| Rabu, 30 Januari 2008 | NASIONAL |
Cegah Pencucian Uang KorupsiNegara Maju Tutup AksesNUSA DUA- Negara-negara tujuan pelarian aset curian berjanji akan menutup akses perbankan terhadap uang-uang hasil korupsi. Hal ini terungkap dalam pembahasan mengenai Stolen Asset Recovery (StAR), pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) United Nations Convention Against Corruption (UNCAC), di Nusa Dua Bali, Selasa (29/1). Delegasi dari tiga negara, Amerika Serikat, Inggris dan Swiss, yang dikenal sebagai pusat keuangan dunia memaparkan kebijakan pemerintah masing-masing dalam melaksanakan StAR. ''Kami menutup akses perbankan Amerika Serikat terhadap uang-uang korupsi,'' kata Daniel Claman, pembicara dari delegasi negara Paman Sam itu. Menurut Claman, negaranya menyadari pentingnya kerja sama antarnegara dalam pelaksanaan StAR. Amerika, kata dia, secara aktif membantu negara-negara dalam upaya pengembalian aset mereka yang dilarikan para politisi. ''Sebagai contoh, kami melakukan pada asset recovery mantan presiden Peru, Alberto Fujimori,'' jelasnya. Claman meminta agar negara-negara berkembang menghilangkan kecurigaan pada negaranya. Anggapan negara maju diuntungkan dengan pelarian aset korupsi tidak lagi relevan. ''Kita harus menyingkirkan rasa saling curiga untuk dapat bekerjasama melacak aset.'' Prioritas Swiss Anggota delegasi Swiss, Anton Thalmann, mengungkapkan, pengembaliaan aset sudah ditetapkan sebagai prioritas kebijakan pemerintah Swiss. ''Kita menjaga agar sistem perbankan bersih dari uang-uang korupsi.'' Menurut dia, sistem perbankan Swiss memonitor semua uang yang masuk ke negara yang sejak dulu dikenal sebagai tempat penyucian uang ini. Sistem di Swiss juga mengharuskan bank-bank untuk mengetahui latar belakang nasabah mereka dan asal dana yang hendak dimasukkan. ''Perbankan kami mengharuskan untuk mengetahui latar belakang customer,'' kata Thallman. Denny Leipziger dari Bank Dunia mengungkapkan, sejak program StAR diluncurkan oleh Bank Dunia dan United Nations Office Drugs and Crime (UNODC), September 2007, banyak pihak yang menggantungkan harapan terlalu besar pada StAR. Proses pengembalian aset hasil korupsi tidak mudah dilakukan dalam waktu singkat. Padahal, proses asset recovery cukup sulit karena uang terus berpindah tempat dari satu bank ke bank lain. Apalagi saat ini, kata Leipziger, banyak bermunculan negara-negara yang menjadi pusat keuangan baru. Tujuan StAR adalah membangun kemampuan negara-negara berkembang. ''Asset recovery merupakan proses yang sulit dan butuh waktu lama,'' katanya. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Hassan Wirayuda mengatakan September 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bertemu Presiden Bank Dunia Robert Zoellick untuk membantu negara untuk meningkatkan kapasitas dalam rangka StAR Inisative. (J13-48) |