logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 30 Januari 2008 NASIONAL
Line

Masyarakat Terus Banjiri Astana Giribangun

KARANGANYAR- Usai pemakaman mantan Presiden RI Jenderal Besar H Mohamad Soeharto, Astana Giribangun terus didatangi peziarah. Kompleks itu untuk sementara juga tetap dibiarkan bebas untuk masyarakat yang datang memanjatkan doa di depan pusara Pak Harto.

Sejak pukul 07.00 peziarah sudah berdatangan. Ada yang datang dari desa sekitar, ada pula yang datang dari jauh seperti Madiun, Kediri, Semarang, bahkan Jakarta dan juga luar jawa. Misalnya Afsanoor (54) seorang kepala desa di Paserlama, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dia datang berombongan dengan 16 keluarganya.

''Saya pengagum Pak Harto. Saya pernah dipanggil ke Istana Negara pada 17 Agustus 1994, setelah desa saya menjadi juara nasional. Beberapa kali Pak Harto datang ke Banjarmasin, saya selalu diundang. Karena itu begitu wafat, saya merasa sangat kehilangan,'' kata dia.

Kabar meninggalnya mantan orang nomor 1 di Indonesia itu diterimanya dari seorang saudaranya di Jakarta. Dia tidak percaya dengan isi kabar yang dikirim lewat SMS (short Message Service) itu. Karena itu, buru-buru dia melihat perkembangan di televisi.

''Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Saya baru yakin ternyata Beliau dipanggil Allah. Saat itu juga, saya mengumpulkan keluarga, saya ajak pergi ke Solo untuk berziarah. Alhamdulillah, semua dapat tiket ke Yogyakarta pada Selasa lalu dan terbang pukul 14.00 dari Banjarmasin ke Yogyakarta,'' kata dia.

Setelah itu, mereka langsung ke Astana Giribangun, namun tidak bisa langsung masuk karena prosesi sedang berlangsung. Apalagi setelah itu, hujan cukup deras turun sampai malam. Baru Rabu kemarin, pukul 09.00, rombongan yang mencarter sebuah kendaraan dari tempatnya menginap di Yogya itu bisa datang ke Astana Giribangun.

Oleh Sukirno, Kepala Pengawas Astana Giribangun, seluruh keluarga diperkenankan masuk ke Cungkup Arjo Sari dan berdoa di depan makam Pak Harto. Puas berdoa di depan pusara Pak Harto dan Bu Tien, mereka keluar dengan raut masih penuh kesedihan. Mereka merasakan pembangunan selama dipimpin Jenderal Besar itu, terutama di Banjarmasin dan sekitar daerah transmigrasi, sangat pesat.

Ada pula sekelompok warga dari Madiun, yang mengaku bekas tentara PETA (Pembela Tanah Air) yang sempat pula bergabung dengan batalyon yang dipimpin Pak Harto. Gani Fis (70), pensiunan PNS itu juga tidak bisa masuk ke ruang utama pemakaman.

''Karena itu saya bertekad datang lagi. Alhamdulillah, ternyata pemakaman dibuka untuk umum, sehingga saya bisa berdoa di depan makam Pak Harto. Saya puas, semoga saja arwahnya diterima sesuai dengan kebaikan yang ditanam selama ini.''

Di ruang utama pemakaman, kembang setaman yang didominasi kembang melati tampak disediakan oleh pengelola Astana. Peziarah yang datang memang diperbolehkan membawa kembang sendiri, namun sebelum masuk, kembang diminta oleh petugas untuk disatukan dengan kembang yang disiapkan petugas.

Kembang-kembang itu diletakkan di depan pusara Pak Harto dan disediakan untuk keperluan tabur bunga di pusaranya Pak Harto. Kembang itu akan dibiarkan sampai layu, baru akan diganti. Karena itu ruang utama menjadi harum semerbak, beraroma melati asli.

Mbak Tutut

Selain masyarakat, Mbak Tutut juga hadir lagi bersama 16 anggota keluarga, termasuk dua adik perempuannya, Mamik dan Titiek. Mereka di Astana Giribangun pukul 15.30. Sebelum kedatangan rombongan, seluruh peziarah dimohon meninggalkan lokasi utama dan keluar lokasi pemakaman. Mereka cukup berada di Cungkup Argo Kembang, di halaman pemakaman.

Sekitar satu jam kemudian, putri-putri Pak Harto dan para cucu serta cicit itu meninggalkan tempat itu dengan pengawalan ketat. Tidak ada sepatah keterangan keluar dari mereka.

Pagi hari sebelumnya, juga terlihat ismail Saleh, mantan Menteri Kehakiman di zaman Orde Baru. Bersama istrinya, dia dikawal dua ajudan datang dan masuk ke ruang utama. Sekitar setengah jam berdoa, dia langsung meninggalkan lokasi pemakaman. Dua orang bule terlihat juga hadir di pemakaman. Mereka adalah suami istri Zilm Wolfgang dan Zilm Renaye, berkewarganegaraan Jerman. Mantan Vice President German Asiatic Society itu berkali-kali datang ke Indonesia karena sangat mengenal Pak Harto.

''Kebetulan selama dua bulan ini saya keliling lagi ke Indonesia dan negara Asia lainnya. Pas di Solo, kota yang pernah empat kali saya kunjungi, saya mendengar Pak Harto meninggal. Jadi sekalian saja saya mampir ke Astana Giribangun ini,'' kata dia.

Hadir pula bendahara PBNU Bambang Adiyaksa bersama istirnya. Usai berdoa di depan pusara Pak Harto, dia keluar dan bermaksud pulang. Namun di tengah lapangan parkir, dia ditawari kaos bergambar Kompleks Giribangun oleh pedagang yang ada di sekitar pemakaman.

Bukannya membeli kaos yang harganya Rp 10.000 itu, dia malah membagi-bagikan uang masing-masing Rp 10.000 kepada siapapun pedagang yang ada di lapangan parkir tersebut. Puluhan pedagang pun berhamburan berebut uang pemberian Bambang.

Sementara itu, situasi di Bandara Adisumarmo, kemarin sudah tidak terlihat kesibukan penyambutan tamu negara, seperti yang terjadi sehari sebelumnya. Pintu gerbang menuju Apron Alpha yang merupakan area VIP tamu yang mendarat di bandara tersebut terlihat dibuka. (an,H46,H44-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA