| Jumat, 01 Februari 2008 | NASIONAL |
Dua Juta Perempuan Irak Menjanda
BAGDAD - Perang berkepanjangan telah menyebabkan wanita-wanita Irak kehilangan suami mereka. Jumlah janda di Irak terus bertambah dari hari ke hari. Dan umumnya, mereka terlilit dalam lingkaran kemiskinan karena tidak ada lagi pencari nafkah bagi keluarga. "Apa yang harus mereka lakukan kini? Celakanya, kelompok-kelompok teroris terus memanfaatkan kemiskinan mereka," kata Samira al-Moussawi, ketua komisi perempuan Parlemen Irak. Moussawi memperkirakan, sekitar satu juta wanita Irak telah menjadi janda. Namun Menteri Urusan Wanita Narmeen Othman menyatakan jumlah janda di Irak mencapai dua juta orang. Menurut data Kementerian Perencanaan Irak, total penduduk negara itu adalah 27 juta orang. Ada 8,5 juta wanita yang berusia 15 sampai 80 tahun. "Jumlah janda terus bertambah setiap hari. Situasi ini bakal menjadi bom waktu. Terlebih lagi, sebagian besar dari mereka masih berusia muda. Mereka bagaikan menjadi tawanan di rumah sendiri," kata Othman. Menurut adat-istiadat masyarakat Irak, perempuan hanya memiliki peran kecil dalam perekonomian keluarga. Apalagi jika mereka tinggal di daerah-daerah pelosok. Biasanya, mereka disuruh tinggal di rumah. Tidak boleh bekerja di luar rumah. Saddam Lebih Baik "Setiap minggu saya menerima puluhan surat dari janda-janda itu. Mereka selalu mengeluh tentang kesengsaraan dan minimnya uang tunjangan yang mereka terima," kata Moussawi. Menurut pendapatnya, zaman pemerintahan Saddam Hussein jauh lebih baik bagi para janda Irak. Pada masa itu, setiap janda mendapat tunjangan bulanan, sebidang tanah dan rumah, serta sebuah mobil. Saddam juga memberikan penghargaan dan dana insentif kepada tentara yang menikahi janda. Namun kebijakan itu dihentikan sejak Saddam digulingkan melalui invasi Amerika Serikat. Dampak dari perbedaan kebijakan itu dirasakan oleh dua wanita bersaudara, Um Baqir dan Um Mohammed. Keduanya sama-sama telah kehilangan suami mereka meski dalam rentang waktu yang berlainan. Suami Um Baqir dibunuh sekelompok milisi bersenjata di sebuah pos pemeriksaan di Bagdad selatan Maret lalu. Sementara Um Mohammed kehilangan suaminya pada 1999. Suami Um Mohammed merupakan salah satu dari ribuan pemberontak syiah yang dieksekusi oleh aparat Saddam. Masing-masing janda itu memiliki empat anak. Mereka tinggal bersama di satu rumah kecil di perkampungan kumuh Kota Sadr. Untuk menutupi kebutuhan hidup, mereka hanya mengandalkan bantuan dari sanak saudara. Kedua janda itu sama sekali tidak mendapat tunjangan dari pemerintah. "Kehidupan keluarga kami sangat bergantung pada kakak saya," kata Um Baqir. "Putri sulung saya kini memasuki tahun terakhir di sekolah dasar. Saya tidak ingin dia berhenti sekolah. Namun biaya sekolah sangat mahal." Menurut statistik, hanya 84.000 janda mendapat bantuan keuangan dari Kementerian Tenaga Kerja dan Urusan Sosial. Tunjangan itu berkisar 50.000 sampai 120.000 dinar Irak (sekitar Rp 370.000 sampai Rp 880.000) per bulan. "Tunjangan itu tak ubahnya obat penghilang nyeri, tetapi tidak menyembuhkan penyakit sesungguhnya," kata Moussawi. Komisi pimpinannya telah mengajukan rancangan undang-undang tentang kesejahteraan para janda Irak. Tujuannya agar mereka tidak terjerumus dalam prostitusi atau dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok militan. Namun meski sudah dua kali dibacakan di sidang parlemen, rancangan undang-undang itu tidak digubris oleh pemerintahan Perdana Menteri Nuri al-Maliki. "Mereka terlalu sibuk dengan politik dan situasi keamanan. Mereka melupakan hal-hal lain yang juga sangat penting," kata Moussawi. Menteri Tenaga Kerja dan Urusan Sosial Mahmoud al-Sheikh Radhi mengakui bahwa kementeriannya hanya memberikan sedikit tunjangan kepada para janda. "Nilai tunjangan itu tentu tidak cukup. Kami hanya menyalurkan dana yang telah dialokasikan untuk kami. Hanya sebesar itulah yang ada dalam anggaran pemerintah," ujarnya.(rtr-ben-25) | ||||