| Jumat, 25 Januari 2008 | NASIONAL |
Jamu Alternatif AIDS Hendra Yauw (2 - Habis)Warisan Leluhur, Dongkrak Stamina
HENDRA Yauw (62) mengaku tak ingin muluk-muluk dengan hasil racikannya jamu alternatif pengobatan AIDS. Bila nantinya sukses, bukan materi yang dia cari. Harapan utamanya hanya satu, yakni mengharumkan nama bangsa dan negara. Terlebih lagi, resep jamu itu adalah warisan keluarganya. ''Resep jamu itu kan warisan keluarga, saya tinggal meneruskan. Ini untuk bangsa Indonesia,'' tegasnya. Jamunya sejauh ini baru mampu mendongkrak CD 4 (daya tahan tubuh) pasien AIDS, tapi belum teruji dapat membunuh virus HIV. Namun nasib tentu akan berbicara lain, seandainya di kemudian hari, jamu yang awalnya dirancang untuk menambah kebugaran tubuh itu ternyata mampu mengobati para penderita HIV/AIDS. Maka, bisa jadi Hendra bakal mendapat durian runtuh. Berbekal resep warisan leluhurnya, dia menambahkan sejumlah unsur lain agar menjadi jamu alternatif HIV/AIDS. Ramuan yang sedang dikembangkannya itu kini terdiri atas 12 macam tanaman obat. ''Kakek-nenek buyut saya, usianya bisa mencapai 90 tahun. Mereka rutin mengonsumsi ramuan jamu sehat badan yang resepnya kini diwariskan pada saya itu,'' jelas putra angkat Brigjen TNI (Pur) Saryono itu. Hanya saja, kala itu jumlah tanaman obat yang digunakan hanya sembilan macam. Pengembangan secara serius atas jamu keluarganya itu dilakukan mulai 2004, dan khasiatnya sudah dirasakan oleh anggota TNI AD dan Polri yang menjadi relawan saat terjadi bencana stunami di Aceh. ''Banyak ucapan terima kasih yang kami terima. Kami tahu, dampak tsunami begitu berat, sehingga banyak relawan dari TNI dan Polri yang perlu dukungan ekstrastamina.'' Shinse warga Solo Baru, Grogol Sukoharjo yang telah menekuni pengobatan herbal sejak remaja itu tidak mau gegabah. Agar produk jamunya terlindungi, dan tidak ada masalah di kemudian hari, dia akan bekerja sama dengan Sentra Pengembangan Pemanfaatan Pengobatan Tradisional (SP3T) Jateng yang diketuai dokter Noor Wijaya. ''Ya, kami sudah bertemu dengan Pak Hendra Yauw untuk meneliti jamunya. Pelaksanaannya tinggal menunggu surat dari Depkes di Jakarta,'' ujar dokter muda yang dihubungi secara terpisah. Aman Dikonsumsi Setidaknya, menurut Noor, ada dua hal yang akan diuji, selain soal keamanan untuk dikonsumsi juga tentang khasiatnya. ''Komposisi jamu itu akan diteliti secara cermat.'' Sebagai catatan, sejauh ini Balai POM telah mengeluarkan nomor registrasi (033225111) bagi jamu Sehat Badan Chin Lung yang dibuat Hendra Yauw. Artinya kapsul jamu itu aman dikonsumsi. Namun, untuk dipasarkan secara luas, setiap kemasan jamu itu harus diberi label komposisinya. ''Saya memang belum memberikan label komposisinya, karena masih menunggu hak paten. Selain itu, jamu saya ini belum dipasarkan terbuka,'' kata Hendra yang juga ketua Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Budi Luhur Djien Gie Tong, Sidorejo, Semarang itu. Keinginan dia dalam menggapai mimpinya memang tak berlebihan. Kesuksesan mungkin hanya tinggal menunggu waktu, sebab permintaan jamu Sehat Badan Chin Lung itu terus berdatangan. Permintaan tak hanya dari orang-orang di wilayah sekitar, tapi juga datang dari Kanada dan Jerman. ''Ada dokter dari Jerman dan Kanada yang berniat memasarkan jamu Pak Hendra di negara itu,'' jelas Abu Kumentas, penasihat Hendra Yauw yang tinggal di Radio Dalam Jakarta. Dokter Deradjat Lie, warga Indonesia yang kini berdomisili di Jerman berniat menemui Hendra, pada Februari nanti untuk berbicara khusus soal jamu AIDS. Sedangkan Joseph yang tinggal di Toronto, Kanada menunjukkan ketertarikan serupa. Dia akan datang ke Indonesia pada Maret. ''Mereka berbicara serius dengan saya soal jamu alternatif AIDS,'' tuturnya. Menurut Abu Kumentas, kebijakan pemerintah Kanada menyangkut jamu herbal berbeda dengan Amerika. ''Kalau jamu herbal di Amerika agak sulit masuk, tapi kebijakan di Kanada sangat longgar. Ini kesempatan yang bagus bagi Pak Hendra,'' jelasnya. Selain itu, dia akan meminta Hendra Yauw untuk tetap setia memilih jalur jamu herbal, bukan ke obat. Alasannya, herbal lebih bisa diterima semua kalangan, karena tidak menimbulkan efek samping yang merusak tubuh. (Budi Santoso-60) | ||||