logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 29 Januari 2008 NASIONAL
Line

Usai Pemakaman Hujan Lebat Mengguyur


SM/Juli Nugroho KARANGAN BUNGA: Sejumlah karangan bunga ungkapan turut berduka cita berada di sekitar kompleks Astana Giri Bangun, Senin (28/1).(30)

Mendung mengiringi pemakaman Jenderal Besar TNI Purn HM Soeharto, di Astana Giri Bangun, Karanganyar, kemarin. Bersamaan dengan diturunkannya peti jenazah ke liang lahat, awan pun semakin tebal. Hujan turun di seluruh wilayah Karanganyar, sesaat setelah prosesi pemakaman selesai. Sebagian pelayat beranggapan, itu pertanda alam turut berduka.

RIBUAN pelayat turut mengantar penguasa Orde Baru itu ke peristirahatan terakhir. Mendung di atas pusara menggelayut saat detik-detik pemakaman. Suasana duka begitu terasa.

''Ini menjadi pertanda bahwa bumi pertiwi juga ikut berduka dengan kepergian Pak Harto. Indonesia benar-benar berduka, ditinggal seseorang yang demikian besar jasanya bagi pembangunan bangsa dan negara,'' kata Partodikromo, salah seorang pelayat yang datang dari Ponorogo, Jatim.

Barangkali dia benar. Malah mungkin banyak orang yang setuju dengan pendapatnya, sehingga mengait-kaitkan antara kondisi cuaca di sekitar lokasi pemakaman dan kedukaan bangsa ini yang ditinggal orang yang pernah berkuasa selama 32 tahun.

Ny Painah, salah seorang warga Girilayu, desa di sekitar Astana Giribangun, merasakan hal itu. Pak Harto, menurut dia, sangat besar jasanya bagi negeri ini, dan belum bisa ditandingi oleh siapapun yang pernah berkuasa sesudahnya.

Saat memerintah, harga kebutuhan pokok rendah, semua bisa dibeli. Pendidikan juga murah, sehingga anak-anaknya bisa sekolah sampai lulus SLTA.

''Coba sekarang setelah ditinggal Pak Harto. Harga barang-barang naik, tempe saja mahal. Sekolah sudah tidak bisa terbayar. Apa lagi yang kurang dari Pak Harto, kok setiap hari orang menghujat? Pak Harto orang baik, sangat berjasa membangun negeri ini. Jadi tidak aneh kalau saat meninggal, alam ikut berduka,'' kata dia.

Dia mengaku hanya orang desa. Namun justru itu dia bisa merasakan perubahan alam ketika ada orang besar meninggal. Datangnya awan dan hujan bersamaan dengan disemayamkannya Pak Harto, menjadi pertanda kedukaan alam akan seseorang yang berjasa bagi orang banyak.

Memang, sejak pagi hari, matahari bersinar sangat cerah, terutama di sekitar puncak Gunung Lawu dan wilayah Karanganyar. Namun menjelang pukul 10.00, awan berkumpul tepat di atas puncak Giri Bangun.

Tak lama kemudian, awan tertiup angin dan hilang. Setelah rombongan jenazah mantan orang nomor satu di Indonesia itu tiba, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambut di depan gerbang Astana Giri Bangun. Awan mulai bertumpuk dan menebal.

Karena itu, cuaca yang semula terang, berubah meredup. Hingga selesai prosesi pemakaman, mendung semakin tebal. Sekitar pukul 14.15, hujan sangat deras turun di wilayah Giri Bangun, bahkan di seluruh Karanganyar.

Kendati hujan deras, tidak terdengar suara petir. Hujan baru reda sekitar pukul 15.30. Sebagian besar pelayat sudah pulang, terutama para pejabat pemerintah dan tamu dari luar negeri.

Mereka yang masih bertahan seperti wartawan, masyarakat sekitar, dan pengurus Yayasan Mangadeg, berteduh di cungkup dan tenda. Sementara para pekerja makam membersihkan sampah dan mengemasi peralatan yang sudah tidak digunakan. Beberapa keluarga Cendana masih berada di ruang transit.

Diterima

Tidak ada komentar dari para pelayat mengenai hujan itu. Mereka menganggap hanya kejadian alam biasa. Hanya saja, kepala rumah tangga Kalitan Sriyanto mengatakan, ''Ini membuktikan bahwa kematian Pak Harto diterima Tuhan Yang Maha Kuasa.''

Sebelum meninggal, kepada anak dan saudaranya, Soeharto berpesan agar dimakamkan sebelum shalat zuhur. Ketika jasadnya masuk liang lahat bisa berbarengan dengan adzan zuhur di masjid-masjid. Namun perhitungan itu meleset. Jasad Soeharto masuk liang lahat sesudah adzan zuhur.

Selain hujan deras, tidak ada ada kejadian aneh lainnya dalam pemakaman itu. Pasir makam yang sebelumnya diganti tanah karena dianggap panas ternyata tetap digunakan untuk menimbun.

Dalam kebudayaan Jawa, banyak hal mengenai fenomena alam yang seringkali dihubung-hubungkan dengan kehidupan manusia. Tak terkecuali dengan hujan deras itu.

''Bagi saya itu juga pralampita bahwa perjalanan Pak Harto sudah sampurna. Beliau telah diberikan jalan yang lapang. Diberikan pengampunan,'' kata Winarso Kalingga, pelaku dan pemerhati budaya Jawa asal Solo.

Di luar itu, Kalingga juga menanggap fenomena lain. Yakni ketika di sepanjang rute perjalanan dari Bandara Adi Sumarmo hingga Astana Giribangun, Karanganyar dipadati oleh lautan manusia. Menurut penuturan dia, itu juga sebuah tengara betapa pemimpin orde baru itu juga seorang yang suka nandur kabecikan.

Hitungan Gunung

Hari kematian Soeharto pada Minggu Wage (27/1) bulan Sura 1941 tahun Jimawal Windu Kuntara, dapat ditandai dengan candrasengkala ''Bumi Tirta Trus Manunggal''. Dalam petung kejawen, kematian Minggu Wage masuk hari geblak (kematian) yang baik bagi seseorang yang dipanggil Tuhan-nya.

Menurut Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, Minggu memiliki neptu lima dan Wage neptunya empat. Dijumlah ada sembilan.

Ketika dibagi empat-empat (gunung, guntur, segara, asat) tersisa satu. ''Itu artinya jatuh pada hitungan gunung,'' katanya. Kematian yang jatuh pada hitungan gunung, ungkap Pranoto yang abdi dalem Keraton Surakarta ini, akan memberikan garis nasib kebaikan pada anak turunnya yang ditinggalkan, karena kuat menerima anugerah wahyu junjung drajat untuk mencapai kemuliaan hidup, manakala mereka konsisten pada jalan Tuhan. Yakni dengan mengedepankan sikap utama panembah marang Hyang Widi, punya ambeg asih sesamanya, mampu untuk senantiasa menjauhkan sifat kemurkaan dan mengekang nafsu ragawi.

''Juga manakala mampu menyinergikan dengan laku tirakat dan ulah spiritual almarhum, sebagai sosok wong agung yang pernah kewahyon anugerah Tuhan,'' kata KRA Adiningrat.

Menurut tokoh budayawan Jawa yang pernah menerima anugerah bintang budaya itu, prosesi ritual pemakaman Pak Harto yang dilaksanakan Senin Kliwon (28/1) berjalan lancar. Sebagai sosok wong agung, almarhum banyak mendapatkan doa dari hampir semua komponen bangsa yang pernah dia pimpin. Walau sebagai titah sawantah, Pak Harto memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan.

Tapi banyak anak bangsa yang berusaha mikul dhuwur mendhem jero, mengagungkan kemuliaannya dan menyimpan dalam-dalam kekurangannya.

Firasat alam saat prosesi pemakanan ditandai dengan kemunculan mendung yang hangendhanu. Itu menjadi pertanda, angkasa pun ikut menyampaikan duka cita atas wafatnya Presiden kedua RItersebut.

Bahkan di beberapa tempat di sekitar lokasi Astanalaya Giri Bangun, lokasi yang selama ini telah sinengker untuk pamjien keluarga Cendana, mendung yang hangendhanu berlanjut menjadi hujan yang membasahi bumi.

Itu dapat dimaknai sebagai kelancaran perjalanan almarhum dalam menapaki ke alam ke-arwah-an menuju alam kuburnya. Mendung yang berlanjut hujan, hal ini sinergi dengan candrasengkala ''Bumi Tirta Trus Manunggal'' atas hitungan pada tahun (Jawa) kematiannya. Yang arti harfiahnya, tanah dan air menyatu manunggal dalam proses menuju kelanggengan. Atau dalam arti pengejaan angka tahun, bumi (1), tirta (4), trus (9) dan manunggal (1), dibaca menjadi tahun 1941. (Joko DH, Langgeng Widodo, Wisnu Kisawa, Bambang Pur-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA