logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 01 Februari 2008 NASIONAL
Line

Mega Nilai SBY Berpoco-poco

  • FPD: Daripada Undur-undur

SM/dok

PALEMBANG - Masih ingat goyang poco-poco? Dengan irama perlahan, satu langkah kaki diayun ke depan, namun buru-buru mengayun lagi selangkah ke belakang. Seperti itulah penilaian Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri atas pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Pemerintahan saat ini, saya melihat seperti penari poco-poco. Maju satu langkah, mundur satu langkah. Maju dua langkah, mundur dua langkah. Tidak pernah beranjak dari tempatnya. Bergoyang hanya untuk menghibur orang lain," kata dia dalam pidato peringatan puncak HUT Ke-35 PDI-P di GOR Sriwijaya, Jl POM IX Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (31/1).

Menurut Mega, kinerja pemerintahan SBY tidak efektif memberantas kemiskinan. Padahal, pada awal masa pemerintahannya, SBY berjanji mengurangi angka kemiskinan. SBY, kata dia, optimistis menurunkan angka kemiskinan sebesar 35 juta pada tahun 2004, menjadi 18,8 juta pada 2009. Janji tersebut dituangkan dalam program pembangunan jangka menengah pemerintahan SBY-JK.

"Di awal tahun 2005, pemerintahan yang baru terpilih membuat program pembangunan jangka menengah. Salah satu isinya, tentang kemiskinan. Tapi apa yang terjadi, angka kemiskinan di tahun 2007 saja justru bertambah," kata Mega.

Mega pun membeberkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menjadi acuan pemerintah. Pada tahun 2000, angka kemiskinan sebesar 19,9 persen. Angka itu menurun pada tahun 2001, menjadi 18,41 persen. Pada tahun 2002, kembali terjadi penurunan hingga mencapai 18,2 persen.

Angka kemiskinan kembali menurun pada tahun 2003, menjadi 17,42 persen dan pada tahun 2004 menjadi 16,6 persen. Selanjutnya, pada awal 2005, angka kemiskinan menurun menjadi 15,97 persen, atau setara dengan 35 juta jiwa.

"Tapi pemerintahan (SBY) baru mulai, angka kemiskinan justru meningkat dari awal tahun 2005. Penurunan kemiskinan ini janji pemerintah, karena itu saya minta rakyat untuk meminta janji kepada pemerintah," ujarnya.

Penilaian Mega mendapat tanggapan pemerintah. Langkah Presiden SBY, menurut pihak Istana Negara, bukanlah tarian poco-poco, tapi langkah konkret.

"Itu bukan tari poco-poco," ujar Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng, Kamis (31/1/2008).

"Saya senang juga dengan pengandaian Ibu Mega karena poco-poco tarian asli dari Sulawesi," imbuh Andi yang asal Sulawesi itu.

Dia menjelaskan, langkah pemerintah dalam mengantisipasi kemungkinan krisis ekonomi sangat jelas dan serius. "Begitu ada indikasi resesi di Amerika Serikat yang juga memicu kenaikan harga barang-barang, Presiden langsung mengambil langkah-langkah konkret," ujarnya.

SBY, kata dia, telah mengadakan pertemuan dengan para importir dan eksportir bahan kebutuhan pangan pokok, Rabu (30/1). Sehari setelahnya, Kamis (31/1), dilanjutkan pertemuan dengan pimpinan BUMN yang tujuannya untuk stabilisasi harga.

"Bahkan besok (hari ini-Red) paket kebijakan ekonomi sudah selesai dan akan disampaikan oleh beliau, dan itu bukan tari poco-poco," beber pria berkumis itu.

Tari Undur-undur

Tak terima disindir seperti tari poco-poco, Partai Demokrat langsung membalas kritikan Mega pada SBY tersebut. "Masih lumayan poco-poco ada majunya, daripada tari undur-undur, mundur terus," cetus Sekretaris FPD Sutan Bathoegana di DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (31/1).

Menurut Sutan, sebaiknya sebagai sesama tokoh bangsa tidak usah saling menyindir. Para tokoh bangsa sebaiknya saling memberikan masukan konstruktif pada pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

"Tidak usahlah menyindir-nyindir. Introspeksilah. Kalau dulu baik, kenapa tidak dipilih lagi. Justru calon lain yang jadi presiden," ujar dia.

Sutan menambahkan, jika kritik itu untuk mendongkrak popularitas Mega menjelang Pemilu 2009, sebaiknya tidak dengan cara yang kasar. Mega bisa mencoba cara yang elegan dengan menyapa rakyat dan bekerja untuk rakyat

"Kalau tujuannya untuk Pemilu 2009, jangan begini caranya, tapi kerja untuk rakyat," pungkasnya. (dtc-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA