logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 30 Januari 2008 NASIONAL
Line

Jateng Kekurangan Stok Kedelai 356 Ribu Ton/Tahun


SM/Nur Kholiq JEMUR KEDELAI: Dua petani Desa Prigelan, Kecamatan Pituruh, Purworejo, menjemur kedelai. (30)

SEMARANG- Dinas Pertanian Tanaman Pangan (Dispertan) Jateng pada 2008 akan melakukan langkah khusus untuk meningkatkan produksi kedelai dan mengatasi ketergantungan impor. Kepala Dispertan Ir Aris Budiono menyatakan, pihaknya bakal mendorong terlaksananya kemitraan antara petani dan pihak ketiga, yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.

Dia menyampaikan, hingga akhir 2007 luas tanaman kedelai hanya 80 ribu hektare dan produktivitas 14,64 kwintal/hektare, sehingga menghasilkan 121 ribu ton. Jika dikurangi angka penyusutan, maka penyediaan hanya mencapai 110 ribu ton.

''Jika penduduk Jateng 33,18 juta jiwa, dengan rata-rata konsumsi kedelai 14 kg/kapita/tahun, maka kebutuhan 467 ton/tahun. Karena itu terdapat minus 356 ribu ton/tahun,'' katanya dalam rilis kepada Suara Merdeka, Selasa (29/1). Kekurangan stok 356 ribu ton itu selama ini dipenuhi dari luar negeri maupun luar daerah.

Pola lain untuk peningkatan produksi kedelai dengan cara percepatan penerapan peningkatan mutu intensifikasi (PMI) dan pengelolaan tanaman terpadu (PTT). Juga mendorong optimalisasi pemanfaatan lahan dan perluasan areal tanam. Di samping itu, lanjutnya, mendorong pengembangan penangkar dan produsen benih kedelai. Langkah berikutnya dengan memantapkan sistem jaringan benih antarlapang (Jabal).

Aris mengakui dalam kurun tiga tahun terakhir produksi kedelai Jateng terus mengalami penurunan. Pada 2005 mampu menghasilkan 167.107 ton, 2006 (132.261 ton), dan 2007 (121.450 ton). Selama ini bahan utama pembuat tempe dan tahu itu dihasilkan dari daerah Wonogiri, Grobogan, Brebes, Demak, Klaten, dan Sukoharjo.

''Penurunan produksi disebabkan rendahnya keuntungan petani dari usaha tanaman kedelai, tingkat produktivitas rendah, belum tersedianya benih berkualitas, dan banyaknya hama,'' ujarnya.

Kasubdin Produksi Dispertan Ir Hari Tri Hermawan MP mengatakan, untuk mendukung minat petani bertanam kedelai perlu diupayakan harga yang baik di tingkat petani. Harga kedelai yang layak, lanjutnya, berkisar Rp 6.000/kg. ''Angka ini didasarkan biaya usaha tani yang mencapai Rp 8,649 juta/hektare,'' ujarnya.

Lahan Kering

Kepala Biro Perekonomian Setda Jateng Ir Ihwan Sudrajat MM mengatakan, upaya peningkatan produksi kedelai akan berimbas pada penurunan luas areal padi di Jateng. Kalau lahan pertanian sawah dialihkan untuk menanam kedelai, maka akan mengganggu produksi beras nasional. Padahal Jateng merupakan produsen beras ketiga terbesar di Indonesia.

Luas lahan kering di Jateng mencapai 400 ribu hektare. Menurut dia, kalau lahan kering seluas 8 ribu hektare diupayakan untuk ditanami kedelai, maka akan mengurangi ketergantungan dari luar. (H7,H37-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA