polisi dan seorang anggota TNI tewas dalam bentrokan antara polisi dan TNI di Kota Masohi, Maluku Tengah. Pangdam XVI Pattimura, Mayjen Rasyid Qurnuen Aquary dalam keterangannya Sabtu (2/2) kemarin, mengatakan, "Hingga kini data yang kami miliki 2 polisi tewas dan 1 anggota TNI. Mereka tewas karena tertembak dalam insiden itu." Dalam jumpa pers bersama Kapolda Maluku Brigjen Polisi Muhammad Guntur Ariyadi dan Gubernur Maluku Albert Karel Ralahalu di aula Markas Batalyon 731 TNI Kabaressi, Jl Raya Waipo, Maluku Tengah, Rasyid juga mengatakan, polisi yang tewas adalah anggota Dalmas, Bripda Musi Siolimbuna dan anggota Intel Polres Maluku Tengah, Bripka Michael Wattimena. Sedangkan anggota TNI yang tewas Prada Raymond Runtho, yang sehari-hari berdinas di Batalyon 731 TNI Kabaressi. Rasyid berjanji akan menindaklanjuti kasus tersebut dengan menindak tegas anak buahnya yang terlibat. Ia pun meminta kasus ini dapat diselesaikan melalui jalur hukum. "Saya minta kasus ini diproses sesuai hukum yang berlaku. Saya akan tindak tegas anak buah saya yang melakukan penyerangan. Atas nama institusi, saya mohon maaf," janjinya. Sementara itu, Kapolda Maluku Brigjen Polisi Guntur Ariyadi meminta kedua pihak segera menghentikan konflik tersebut. Ia berharap kedua kesatuan itu bisa rukun kembali. "Saya berharap kedua institusi menghentikan konflik dan kembali membina persatuan dan kesatuan," jelasnya. Usai memberikan keterangan pers, rombongan Pangdam, Gubernur, dan Kapolda pergi bersama-sama meninggalkan Markas Yon 731 TNI Kabaressi. Mereka mendatangi kediaman para korban tewas yang semuanya berada di Kota Masohi untuk mengucapkan belasungkawa. Dibakar Bentrokan berdarah TNI-Polri yang terjadi pukul 03.30 WIT tersebut membuat sejumlah infrastruktur di Kota Masohi rusak. Tercatat 59 rumah dibakar, termasuk kediaman perwira polisi dan rumah dinas Kapolres Maluku Tengah, AKBP Prayogo. Sejumlah pos polisi yang terdapat di kota itu juga turut menjadi korban 'pertempuran' tersebut. Akibat bentrokan ini pula, kondisi Masohi masih mencekam. Malam minggu yang biasanya ramai, kini sepi. Sekitar pukul 20.39 WIT, jalan-jalan di kota itu hanya dilewati 1-2 kendaraan bermotor saja. Mapolres Maluku Tengah masih dijaga ketat puluhan anggota Brimob dan Intel Polres bersenjata lengkap. Sedangkan markas Kodim yang berjarak 150 meter dari Mapolres juga dijaga puluhan anggota TNI. Saat bentrokan terjadi, banyak anggota polisi yang lari menyelamatkan diri hingga ke Gunung Karae. Belum jelas jumlah polisi itu, namun hingga saat ini mereka dikabarkan belum kembali. Sementara itu, pascabentrokan TNI-Polisi, petinggi TNI dan polisi turun tangan. Mereka meninjau tempat kejadian dan membahas kasus ini. "Saat ini Pangdam Pattimura dan Kapolda Maluku sudah turun ke lapangan. Kami belum bisa merinci kronologinya atau kejadian sebenarnya. Nanti kalau sudah dapat kronologinya akan saya sampaikan," ujar Pjs Kepala Penerangan Kodam VI Pattimura Mayor Sutadji saat dihubungi semalam. Sementara Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Sisno Adiwinoto juga mengatakan hal serupa. "Saat ini Kapolda dan Pangdam sudah turun. Kejadian ini dipicu salah paham perseorangan antara anggota TNI-Polri. Isu lainnya ada anggota TNI yang diculik," ujar Sisno. Isu penculikan seorang anggota TNI diduga menjadi penyebab bentrokan antara personel TNI dari Batalyon 731 Kabarresi dengan personel Polres Maluku Tengah. Peristiwa berawal dari jalinan kasih antara seorang gadis Desa Kampung Timur, Masohi, Maluku Tengah dengan seorang personel TNI dari Batalyon 731 Kabaressi. Sang gadis memiliki kerabat dari Polres Maluku Tengah. Entah apa yang terjadi, si kerabat dan beberapa rekannya memukul pacar gadis tersebut. Personel TNI itu pun tidak diketahui rimbanya sejak 30 Januari 2008 lalu. Dia diduga diculik. Kerabat TNI itu kemudian melapor ke kesatuan personel TNI tersebut. Batalyon 731 mengultimatum untuk mengembalikan personelnya. Karena personelnya tidak diketahui nasibnya, terjadilah penyerangan ke Polres Maluku Tengah pukul 03.30 WIT, Sabtu (2/2). Akibat bentrokan tersebut, tidak hanya Kantor Polres yang jadi korban. Rumah Kapolres di Jalan Maleo, dan asrama polisi dibakar. Asrama polisi juga bernasib serupa, hangus dibakar. Asrama itu ditinggalkan penghuninya, anak dan istri angota Polres Maluku Tengah, mengungsi ke rumah warga sekitar. Kantor Polres Maluku Tengah, di Jl Abdullah Soulissa hancur ditembaki. Sejumlah mobil polisi yang diparkir mengalami kerusakan serupa. Kaca-kaca mobil pecah. Ban mobil itu juga terlihat kempes. Kapolres Maluku Tengah AKBP Prayogo yang dikonfirmasi di kantornya enggan berkomentar. Wajahnya tampak tegang. (dtc-23) |