| Sabtu, 26 Januari 2008 | WACANA |
Akar Konflik Palestina-Israel
PERKEMBANGAN paling mutakhir, khususnya di Jalur Gaza semakin memudarkan harapan akan segera tercapainya perdamaian Palestina-Israel seiring dengan mengganasnya kembali militer Israel menggempur wilayah Gaza yang sejak pertengahan Juni 2007 dikuasai penuh oleh Hamas. Serangan terbaru militer Israel Selasa malam (15/1) maupun serangan-serangan sesudah itu telah menewaskan lebih dari 30 penduduk sipil Palestina dan sejumlah pe-juang militan Hamas, termasuk Raad Abu Al-Ful, Ketua Komite Perlawanan Populer, yang sejak akhir 1990-an berafiliasi dengan Hamas. Serangan tentara Israel tersebut membuat kehidupan sehari-hari penduduk di Jalur Gaza kian memprihatinkan. Selain segenap pintu masuk ke Gaza, baik yang berbatasan dengan teritori Israel maupun Mesir, sejak pertengahan Juni tahun lalu diblokir oleh pemerintah Israel guna mencegah pejuang militan Hamas mengakses senjata dari luar; juga penduduk Gaza selalu kesulitan mendapatkan barang-barang kebutuhan pokok untuk hidup sehari-hari. Keadaannya menjadi semakin lebih buruk dan memprihatinkan lagi karena dalam beberapa hari belakangan tentara Israel melarang bantuan kemanusiaan yang digalang UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees) masuk ke Gaza. Juru bicara UNRWA, Christopher Gunnes mengatakan, nasib penduduk Gaza akan benar-benar mengenaskan kalau dalam beberapa hari ke depan pemerintah Israel tetap ngotot menutup rapat seluruh wilayah perbatasan Gaza-Mesir maupun Gaza-Israel serta melarang truk-truk pembawa bantuan makanan dan obat-obatan untuk kaum pengungsi Palestina memasuki Jalur Gaza. Apalagi jika Perdana Menteri Ehud Olmert membuktikan ancamannya, bahwa ia akan memerintahkan militer Israel menyerang pejuang Palestina tanpa kompromi, tanpa memberi kesempatan, dan tanpa belas kasihan sebagaimana dikemukakannya di Tel Avif, 18 Januari 2008 lalu. Niscaya kondisi penduduk Gaza akan semakin mengenaskan dan memilukan! Akar Mendalam Konflik Palestina-Israel dengan segala dimensinya selalu menarik perhatian masyarakat internasional dari waktu ke waktu. Mengapa? Karena konflik kedua bangsa tersebut memiliki akar konflik mendalam dalam rentang sejarah teramat panjang, namun hingga saat ini masih saja sulit diatasi. Kedua belah pihak yang bertikai masih terlampau sulit untuk didamaikan. Konflik mereka seolah tak akan pernah berujung. Padahal, andai kata Palestina dan Israel mau mengacu sejarah asal-muasal mereka, barang kali konflik itu tidak akan terjadi. Sebab, menurut sejarah, kedua bangsa itu sejatinya bersaudara. Bangsa Palestina dan Israel berasal-usul dari nenek moyang yang sama, yaitu Abraham/Ibrahim (Nabi Ibrahim). Sejarah memaparkan, sekitar Tahun 3000 Sebelum Masehi (SM), apa yang sekarang disebut tanah Palestina pada awalnya dikenal sebagai tanah Kanaan. Disebut demikian, karena Suku Kanaan merupakan suku yang paling dominan di wilayah itu. Dominasi Kanaan sedikit berkurang ketika antara 1900 sampai 1700 SM wilayah Kanaan mulai dimasuki kaum imigran Semit dari wilayah Mesopotamia (kini Irak). Di Kanaan itu kaum imigran Semit kemudian dikenal sebagai kelompok Ivrim (Ibrani), yang artinya keturunan "Ever", nenek moyang Abraham. Perkembangan berikutnya, kaum Ivrim kemudian menyebut diri mereka Israel, yang artinya kurang lebih adalah "dia yang sudah bergulat melawan Tuhan". Dalam Kitab Suci Alquran disebutkan, Israel adalah sebutan bagi Nabi Yakub. Ketidakadilan Konflik Palestina-Israel menjadi tidak adil sejak penguasa Inggris melalui Balfour Declaration pada 1917 terang-terangan membantu kaum imigran Yahudi dari Eropa Timur yang menempuh berbagai cara untuk merebut tanah-tanah milik warga Palestina. Dengan demikian, kaum imigran Yahudi berhasil mendirikan sebuah negara merdeka bernama Republik Israel pada 14 Mei 1948. Ketidakadilan itu terus berlangsung hingga kini, seiring dengan masih belum terwujudnya cita-cita bangsa Palestina mendirikan sebuah negara merdeka di Jalur Gaza dan Tepi Barat dengan Ibu Kota Jerusalem Timur di satu pihak; dan tetap bersikukuhnya sikap Israel yang di-back up Amerika Serikat dan Inggris menjajah Palestina di pihak lain. Selama kondisi status quo seperti itu terus berlangsung, mustahil Negara Palestina Merdeka dapat didirikan. Terlebih bangsa Palestina sendiri tercerai-berai; kelompok perlawanan Hamas dan Fatah -sebagai dua kelompok perlawanan terbesar- tidak bersatu padu. Maka, pengakhiran dukungan AS dan Inggris terhadap perilaku kolonial Israel dan bersatu-padunya bangsa Palestina dalam menghadapi Israel menjadi syarat mutlak (wajib) bagi berdirinya Negara Palestina Merdeka demi terselesaikannya konflik Palestina-Israel secara adil. Masalahnya, maukah AS dan Inggris mengakhiri dukungannya terhadap Israel, dan bersediakah Hamas-Fatah rujuk kembali untuk bersatu padu serta bahu membahu melawan imperialis-kolonialis Zionis Israel?(68) -- Chusnan Maghribi, alumnus Hubungan Internasional Fisipol UMY, pegiat Sanggar Inspirasi Indonesia Sejahtera (SII) Yogyakarta Jika Perdana Menteri Ehud Olmert membuktikan ancamannya, bahwa ia akan memerintahkan militer Israel menyerang pejuang Palestina tanpa kompromi, tanpa memberi kesempatan, dan tanpa belas kasihan sebagaimana dikemukakannya di Tel Avif, 18 Januari 2008 lalu. Niscaya kondisi penduduk Gaza akan semakin mengenaskan dan memilukan! |