| Sabtu, 26 Januari 2008 | NASIONAL |
Baby Sitter Terjun dari Lantai 8Misteri Ujang Mulai Terkuak
SEJAUH ini, Roroy Royani (29) hanya meninggalkan keterkejutan dan beribu tanda tanya atas aksinya, Kamis (24/1) pukul 10.00. Masalah apa yang menyebabkan wanita nekat terjun dari lantai 8 Gedung Administrasi Pusat (GPA) Kampus Universitas Maranatha Bandung, masih penuh misteri. Setelah menghantam sepeda motor di lantai dasar, nyawa ibu dua anak itu tidak tertolong lagi. Seketika korban tewas dengan patah paha dan lengan serta retak bagian kepala Polisi pun masih pada kesimpulan perempuan asal Cisurupan, Garut itu sengaja menerjunkan diri. Mereka mengambil kesimpulan itu berdasarkan hasil pemeriksaan atas tempat kejadian perkara, keterangan para saksi, dan barang bukti berupa rekaman CCTV kampus saat Roroy digambarkan sempat mondar-mandir sebelum melakukan aksinya. Polisi pun masih menunggu hasil visum dan meminta keterangan pihak keluarga. "Dari apa yang kita lakukan, kita belum mendapatkan hal-hal yang diharapkan mampu menjadi titik terang dalam kasus ini. Meski demikian, kita masih melakukan pendalaman. Kesimpulan sementara kita, korban memang sengaja menerjunkan diri," kata Kapolresta Bandung Barat, AKBP Teddy Setiadi, Jumat (25/1). Misteri Ujang Misteri siapa Ujang mulai terkuak. Pihak keluarga mengenali lelaki yang disebut dalam surat wasiat Roroy adalah mantan kakak ipar korban. Namun, mereka tidak mengetahui hubungan antara keduanya. "Tadi malam saya telah konfirmasi dengan pihak keluarga. Ternyata Ujang yang disebut korban dalam suratnya adalah mantan kakak iparnya. Ujang sempat menikah dengan kakaknya Roroy, bernama Dedeh," ujar Kapolsekta Sukasari, Bandung AKP Andry Kurniawan Andry mengungkapkan dalam surat wasiat yang ditemukan polisi di dompetnya, selain menuliskan nomor HP Ujang, Roroy menempelkan foto Ujang. Dalam foto tersebut usia Ujang sekitar 50 tahunan. Foto inilah, kata dia, yang diperlihatkan kepada keluarga korban. "Dulu saat korban masih kecil, dia dirawat, dibiayai dan dibina oleh Ujang ini. Tapi bagaimana hubungannya selama ini, terus terang pihak keluarga tidak tahu. Apakah ada hubungan asmara di antara keduanya, kami belum bisa simpulkan," tuturnya. Menurut Andry, Roroy masih berstatus istri dari Handi Kadarsah (35). Korban belum bercerai, tidak seperti pengakuannya kepada majikan atau agennya. Namun suami korban sudah tujuh tahun sakit, salah satu kakinya lumpuh. "Dia belum cerai. Dia hanya mengaku sama majikan dan agennya kalau dia janda dan minta untuk dicarikan pekerjaan untuk menghidupi dua anaknya," jelas Andry. Saat ini, kata dia, Polsek Sukasari masih menelusuri keberadaan Ujang untuk menguak motif di balik nekatnya Roroy menghilangkan nyawanya sendiri dengan terjun bebas dari lantai 8 Gedung Administrasi Pusat Universitas Maranatha Bandung. "Untuk kasusnya sendiri sudah bisa dipastikan tidak ada unsur tekanan, ancaman apalagi pembunuhan. Ini murni bunuh diri. Tapi kami tetap akan mencari Ujang," pungkas dia. Suami korban, Handi Kadarsah (35) seperti tidak percaya istrinya dapat berbuat seperti itu. Dalam pertemuan terakhir sebulan lalu, gelagat istrinya pun tidak menampakan kecurigaan karena terlihat tenang dan tidak menyimpan masalah. "Istri saya tidak mengeluh apa-apa baik tentang rumah tangga maupun pekerjaannya," katanya. Masalah Pelik Apapun, Roroy agaknya tengah mengalami masalah begitu pelik. Saking peliknya, dia hanya mempunyai satu pilihan yakni meninggalkan kehidupan dengan cara nekad. Terjun. Akibat persoalan yang melilitnya, wanita itu terjebak pada suatu kondisi yang membuatnya sulit untuk mencari jalan keluar. Baginya, pintu penyelesaian benar-benar sudah tertutup. Psikiater RS Hasan Sadikin Bandung, dokter Teddy Hidayat menganalisa persoalan-persoalan yang kerap membawa seseorang ke dalam persoalan pelik di antaranya yang menyangkut harga diri, pertanggungjawaban, sebuah hubungan, ditinggalkan, dan pengkhianatan. Dampak yang ditimbulkan biasanya merepotkan salah satu pihak yang kemudian memberikan tekanan untuk berbuat nekad. Kemunculan Ujang sebelumnya memang memunculkan spekulasi termasuk dugaan adanya soal percintaan di antara mereka. Pilihan bunuh diri yang diambil Roroy cukup menarik. Umumnya, wanita kerap memilih minum obat serangga. Lain dengan Roroy, mengambil jalan pintas yang seketika. Hal ini menunjukan pula tingkat permasalahan yang dialaminya. "Pilihan ini menunjukan tingkat agresivitas yang bersangkutan setelah mengalami stres yang akut," katanya. Mengingat kondisi serupa bisa berkembang pula di masyarakat kebanyakan, Teddy menyatakan deteksi dini dari lingkungan terutama keluarga sangat berperan. Pasalnya, seseorang dalam kondisi seperti itu tidak lagi bisa untuk menempatkan orang lain sebagai bagian dari pemecahan masalah. Dia akan merasa sendiri. "Karena itu, kitalah yang harus bisa menyediakan diri sekaligus menunjukan jalan keluarnya," katanya. Tak hanya itu, lingkungan sekitarnya juga mesti peka dalam merespons dinamika orang-orang yang bermasalah yang berada di sekitarnya. Orang-orang dekat atau anggota keluarga harus pandai-pandai melihat gelagat atau perubahan setiap perilaku orang-orang di lingkungan mereka, sehingga bisa cepat mengambil tindakan pencegahan. Menurut Teddy, pada saat Roroy berjalan mondar-mandir, pada saat itulah sebenarnya korban tengah berkonflik batin hebat dalam memutuskan penyelesaian atas masalahnya. "Perasaannya benar-benar tegang dan gelisah. Ketika putusan itu akhirnya diambil, sulit untuk dianulir lagi. Karenanya, kondisi seperti itu kalau dipergoki jangan sampai dibiarkan, mesti dibantu, ditanya," katanya. (Dwi Setiadi-77) | ||||