| Minggu, 03 Februari 2008 | NASIONAL |
Penerbangan Belum Normal
JAKARTA- Banjir di Jakarta kemarin berangsur surut, namun itu belum sepenuhnya memulihkan aktivitas di wilayah tersebut. Jadwal penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta belum normal. Angkutan kota dan kereta api banyak yang belum beroperasi. Sementara aktivitas di beberapa ruas jalan, pabrik, dan perkantoran, juga masih lumpuh. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyebut banjir yang menggenangi sejumlah ruas jalan protokol akibat buruknya sistem drainase. Padahal perbaikan drainase baru saja dilakukan di beberapa titik. Dia sudah memerintahkan jajarannnya untuk memanggil kontraktor yang mengerjakan drainase itu. "Saya sudah perintahkan kepala Dinas Pekerjaan Umum untuk memanggil para kontraktor. Suruh mereka lihat banjir di jalanan, kok hasil pengerjaan drainase begitu buruk," katanya. Fauzi Bowo yang baru beberapa bulan lalu terpilih sebagai gubernur melihat buruknya pengerjaan drainase tidak hanya di Jalan Sudirman-Thamrin, melainkan di tempat lain seperti Kwitang, Cempaka Putih, dan Sam Ratulangi. Dia memerintahkan masing-masing wali kota untuk menginventarisasi semua proyek pengerjaan drainase dan meminta para kontraktor untuk memperbaikinya. Sementara itu belum normalnya jadwal penerbangan di Soekarno-Hatta, selain akibat buruknya cuaca sejak Jumat (1/2) juga karena jalan menuju bandara masih tergenang air, sehingga sampai sabtu sore masih terjadi antrian kendaraan. Untuk memberikan toleransi kepada para penumpang, sebagian maskapai menunda dan ada pula yang membatalkan jadwal penerbangannya. Seorang petugas Posko Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Edi Suryanto membenarkan kalau Sabtu (2/2) sebagian jadwal penerbangan masih belum normal. Bah-kan dia menyebut sebagian besar maskapai mengalami keterlambatan. Edi menyebutkan, kondisi bandara sebenarnya sudah bisa dimanfaatkan maksimal, hanya saja yang menjadi masalah adalah akses tol menuju bandara yang masih tergenang air. Situasi itu mengakibatkan para penumpang yang sudah memiliki tiket, terlambat tiba di bandara. Kepala Komunikasi Eksternal Garuda Indonesia Singgih mengakui, penundaan pemberangkatan pesawat sebagai imbas penutupan bandara pada Jumat (1/2). "Sekarang kami berupaya untuk memu-lihkan jadwal pemberangkatan," kata dia. Banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya juga menyebabkan jalur kereta api Jakarta-Tangerang di kilometer 17+600, antara Rawa Buaya-Kalideres belum bisa dilalui karena longsor. "Jalurnya belum selesai diperbaiki," kata juru bicara PT Ke-reta Api Indonesia Daerah Ope-rasional I Jabodetabek Akhmad Sujadi. Kerugian akibat banyak kereta tidak beroperasi dan kerusakan prasarana seperti terjadinya longsor di sekitar rel karena tergerus air yang deras, mencapai lebih dari Rp 1 miliar. "Kerugian akibat banyaknya kereta yang tidak beroperasi mencapai Rp 550 juta, ditambah kerusakan akibat rel longsor yang mencapai sekitar Rp 500 juta," ujar Sudjadi. Selain kerugian materi, banjir juga mengakibatkan tiga orang tewas terseret air. Menurut Kepala Penanggulangan Krisis Departe-men Kesehatan Rustam S Pakaya, ketiga korban tewas adalah Fahmi (3) warga Kelurahan Joglo, Kebon Jeruk, Poniyem (50) warga Kelurahan Kembangan Utara, Kembangan, dan Yuyarnel (20) warga Kelurahan Kota Bambu Utara, Palmerah. Ketiga korban semuanya berdomisili di Jakarta Barat. Dia mengatakan, banjir juga mengakibatkan ribuan warga ibu kota mengungsi ke berbagai tempat. Di Jakarta Barat, lanjut Rustam, pengungsi mencapai sekitar 3.680 orang, di Jakarta Timur 2.000 orang, dan Jakarta Pusat 600 orang. Fauzi Bowo mengatakan, ke depan, sebagai langkah antisipasi banjir pemda akan menerapkan sistem perawatan drainase secara berkesinambungan. Dia menekankan pentingnya optimalisasi fungsi dan pengaturan pintu air Manggarai sebagai salah satu sarana pengendali banjir di ibu kota. Sebab untuk mencegah terjadinya genangan khususnya di kawasan Thamrin-Sudirman, yakni dalah dengan mengalirkan air ke Banjir Kanal Barat (BKB) yang notabenenya berawal dari PA Manggarai tersebut. Dia menjelaskan, genangan air yang terdapat di Jl Thamrin dan Sudirman dialirkan ke Kali Cideng Jakarta Pusat, yang selanjutnya dipompakan ke BKB melalui PA yang terdapat di Tarakan. Jika pengaturan PA Manggarai tidak benar atau ketinggian air di BKB lebih tinggi, maka air dari Kali Cideng tidak bisa dipompakan ke BKB. "Inilah yang menjadi penyebab genangan di kawasan Thamrin-Sudirman dan sekitarnya sehingga diperlukan waktu cukup lama untuk mengalirkan genangan air tersebut ke Kali Cideng kemudian diteruskan ke BKB. Jadi sistem pengendalian banjir tersebut saling terkait satu sama lain." Pemompaan air ke BKB tersebut baru bisa dilakukan dengan catatan tidak ada air pasang laut, sehingga air dapat dipompakan ke laut. "Kalau keduanya terjadi pada saat bersaman maka musibah banjir seperti tahun 2002 dan tahun kemarin (2007) terulang kembali," katanya. (bn,J21,A20-48) | ||||