logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 29 Januari 2008 NASIONAL
Line

Media Asia Akui Prestasi Soeharto

  • Juga Soroti Sisi Gelap Kekuasaannya

KUALA LUMPUR - Meninggalnya Soeharto memperoleh sorotan luas dari media massa di negara-negara Asia Senin kemarin. Meski liputan media Asia terkesan dingin, namun mereka tetap menurunkan editorial penghormatan pada The Smiling General.

Media Asia memuji almarhum Soeharto karena mampu menjaga persatuan bangsa, namun mereka menyesalkan sedemikian banyak pertumpahan darah demi mewujudkan hal itu.

Di seluruh Asia, koran-koran cukup intensif memberitakan meninggalnya Soeharto, namun media berusaha menjaga jarak untuk berupaya kritis.

Di Asia Tenggara, pers mapan dan dekat dengan pemerintah merasa kesulitan mengritik Soeharto semasa dia hidup dan kini menemukan ruang untuk memaparkan sisi gelap 32 tahun kekuasaannya. Namun, sebagian media mengungkapkan hal itu secara tidak langsung dengan ''meminjam'' pernyataan pengamat.

''Kekuasaan autokratik Soeharto, selama lebih dari tiga dekade, ditandai dengan korupsi yang merajalela, kroniisme, dan pelanggaran hak asasi secara meluas,'' tulis harian New Straits Times Malaysia dalam editorial di halaman depan.

Dalam artikel kolom di harian Straits Times Singapura yang propemerintah, Michael Vatikiotis dari Centre for Humanitarian Dialogue juga menyebut catatan kroniisme Soeharto. ''Tiga putra dan tiga putri Soeharto diberi cek kosong untuk membangun kerajaan bisnis, kemudian para investor asing diharuskan berbisnis dengan mereka,'' tulis Vatikiotis.

Tokoh Pemersatu

Sebelum Soeharto lengser pada 1998, surat kabar-surat kabar di Asia Tenggara pada umumnya menggambarkan sosok dia sebagai seorang penguasa autokratik, dan orang kuat yang mampu merangkul bangsa Indonesia bersatu dan stabil.

Namun, reputasinya sebagai kekuatan pemersatu lambat laun memudar pada akhir 1990-an, ketika Indonesia terpuruk dalam krisis ekonomi, ditambah rentetan kekerasan, gerakan separatis dan ancaman nyata ketidakstabilan regional.

Sepuluh tahun kemudian, koran-koran Asia tidak lagi terlalu berlebihan melihat kepemimpinan Soeharto namun masih mengakui prestasi besar tokoh itu, yakni membuat Indonesia terbuka dan bersentuhan dengan dunia luar.

Harian Philippine Star menulis, Soeharto telah mewariskan sebuah negara Islam yang lebih maju dan terbuka dengan Barat serta mengupayakan perdamaian dengan negara-negara tetangga.

Beberapa tahun sebelum Soeharto memegang tampuk kekuasaan, Indonesia di bawah Presiden Soekarno menganut kebijakan konfrontasi dengan negara tetangga yang baru saja merdeka, Malaysia. Konfrontasi itu memicu konflik senjata di seluruh kawasan.

Bahkan, harian nasional Australia menyampaikan penghargaan karena Soeharto telah membawa Indonesia berhubungan erat dengan negeri itu kendati selama beberapa puluh tahun media Australia adalah salah satu pengritik terkeras Soeharto.

''Presiden Soeharto pantas dipandang sebagai seorang figur yang menyelamatkan Indonesia dari kehancuran, membalik gelombang komunisme dan membawa negeri itu ke jalan tak menentu menuju demokrasi,'' demikian tajuk di harian Australia.

Media Korea Selatan juga menyoroti dua sisi Soeharto. Di satu sisi, almarhum dihargai karena telah mengangkat Indonesia dari jurang kemiskinan, di sisi lain upaya itu telah menelan korban jiwa ratusan ribu orang-orang kritis yang menentang dia.

Di negara-negara komunis Asia, seperti China dan Vietnan, meninggalnya tokoh yang dipandang anti-Marxis itu ditanggapi secara lebih dingin dengan liputan selektif. Beberapa koran Vietnam memilih tidak menyebut kiprah Soeharto menumpas komunis.(rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA