logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 01 Februari 2008 NASIONAL
Line

Orang Kalang di Simpang Zaman (2)

Obong Sependhak untuk Lancarkan Arwah


SM/Rukardi OBONG SEPENDHAK: Ritus obong sependhak masyarakat Kalang di Desa Montongsari, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal. (57)

SENIN (28/1) pukul 03:00, hawa dingin membungkus Desa Montongsari, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal. Di saat kebanyakan orang masih terlelap tidur, puluhan warga desa itu, justru terjaga. Di pelataran rumah milik Supo (55), mereka menyiapkan upacara obong sependhak, sebuah ritus kematian purba masyarakat Kalang.

Dipimpin Wariyah (40) dukun Kalang dari Dukuh Karangsari, dan cantriknya, Wanti (45), orang-orang itu membakar puspa, yakni boneka kayu representasi sosok Mak Djuwariyah- kakak kandung Supo- yang telah meninggal setahun lalu. Turut dibakar, benda-benda peninggalan kesukaan almarhumah, seperti kebaya, kain, sandal, kerudung, dan uang receh.

Benda-benda itu diletakkan di dalam sebuah pancaka (gubuk kecil dari bambu dan alang-alang), sebelum akhirnya dibakar. Hadirin menjaga api terus menyala, menghanguskan pancaka seisinya sampai tak bersisa. Mereka percaya, jika itu terjadi, lancarlah perjalanan arwah Mak Djuwariyah sampai ke alam sana.

Sekitar 30 menit, api padam setelah menjalankan tugasnya dengan sempurna. Orang-orang merasa lega. Sebagian di antara mereka segera menyerbu, mengorek-ngorek abu, mencari uang receh di sisa pembakaran.

Lebih Njlimet

Obong sependhak hanyalah satu di antara seabrek ritus yang masih dilaksanakan orang-orang Kalang di Kabupaten Kendal. Laiknya tradisi Jawa pada umumnya, mereka juga menggelar ritus pascakematian, seperti geblakan, nyurtanah, nelungdina, mitungdina, matangpuluh, nyatus, mendhak, dan nyewu. Bedanya, ritus orang Kalang terasa lebih arkais dan njlimet.

Di luar ritus kematian, masih ada upacara lain yang dilakukan orang Kalang secara berkala, seperti ewuhan dan gegalungan. Ewuhan adalah ritus penghormatan untuk leluhur mereka, Demang Kalang. Orang Kalang meyakini leluhur pertama lahir pada Selasa Wage, sedangkan leluhur kedua pada Jumat Wage. Setiap hari-hari tersebut (empat kali dalam setahun), orang Kalang memberi sesaji berupa gemblong, pisang, nasi kluban lengkap dengan lauknya, serta ingkung ayam.

Adapun gegalungan merupakan medium komunikasi antara orang Kalang dengan leluhur yang dimitoskan sebagai anjing. Ritus itu biasanya dilakukan sebelum melaksanakan hajat tertentu. Untuk mengetahui adanya restu leluhur, malam hari, orang Kalang menebar tepung di lantai rumah bagian dalam. Jika esok hari terlihat jejak kaki anjing di lantai, mereka yakin leluhur merestui hajat itu.

Pengaruh Islam

Kecuali gegalungan-yang sudah jarang, sebagian besar orang Kalang di Kabupaten Kendal masih menjalankan ritual-ritual itu. Namun dalam pelaksanaannya, ritus-ritus Kalang sudah dipengaruhi oleh tradisi Islam. Taruh misal, penyelenggaraan walimahan sebelum ritus obong sependhak, serta pelafalan doa-doa Islam di antara mantra dukun.

Orang Kalang memang tak menutup diri. Mereka tak menolak unsur budaya lain secara frontal. Bahkan sejak Islam masuk ke Tanah Jawa, mereka secara bergelombang menjadi penganutnya. Kendati demikian, orang Kalang tak meninggalkan ritus-ritus yang diwariskan nenek-moyang mereka.

Sejauh ini, relasi Islam dengan tradisi Kalang di Kabupaten Kendal berjalan seiring. Sebagai muslim, orang-orang Kalang tak menganggap ritus arkais mereka sebagai perbuatan syirik. Bagi mereka, Islam adalah agama, sedangkan ritus Kalang merupakan tradisi. Dua hal itu tak bisa dipersamakan atau dipersatukan.

"Kami hanya menjalankan naluri, yaitu naluri sebagai orang Kalang," ujar Pani Suyoko (65) tokoh masyarakat Kalang dari Desa Montongsari. Pemahaman itu sudah demikian melekat. Maka tak perlu heran jika banyak orang Kalang yang meski telah menunaikan ibadah haji, tetap menjalankan ritual-ritual leluhurnya. Taruh misal H Djumadi Hermanto dari Dukuh/Desa Krompaan, Kecamatan Gemuh yang meninggal pertengahan Januari lalu. Tujuh hari setelah kepergiannya, pihak keluarga menyelenggarakan ritus obong mitung dina. Benda-benda peninggalan Djumadi, termasuk pakaian ihram, turut dibakar.

Kiai-kiai yang ada di lingkungan permukiman Kalang juga tak pernah mengungkit-ungkit persoalan ritus. Dengan demikian, nyaris tidak pernah terdengar adanya gejolak terkait soal keyakinan di antara mereka.

"Wong Kalang itu juga nglampahi syariat, seperti shalat, puasa, zakat, dan ibadah haji. Jadi tidak ada persoalan," imbuh Pani.

Kalang Sejati

Orang Kalang yang berkewajiban menjalankan ritus-ritus leluhur adalah kelompok Kalang sejati. Mereka keturunan yang lahir dari kedua orang tua orang Kalang asli. Kelompok itu punya kewajiban moral tradisi. Jika tidak melaksanakan, mereka percaya akan menerima akibat buruk.

Sebagai ilustrasi, Pani Suyoko mengisahkan seorang Kalang yang menderita penyakit aneh. Meski telah berulang kali menjalani pemeriksaan medis menggunakan peralatan canggih, jenis penyakitnya tak terdeteksi. Suatu ketika, orang yang sakit itu dia tanyai, apakah ada kewajibannya sebagai orang Kalang yang ditinggalkan? Dan orang itu mengakui.

"Ternyata dia pernah tidak melaksanakan upacara obong saudara yang menjadi tanggungannya. Setelah dilaksanakan, tak lama kemudian orang itu sembuh."

Boleh jadi, keyakinan semacam itulah yang menjadi benteng kokoh bagi tradisi Kalang. Ia menjaga secara alamiah kepatuhan orang Kalang terhadap naluri kekalangannya.

Sementara itu, keturunan Kalang hanya dari satu pihak orang tua, tidak wajib menjalankan tradisi leluhur. Mereka boleh ikut, boleh juga tidak. Inilah celah yang akan membuka kemungkinan bagi kikisnya tradisi Kalang.

Dahulu, orang Kalang punya kecenderungan perkawinan indogami, atau di kalangan mereka sendiri. Namun, di zaman berkecenderungan global seperti sekarang, sistem perkawinan semacam itu sulit dipertahankan. Pergaulan anak-anak muda Kalang meluas dan tak berbatas. Banyak di antara mereka menikah dengan orang di luar golongan.

Maka lahirlah keturunan-keturunan Kalang yang tak lagi punya kewajiban moral tradisi.

Bagaimana para penjaga tradisi Kalang menyikapi hal itu? Wariyah, mengemukakan, gerak zaman tak bisa dilawan. Jika suatu saat nanti Kalang sejati akan mati dan lenyap dari muka bumi, ia menganggap itu sebagai keniscayaan yang harus diterima dengan dada lapang.

"Kalau itu memang lelakon orang Kalang, ya bagaimana lagi?" ujarnya datar.(Rukardi-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA