logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 30 Januari 2008 NASIONAL
Line

SKETSA PILGUB

Visi-Misi Raja Salomo

APAKAH itu pilbup atau pilgub memunculkan manusia-manusia yang bernilai puluhan miliar sampai ratusan miliar hanya untuk memperebutkan sebuah singgasana kekuasaan, bernama kepala daerah?

Kang Blaka dan kang Suta terbengong-bengong ketika kali pertama mendengar katanya tarif atau biaya yang harus dikeluarkan dari kocek seorang calon bupati atau calon gubernur harus berdigit sembilan alias miliar. Walaah...walaah, edan temen yah?

Memang tidak ada bukti pastinya yaitu hitam di atas putih untuk transaksi itu, terutama untuk membeli kereta, atau merental kendararaan untuk menjadi mesin politik pengusung sang calon. Belum lagi untuk sembur dan uwur, manajemen campaign dan para tim sukses mulai dari tingkat desa, RW, RT dan seterusnya.

Bahkan yang tidak habis pikir lagi sesumbar para kandidat yang keliwat batas uang yang dikeluarkan itu milik pribadi dan tidak akan minta balen kalau nantinya yang bersangkutan kelak jadi atau tidak jadi.

''Apa iya si kang,'' celoteh kang Blaka kepada kang Suta karibnya. Seperti orang yang sudah waskita dan bersikap arif, kang Blaka dengan tenang berujar, ''zaman sekarang masih ada orang yang jujur seperti itu terpanggil dengan atas nama untuk membangun daerah sungguh termasuk manusia langka yang perlu dilestarikan melalui Muri.''

Lebih lanjut dengan nada agak ngedumel , ''lantas bagaimana jadinya kalau sang kandidat itu ternyata dicukongi oleh seseorang atau kelompok kepentingan. Jangan-jangan begitu terpilih sang pejabat lupa mewujudkan buih janji-janjinya dan tidak kerja untuk kepentingan rakyat tapi kerja untuk memikirkan bagaimana mengembalikan uang cukong tersebut dulu, atau uang pribadi yang telah dikeluarkan atau harus mewujudkan tanggung jawab dengan atas nama politik balas jasa terhadap yang nunut kepentingan.'' Kang Suta balik menimpali sambil gregetan, ''iya ya ya kang, waah...waah rubes dan bundet temen ya?''

Memang pepatah jer basuki mowo bea masih relevan dalam hal ini. Tetapi perlu diingat ngono yo ngono ning ajo ngono. Kenyataan memang tidak ada kepentingan tanpa uang, dan tidak ada keinginan memiliki sesuatu itu tanpa uang, namun selama wajar-wajar saja, ya sah-sah sajalah, hanya sekarang ini batas-batas kewajaran sudah amat buram tidak jelas lagi.

Panggilan Jiwa

Benak kang Blaka dan kang Suta masih saja tidak bisa menerima fenomena perubahan zaman yang sangat dramatis ini. Kang Blaka bertanya ke kang Suta, ''kang nalarku kok susah mencerna jalan pemikiran para calon-calon pimpinan itu ya? Udah tahu kalau mau jadi bupati atau gubernur itu harus keluarkan uang banyak, tapi kok ya nekat juga ya? Apalagi buat jabatan yang periodenya sangat terbatas, apa sebenarnya yang dirancang di dalam benaknya, pengabdian total atas nama panggilan jiwa, mencari untung atau dua-duanya pengabdian plus cari untung?''

Ada kisah yang dapat dijadikan inspirasi permenungan kepada calon gubernur Jawa Tengah sebagaimana yang dicontohkan oleh seorang raja yang bernama Salomo. Dalam setiap doanya raja tidak menuntut kemuliaan, kekayaan, kekuasaan bahkan tidak meminta umur panjang, namun dia hanya minta hikmat Tuhan agar dirinya dapat mengatur bangsa besar di negerinya dengan rakyat yang berkesejahteraan.

Salomo meminta visi dari Tuhan, dan Tuhan justru memberikan kepadanya apa yang tidak disebut dalam doanya yaitu diberi dengan kekayaan, kemuliaan dan kekuasaan walaupun Salomo tidak memintanya.

Alhasil dalam sejarahnya Salomo menjadi raja yang luar biasa yang mampu mewujudkan visinya, dan programnya dapat mengantarkan rakyat hidup aman dan damai, kesejahteraan dalam kemakmuran dan kecukupan. (77)

-- Rubijanto Misman, mantan Rektor Unsoed Purwokerto.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA