logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 Februari 2008 NASIONAL
Line

Rohainil Terisak, Indra Bawa Alquran

JAKARTA - Air mata mengalir di pipi terdakwa kasus Munir, Chief Secretary PT Garuda Indonesia, Rohainil Aini. Perempuan itu terisak saat membaca pledoi alias pembelaan. "Saya sedih dan kecewa. Betapa terpukul saat ditangkap seperti penjahat dan ditahan sejak 14 April 2007 sampai sekarang," ujar Rohainil sambil menangis.

Hal itu disampaikan dia dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl Gadjah Mada, Jakarta, Jumat (1/2). Dia merasa sangat putus asa saat harus hidup di penjara. Padahal dia sudah mengabdi di Garuda hampir 30 tahun tanpa cela.

"Saya kaget sekali dituduh memalsukan surat dalam kasus Polly (Pollycarpus-Red). Padahal membuat nota perubahan adalah bagian tugas saya selama 22 tahun," imbuh mantan pramugari ini.

Saking tertekannya lantaran hidup di penjara, Rohainil nekat mengirim surat kepada Presiden SBY, mengatakan apa yang dirasakan dan dialaminya. "Demi Allah, demi Rasulullah, saya tidak melakukan yang tidak baik," imbuh dia.

Bawa Alquran

Di tempat yang sama, Indra Setiawan, terdakwa pembantu pembunuhan Munir, membawa Alquran saat membaca pledoi alias pembelaan di muka sidang.

"Sejak awal menerima surat dari BIN yang ditandatangani As'ad agar menempatkan Polly sebagai staf perbantuan di corporate security adalah awal malapetaka saya," ujar Indra.

Surat dari BIN itu, lanjut dia, pasti akan disambut baik. Indra mengira, ada operasi intelijen, baik untuk kepentingan Garuda maupun negara. "Surat jelas dari BIN, apa harus saya perkirakan untuk pembunuhan? Kalau dari orang tidak jelas mungkin saya berpikir begitu," sambung pria yang sudah 27 tahun bekerja di Garuda ini.

"Kalau saya tahu surat dari BIN ini untuk membunuh, pasti tidak saya respons. Buat apa takut kehilangan jabatan daripada membantu melakukan pembunuhan," tutur dia. Disampaikan mantan Dirut PT Garuda Indonesia itu, dalam sidang tidak ada fakta yang menyatakan sengaja memberi sarana untuk pembunuhan berencana.

Menurutnya, tindak lanjut surat dari BIN dengan menerbitkan surat tugas kepada Polly juga tidak melanggar aturan. Penerbitan surat tugas pada penerbang agar menjadi staf di corporate security juga dilakukan Dirut Garuda sebelumnya pada 1980-an. (dtc-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA