| Kamis, 24 Januari 2008 | NASIONAL |
Semarang-Demak-Kudus Jalur Maut
SEMARANG- Jika melintas di jalur pantura wilayah timur mulai dari Semarang-Demak-Kudus berjarak sekitar 50 km, Anda sebaiknya lebih waspada. Pasalnya, tiap jalur banyak ditemukan lubang dan jalan bergelombang. Pada malam hari, jalur itu bisa menjadi jalur maut bagi pengendara. Pantauan Suara Merdeka, jalanan bergelombang mulai terlihat dari perbatasan Semarang-Demak, yakni di daerah Sayung. Kerusakan merata pada keseluruhan badan jalan itu cukup mengganggu para pemakai jalan. ''Saat melintas di jalan itu, mobil terasa gronjal-gronjal. Kalau tidak hati-hati bisa celaka,'' kata Yanto (35), warga Bae, Kudus yang bekerja di Semarang. Wiwid (33), pengendara sepeda motor asal Semarang yang akan bepergian ke daerah Pati, mengaku hampir terjatuh. "Saya hampir terjatuh karena tidak bisa menghindari lubang," katanya. Beruntung saat itu kecepatannya saat di Sayung tidak begitu tinggi. Kerusakan paling parah terjadi pada ruas jalan antara Gajah (Demak)-Kudus, khususnya di wilayah Karanganyar (Demak). Kerusakan itu tidak hanya jalanan bergelombang, tetapi juga lubang-lubang menganga di badan jalan. Lubang-lubang itu selebar 1 meter sampai 2 meter dengan kedalaman 20 cm sampai 50 cm. Anggoro (42), pengemudi mobil pikup, mengaku as mobilnya patah karena terperosok lubang. ''Waktu itu muatan penuh dan malam hari, tiba-tiba di depan ada lubang,'' kata pengemudi mobil sayur itu. Akibat kerusakan jalan itu, siang hari sering terjadi kemacetan di wilayah Karanganyar. Sebab, pengguna jalan memperlambat laju kendaraan hingga 10 km/jam untuk menghindari lubang. Kemacetan bisa berjam-jam, baik dari arah Semarang maupun Kudus. Saat jalan mulus, Semarang-Kudus bisa ditempuh 45 menit naik mobil pada siang hari, kini memakan waktu hampir 2 jam. Jalur Alternatif Untuk menghindari kemacetan parah, petugas Satlantas Polres Demak memasang rambu petunjuk jalur alternatif di pertigaan Trengguli. Pada rambu itu disebutkan, pengguna jalan dari arah Semarang menuju Kudus disarankan memanfaatkan jalur alternatif melalui Welahan. Begitu pula sebaliknya, dari arah Kudus disarankan melalui Welahan. Kepala Satuan Kerja Non-Vertikal Tertentu (SNVT) Pembangunan Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga Jateng Herman Suroyo menyatakan, kerusakan jalan khususnya dari Demak menuju Kudus lebih banyak karena lebih 10 tahun tidak dilakukan pelapisan. ''Jadinya retak-retak dan pecah. Kondisi itu diperparah dengan rendaman banjir, yang menjadikan aspal menjadi lembek,'' tandasnya. Kerusakan diperparah dengan beban muatan yang lebih dari 20 ton. ''Contoh truk pengangkut semen, rata-rata bebannya 25 ton lebih. Padahal, konstruksi jalan hanya mampu menahan beban maksimal 8 ton. Bisa dibayangkan, kerusakannya apa tidak parah,'' ungkapnya. Beberapa ruas jalan di Kudus, terutama di sebagian jalur lingkar selatan, juga merepotkan pengguna jalan. Sebagian ruas jalan lingkar selatan dari arah Pati - Semarang sampai dengan saat ini masih ditutup. Penyebabnya, kondisi jalan di kawasan tersebut rusak berat. (H9,H37,H7,H40,J18,H8-60) | ||||