| Minggu, 03 Februari 2008 | NASIONAL |
Pembukaan Pasar Imlek Semawis 2559Tembang Jawa Mengalun di Pecinan
Lir ilir lir ilir Tandure wus sumilir Tak iji royo-royo Tak sengguh penganten anyar..... DUA belas orang siswa siswi yayasan Khong Kauw Hwee dengan fasih menyanyikan lagu Ilir Ilir. Sementara beberapa bocah lainnya ada yang bermain dakon dan menari. Tanpa jeda, Ilir Ilir dilanjutkan dengan lagu Menthok-menthok diiringi gamelan dari IAIN Walisongo Semarang. Sebelumnya, seorang siswi kelas satu SD Kristen 1 YSKI menyanyikan lagu Jangkrik Genggong dan sebuah lagu mandarin Thien Mimi dengan fasih, diiringi irama angklung dan kulintang. Sungguh, penampilan bocah-bocah SD itu memesona ratusan hadirin yang memadati kawasan Jl Wotgandul Timur saat pembukaan Pasar Imlek Semawis 2559, semalam. Betapa tidak, bocah-bocah dengan wajah oriental bisa menyanyikan tembang Jawa dengan fasih. Mendengar lantunan tembang Jawa di Kawasan Pecinan merupakan sebuah hal di luar kelaziman. Terlebih, bila dinyanyikan anak-anak dari etnis Tionghoa. Tapi, penampilan bocah-bocah di acara pembukaan Pasar Imlek Semawis semalam membuktikan bahwa suku atau etnis tak menghalangi untuk mempelajari budaya suku lain. Pagar kesukuan pun bisa ditepiskan. Semangat untuk merekat persaudaraan antaretnis dan antarbudaya sungguh terasa dalam acara yang digelar oleh Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) itu. Hal itu tampak dari sejumlah sajian yang ditampilkan. Selain tari Gambang Semarang yang dibawakan oleh mahasiswa Unnes, ada kolaborasi antara pengiris Kopi Semawis dengan gamelan IAIN Walisongo Semarang yang menyanyikan lagu Suwe Ora Jamu. Juga barongsai hingga tarian dan lagu-lagu oriental dari Gereja Bethel Indonesia (GBI). "Kami berharap, di tahun 2008 ini etnis Tionghoa bisa lebih mendapatkan kemudahan dalam hal masalah kewarganegaraan. Sampai hari ini kami masih menunggu kepastiannya," kata Ketua Kopi Semawis, Harjanto Halim. Begitu juga yang disampaikan Wali Kota Semarang, Sukawi Sutarip, saat memberikan sambutan. Menurut dia, respon masyarakat terhadap Pasar Imlek Semawis begitu positif. Terbukti meski sejak siang hingga malam hari hujan mengguyur Kota Semarang, namun Pasar Imlek Semawis tetap dipadati pengunjung. Dia juga menyatakan agar mulai sekarang segenap lapisan masyarakat mulai memupuk jiwa wirausaha. Sebab dengan mengembangkan jiwa wirausaha tak akan ada pengangguran. "Usaha itu seni. Jadi jiwa wirausaha harus benar-benar dimengerti dan dihayati," kata Sukawi. Sejumlah tokoh Tionghoa terlihat hadir dalam pembukaan itu, di antaranya anggota DPR RI Alvin Lee. Hadir pula Wakil Wali Kota Mahfudz Ali, Rektor IAIN Walisongo Prof Dr Abdul Djamil MA, dan budayawan Prof Darmanto Jatman. Pada malam itu pula diserahkan penghargaan kepada penggagas revitalisasi pecinan dan berdirinya Kopi Semawis, Prof Darmanto Jatman oleh ketua Kopi Semawis Harjanto Halim. Juga dilakukan penandatanganan sampul hari pertama perangko istimewa Imlek seri Zodiak Tahun Tikus oleh Sukawi Sutarip. Desain perangko itu menampilkan objek tikus. (Fani Ayudea, Budi Winarto-46) | ||||