| Minggu, 03 Februari 2008 | NASIONAL |
Gugur Seribu
UNTUK perkara menyanyi, melantunkan lagu dengan melodi indah, Mas Celathu angkat tangan. Dijamin sumbang. Itu sebabnya, setiap ada kesempatan hura-hura di mana orang musti menyanyi, misalnya pesta di kamar karaoke, Mas Celathu biasanya segera ngumpet. Biar tidak ketiban sampur, menerima giliran, untuk berdendang. Jangankan nyanyi beneran dengan iringan organ tunggal, lha wong rengeng-rengeng di kamar mandi pun, yang terdengar pasti suara blero. Kelemahan yang melekat pada dirinya itu bukan hanya selalu meleset mengambil nada, tapi juga menentukan saat kapan harus mulai mangap. Seringnya telat, sehingga syair dan melodi saling berkejaran. Jadinya ya pasti ambyar. Makanya, setiap didesak untuk menyanyi, Mas Celathu dengan tangkas berkilah, "Maaf ya, saya belum siap untuk bunuh diri. Bagi saya, menyanyi adalah membuka borok dan mempermalukan diri, he he he." Baginya, mengakui kekurangan dan kelemahan seperti ini jauh lebih baik, katimbang memaksakan diri. Daripada jelas-jelas jagoan blero, tapi tetap ngotot ingin pamer nyanyi. Itu anarkhis namanya. Pasti akan menyiksa pendengarnya. Memang kerap terjadi, di berbagai pesta internal atau di kafe, bapak atawa ibu yang berstatus atasan-mungkin pejabat atau pemimpin perusahaan-nekat tarik suara. Penampilan dan gayanya meyakinkan. Mungkin sejak dari rumah sudah ancang-ancang bakal jadi bintang. Tapi begitu njeplak, astagafirullahÖ..suaranya tak lebih merdu dari kambing mengembek. Dan hebatnya lagi, biasanya para anak buah pada bertempiksorak memberi aplaus, seakan-akan sedang menikmati lantunan indahnya suara Krisdayanti. Mas Celathu sadar sesadar-sadarnya, tak ingin jadi kambing yang mengembek. Biarpun didaulat dengan paksa, dia akan tetap menggeleng. Agaknya dia tergolong manusia "yang tahu bahwa dirinya tidak tahu". Bukan sejenis manusia "yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, tapi sok tahu". Menurut catatan sejarah yang belum pernah ditulis, Mas Celathu hanya bersedia menyanyi tatkala melakonkan watak yang diperankannya di panggung tonil. Biar suaranya sember, apa boleh buat, dia jalankan kewajiban itu sebagai totalitas profesionalnya. Itupun dia cukup rewel. Sering mengubah nada seenaknya. Minimalnya, para pemusik harus tunduk berkompromi dengannya. Bukannya penyanyi menyuarakan aransemen sang komponis, melainkan aransemen yang harus menyesuaikan keterbatasan penyanyinya. "Ha ha ha, supaya aku bisa tercitrakan bisa nyanyi beneran," kata Mas Celathu membocorkan siasatnya. Untungnya, para penata musik yang selama ini bekerja sama dengannya, adalah kreator-kreator yang baik hati. Bersedia dijajah oleh bocah kenthir ini. Tapi pekan lalu, Mas Celathu gantian yang terjajah. Setiap ia menyetel televisi atau radio, kupingnya disergap lantunan lagu "Gugur Satu Tumbuh Seribu". Lagu itu bergema di mana-mana. Menjadi teror yang mengepung dirinya. Sepertinya ia tak bisa beringsut meloloskan diri dari isakan lagu yang mendayu-dayu itu. Lagu yang menyampaikan pesan, bahwa hari ini telah gugur seorang pahlawan, dan hendaklah segera lahir seribu pahlawan baru. Sebenarnya, Mas Celathu tak berkeberatan terhadap lagu itu. Juga terhadap penyajian fakta itu. Media massa seperti koran, televisi, dan radio, tugasnya memang memberitakan kenyataan, terlebih jika kenyataan itu punya nilai berita tinggi. Tetapi jika media massa kehilangan daya kritis, atau malah secara sengaja mempersembahkan fakta yang telah dipelintir, seolah-olah hari ini telah gugur seorang pahlawan, Mas Celathu jadi bingung. Dia tidak mudheng. "Emang yang gugur seorang pahlawan?" tanyanya dalam hati. Bukankah pemerintah masih mengambangkan status hukumnya sebagai terpidana, dan menuntut secara perdata atas orang yang kita sangka sebagai pahlawan itu? "Gitu aja sampeyan gusar. Mbok ya sudah nggak usah dipersoalkan. Lha wong orangnya ya sudah mati. Kalau perlu sampeyan kasih maaf sama tokoh itu," kata Mbakyu Celathu. "Ngasih maaf? Memangnya saya Tuhan? Urusan dosa manusia, yang berhak ngasih maaf itu ya Tuhan. Saya sama sekali tidak punya hak untuk memberi maaf kepada siapa pun, kecuali seseorang itu secara langsung pernah mencelakai saya," jawab Mas Celathu sambil meneruskan, "Lha kalau persoalannya hukum, biarlah itu diselesaikan secara hukum. Kan sudah ada tatanan yang mengaturnya." "Tapi sampeyan kan diuntungkan ta. Sampeyan kan sering menirukan suara tokoh itu. Emang sudah bayar royaltinya?" Mas Celathu yang memang kerap memparodikan tokoh itu dengan mengimitasi suaranya, tergeragap juga. Lalu dengan tangkas dia menyergah, "Akan saya bayar royaltinya, setelah tokoh itu membayar royalti kepada keluarga jutaan korban yang telah disengsarakannya." Mas Celathu lalu menjejer berbagai kasus pembantaian manusia di masa lalu, yang telah dijadikan ancik-ancik tahta kekuasaannya. Jutaan keluarga dipunahkan masa depannya karena dikelompokkan sebagai anggota partai terlarang. Yang lainnya lagi ditenggelamkan nasibnya dalam waduk raksasa, ditumpas karena berbeda pendapat, disirnakan karena mempertahankan tanahnya, dan lain-lain. Mengingat rangkaian kekejaman terhadap kemanusiaan itulah, Mas Celathu jadi semakin gemas dengan lagu "Gugur Satu Tumbuh Seribu" yang mengiringi berbagai pemberitaan. Sepertinya ia ingin mengubah syair lagu itu menjadi, "Gugur Seribu Satu pun Jangan Tumbuh". Betapa berbahayanya jika sampai syair itu bertuah. Bayangkan, satu orang saja berhasil membinasakan jutaan manusia, apalagi jika lahir lagi seribu manusia sejenis itu. Peradaban bisa ambyar berantakan. Dan ketika Mas Celathu, melalui pesan pendek, menanyakan hal ini kepada seorang kiai di Rembang yang diidolainya, dia memperoleh jawaban yang mengejutkan, "Sekarang sudah lahir yang seribu" itu. Mas Celathu termangu memandang SMS yang baru diterimanya. Benar juga jawaban Pak Kiai ini. Yang gugur memang cuma satu, namun diam-diam telah terwariskan keganasan, ketegaan dan kekejaman dalam ribuan wajah. Dan kini, rupanya kita sedang hidup dalam kepungan keganasan baru. (45) | ||||