| Selasa, 29 Januari 2008 | NASIONAL |
Menteri dan Jenderal Terpaksa NgojekKARANGANYAR - Sejumlah menteri, perwira tinggi TNI, serta mantan pejabat negara harus rela naik ojek saat melayat mantan Presiden Soeharto di Astana Giri Bangun, Matesih, Karanganyar, Senin (28/1). Pemandangan yang tak lazim itu terjadi sekitar pukul 11.00, sebelum kendaraan kepresidenan RI 1 (presiden) dan RI 2 (wakil presiden) serta mobil jenazah masuk komplek makam keluarga penguasa Orde Baru tersebut. Para pejabat yang terlihat naik motor butut milik warga sekitar Astana Giri Bangun itu di antaranya Mendagri Mardiyanto, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiyantoro. Bahkan juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng juga bernasib sama. Mereka terpaksa naik ojek karena dua lokasi parkir, B dan A (VIP) di Giri Bangun sudah penuh. Ditambah lagi, jalur menuju tempat itu penuh sesak oleh ribuan warga yang ingin menyaksikan jenazah Soeharto sekaligus memberikan penghormatan terakhir. Padahal, anggota POM TNI, Grup 2 Koppasus Kandangmenjangan Kartasura, Kostrad, dan Polri sudah memberikan pengamanan maksimal. Kejadian naik motor butut dari lokasi parkir lapangan Karang Bangun yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Astana Giri Bangun itu tidak hanya dialami para menteri. Beberapa perwira TNI mulai dari pangkat kolonel hingga mayor jenderal juga menggunakan jasa tukang ojek. Bahkan, beberapa mantan pejabat tidak ketinggalan menikmati motor-motor tersebut. Mereka adalah Emil Salim, Ginandjar Kartasasmita serta sejumlah staf kedutaan asing. ''Saya membantu mencarikan ojek buat Pak Andi Mallarangeng dan Pak Aburizal Bakrie. Ongkosnya Rp 20.000,'' papar Tatag, seorang pegawai Kantor Pelayanan Terpadu Kabupaten Karanganyar. Fenomena tersebut tentu mengundang perhatian, sontak terdengar gemuruh tawa dari ribuan warga yang ada di tempat tersebut. Celoteh-celoteh mereka meluncur begitu saja. Sementara, para pejabat dan perwira itu hanya tersenyum. Namun warga sekitar yang mendadak jadi penarik ojek bagi para pejabat negara tersebut sempat kena damprat oleh petugas. Mereka dinilai mengganggu arus lalu lintas ke Astana Giri Bangun. Tetapi, setelah tahu yang membonceng di belakang adalah para pejabat tinggi, anggota keamanan tersebut mengkeret dan mempersilakan tukang ojek memasuki areal parkir B. Lalu, melangsir mereka menggunakan mobil militer yang ada menuju area upacara. Dari sekian pejabat yang bertakziah itu, satu menteri urung merasakan nikmatnya ngojek ke Astana Giri Bangun. Dia adalah Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault. Sebetulnya petugas sempat menurunkan mantan ketua DPP KNPI itu dari mobil Toyota Avanza milik Pemkab Karanganyar yang membawanya. Sebab setiap kendaraan harus menurunkan penumpang di pintu masuk Astana Giri Bangun untuk selanjutnya balik lagi ke area parkir di Lapangan Karang Bangun. Namun kali ini, petugas harus meralat kebijakannya. Sebab penumpang yang turun dan berjalan kaki itu ternyata Menpora. Akhirnya, para petugas mempersilakan mobil Avanza yang membawa menteri tersebut kembali berjalan. "Lha sopirnya tidak bilang kalau yang berada di dalam itu Pak Menteri," gerutu para petugas. Para tukang ojek dadakan yang berhasil ditemui mengaku mendapatkan berkah dari kejadian itu. Sebab bayaran yang mereka terima lumayan besar, antara Rp 20.000 sampai Rp 50.000. "Kami tidak ngarani, terserah yang mau maringi (memberi) berapa. Ternyata ada pak menteri yang ngasih Rp 20.000 sampai Rp 50.000," kata Warsono, seorang tukang ojek, dibenarkan rekan-rekannya. Situasi secara umum di luar Astana Giri Bangun sangat krodit. Petugas harus bekerja ekstra keras mengendalikan masyarakat. Akibat berdesak-desakan, banyak warga yang pingsan. Bahkan, petugas sempat mengamankan beberapa copet yang tertangkap basah saat beraksi. (H46,san-62) |